Second Chances : Indonesian Football Player

Second Chances : Indonesian Football Player
Chapter 30 : Kvensonn Brother


__ADS_3

Matahari telah tenggelam lebih rendah di langit, cahaya siang menghilang, memberi jalan pada kegelapan malam yang seperti beludru.


Aku sedang berjalan pulang dengan bahu sedikit terkulai dan wajah yang menampakkan sedikit kesedihan. Aku sedang mengulang percakapanku dengan Pak Thorgan setelah pertandingan.


Aku baru mengetahui bahwa aku tidak akan bisa bergabung dengan panggung sepak bola professional sampai aku berusia 18 tahun. Itu berarti aku masih punya waktu satu tahun dan beberapa bulan lagi sebelum aku bisa bermain secara resmi di Belgia.


Para birokrat FIFA yang berbasis di Zurich, telah membuat peraturan baru untuk melarang transfer talenta muda dari negara berkembang, yang mengklaim untuk melindungi hak-hak anak di bawah umur. Jujur saja aku sedikit terkejut dengan peraturan ini, karena di kehidupanku sebelumnya aku tidak mendengar peraturan ini berlaku pada tahun ini.


Dengan aturan baru FIFA ini, aku tidak mungkin bisa mendapatkan izin bermain sebelum aku berumur 18 tahun di kompetisi resmi professional. Walau begitu aku ingat bahwa beberapa klub papan atas seperti Chelsea, telah membuat marah badan sepak bola dunia karena mereka merekrut anak di bawah umur selama kehidupanku sebelumnya.


‘Hahh sepertinya aku harus menunda rencanaku sebentar.’ Renungku sedikit kecewa.


Aku berharap bisa bergabung dengan tim U-19 setelah bermain bagus hari ini. Kemudian aku akan mendapatkan banyak waktu bermain dan membangun keterampilan dan pengalamanku dalam pertandingan resmi. Namun semua itu tidak mungkin lagi karena aturan baru dari FIFA ini.


‘Mungkin, aku bisa fokus pada pelatihan pribadi aku selama periode ini.’ Pikirku.


Aku tertarik untuk melatih beberapa keterampilan baru yang akan menguntungkan karierku. Namun, aku selalu sibuk mempersiapkan uji coba di Jakarta dan kemudian langsung pindah ke Belgia. Namun sekarang aku punya banyak waktu untuk mengasah keterampilanku.


Dengan fasilitas yang ada di sini, aku bisa meningkatkan kebugaran fisikku dan menyempurnakan teknikku ke tingkat yang lebih tinggi. Tujuanku adalah untuk mengubah Sebagian besar atributku menjadi A dalam waktu satu tahun. Dengan system yang kupunya, aku yakin aku bisa menjadi salah satu yang terbaik di Belgia pada saat aku memulai debutku di Anderlecht.


Setelah beberapa menit perjalanan lagi, aku berhasil sampai ke desa pelajar tempat aku tinggal. Dengan rencana yang sudah kupikirkan, aku dapat menaikkan moodku Kembali.


Saat aku hendak memasuki apartemen, aku terkejut mendengar beberapa suara asing dari balik pintu. Saat aku membuka pintu aku melihat dua orang bule berambut pirang duduk di satu sisi meja makan. Sedangkan Ryandi duduk di salah satu kursi lainnya, kelihatannya mereka sudah akrab dan sedang asik mengobrol.


“Wah, sudah datang bintang kita.” Kata salah satu pemuda tersebut saat melihat aku berdiri di ambang pintu. Dia berdiri dan bergegas ke arahku sebelum mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Senang bertemu denganmu. Aku Stefan Kvensonn.” Katanya sambil tersenyum kepadaku.


“Nero Juniar, senang bertemu denganmu juga.” Kataku sambil membalas jabat tangan Stefan. Aku melihat ke arah Ryandi untuk meminta klarifikasi. Aku ingin tahu siapa orang asing di apartemen kami ini.


Stefan menyadari kebingunganku dan menyenggol Ryandi sebelum berbicara.


“Kami adalah dua teman serumahmu yang lain, aku berada di kamar nomor 1 dan Damon di sini berada di kamar lainnya.” Katanya sambil tertawa.


“Oh. Jadi kamu adalah dua pemain akademi dari Norwegia.” Kataku saat teringat bahwa Pak Thorgan pernah menyebutkan sesuatu tentang teman serumah kami dari Norwegia sedang pergi berlibur.


Sejujurnya aku sedikit terkejut. Anak laki-laki di depannya lebih mirip seorang model daripada atlet. Rambut pirang pendek sedikit keriting dan acak-acakan cocok dengan alisnya yang melengkung dan tulang pipinya yang tajam bersudut sempurna.


“Ya, itu kami.” Jawab Stefan sambil menunjuk hidungnya yang mancung. Sepertinya Stefan adalah seorang yang ceria dan suka bersenang-senang.


“Kami sudah berada di Brussels selama satu tahun. Kami baru saja pergi berlibur. Kami menonton pertandingan kamu, dan solo run anda benar-benar Ajaib. Bagaimana kamu bisa melakukannnya.?” Katanya bertanya.

__ADS_1


Namun sebelum aku sempat menjawab, anak laki-laki lainnya Damon memotongku.


“Stefan, beri dia waktu istirahat. Dia baru saja selesai bertanding, dia pasti lelah.” Katanya.


Dia berdiri dan berjalan ke arahku


“Damon Kvensonn. Senang bertemu denganmu.” Katanya sambil mengulurkan tangannya. Damon tampak seperti salah satu tipe hippie modern, dengan rambut pirang panjang sebahu yang membingkai wajahnya. Dia juga mempunyai jenggot yang acak-acakan dengan mata biru lautnya dan sikapnya yang tenang dan bijaksana tampaknya mengkomunikasikan kepolosan tertentu tentang dirinya.


“Senang berkenalan denganmu juga.” Kataku sambil menjabat tangannya.


“Kalian berdua bersaudara.” Kataku penasaran.


Keduanya memiliki mata biru laut dan memiliki nama belakang yang sama. Namun sifat mereka sangat berbeda. Damon lebih tinggi dan lebih berotot daripada Stefan. Aku tidak bisa dengan mudah memastikan apakah mereka kerabat dekat hanya dari penampilan mereka.


“Ya benar, apakah kita mirip.” Kata Stefan dengan cepat sambil melingkarkan tangannya di bahu Damon yang lebar. Yang terkahir mendorongnya pergi sebelum Kembali ke tempat duduknya.


“Sungguh membosankan.” Gumam Stefan, menggelengkan kepalanya seperti orang tua.


Dia berbalik menghadap ke aku dan bertanya “ Apakah kamu sudah makan.?”


“Belum.” Jawabku. Karena Pak Thorgan telah memanggilku tepat setelah pertandingan, aku tidak sempat makan-makanan ringan pasca pertandingan bersama tim.


“Bagus, ayo makan bersama. Aku sudah memasak Lasagna.” Kata Stefan sambil bertepuk tangan dengan semangat.


Ryandi, adalah seorang yang sangat blak-blakan, setelah menggigit lasagna,keju dengan sayuran hijau gelap. Dia tersenyum dan berkata.


“Stefan, ini sangat enak.” Katanya dengan semangat.


Dengan seringai kekanak-kanakan, pria Norwegia itu mengangkat alisnya dan berkata.


“Jelas, makanan apa pun yang saya sentuh adalah karya seni.” Katanya. Dia tampak seperti salah satu dari anak laki-laki cantik yang narsis yang biasanya menggertak orang di film-film sekolah menengah.


“Jadi kalian dari Asia.?” Tanyanya


“Ya. Lebih spesifiknya di Indonesia.” Kata Ryandi setelah menelan makanannya.


“Oh apakah dekat dengan Bali.?” Katanya bersemangat.


Mulutku sedikit berkedut setelah mendengar pertanyaan Stefan. Banyak orang luar mengetahui Bali, namun mereka tidak tahu bahwa Bali itu ada di Indonesia.


“Ahaha, Bali itu salah satu daerah di Indonesia.” Kata Ryandi sambil tertawa.

__ADS_1


“Oh, aku tidak tahu, hahaha.” Kata Stefan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Jadi, kalian bermain di posisi apa.” Tanya Ryandi.


“Aku bermain sebagai penyerang dan pemain sayap.” Kata Stefan sebelum melihat ke arah Damon yang dengan tenang sedang memakan makanannya. Anak laki-laki itu lebih banyak diam hampir sepanjang malam.


“Kiper” jawab Damon setelah menyadari bahwa saudaranya sedang meliriknya.


“Bagaimana dengan kamu.?” Tanya Stefan ke arah Ryandi.


“Aku bisa bermain di kedua sisi sayap.” Kata Ryandi.


“Apakah kamu sebaik Nero?” tanya Stefan, matanya menatap Ryandi dengan penuh harap.


“Belum. Tapi aku akan segera menyusulnya.” Ryandi menghela nafas dan tersenyum sedih.


“Itulah semangatnya, bro. Aku juga sama. Aku ingin bergabung dengan Anderlecht U-19 sesegera mungkin. Omong-omong, Ner, nomor berapa yang kamu dapatkan di tim U-19.?” Tanyanya sambil menatap aku yang duduk di seberangnya. Damon dan Ryandi juga melirikku dengan mata berbinar harapan.


“Aku belum bergabung dengan U-19….” Aku lalu menjelaskan seluruh peraturan FIFA tentang tidak mengizinkan pemain asing U-18 untuk mendapatkan lisensi professional jauh dari negara asal mereka.


“Sial, itu tidak adil.” Teriak Ryandi saat mendengar penjelasan aku.


“Jangan khawatir tentang lisensi untuk sementara waktu.” Kata Stefan menghibur.


“Kami telah berada di sini selama lebih dari setahun, namun kami tidak memiliki prospek untuk menerima lisensi sebelum kami berusia 18 tahun. Klub Belgia sangat ketat, terutama dengan aturan tentang anak di bawah umur.


“Tapi yakinlah bahwa waktumu di sini akan berlalu sangat cepat. Kamu harus menghadiri Pendidikan sekolah menengah wajib di sini di Brussels sambil juga menjalani pelatihan sehari-hari yang sibuk di akademi.” Katanya.


“Kalian berdua berada di sekolah menengah atas, benar kan.?” Tanyaku.


“Ya. Kami bersekolah di Brussels International School. Ini adalah sekolah tempat RSCA Youth Academy mengirim siswanya untuk Pendidikan akademis mereka. Para pelatih kemungkinan besar akan mengirim kalian ke sana setelah kalian menyelesaikan prosedur pendaftaran akademi kalian.” Jelasnya.


“Apakah kita harus lulus semua mata pelajaran untuk tetap di akademi.” Tanya Ryandi sambil mengerutkan keningnya.


“Ya. Kamu setidaknya harus berprestasi di atas rata-rata untuk tetap mendapat beasiswa. Tapi jangan khawatir. Sekolah telah merancang jadwal belajar kita agar sesuai dengan jadwal pelatihan kita. Ini memiliki inisiatif kolaboratif dengan Anderlecht untuk melatih bakat sepak bola muda di Brussels.” Katanya dengan tegas.


Pria asal Norwegia itu kemudian menjelaskan jadwal pelatihan di akademi kepada aku dan Ryandi. Selain Latihan sepak bola rutin setiap hari, para pemain memiliki kesempatan untuk mengikuti pemusatan Latihan Internasional dan kompetisi U-17 jika mereka tampil baik . Tim RSCA Youth Academy bahkan pernah berpartisipasi di SIA Cup of Valencia dan Riga Cup of Latvia pada tahun sebelumnya. Pada kompetisi tersebut, ada tim junior dari klub papan atas seperti Chelsea,Ajax dan Valencia yang berpartisipasi.


Aku senang dengan paket yang ditawarkan oleh akademi dan tidak sabar untuk memulai pelatihannya.


Setelah makan enak dengan teman serumah baruku, aku Kembali ke kamar untuk beristirahat setelah memberi kabar kepada orang tuaku dan mempersiapkan untuk tidur, karena besok kami akan melakukan penddaftaran akademi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2