Sejarah Kelam

Sejarah Kelam
10. Rencana Masa Depan


__ADS_3

Risma dan Dika hanya terdiam saat Pak Suryo menggenggam tangan mereka berdua dan menyatukan dalam pangkuannya dan berkata " Berjanjilah setelah kelulusan Risma, kalian berdua segera menikah! " pinta Pak Suryo dengan serius kepada Risma dan Dika.


Dika dan Risma hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan Pak Suryo yang sungguh sungguh menginginkan agar mereka berdua menikah. Semua orang yang ada di ruangan itu merasa bahagia, kecuali dokter Danu, hatinya hancur luluh. Karena melihat wanita yang dia cintai akan menikahi laki-laki lain.


***


Sementara itu, di rumah Tiara. Teman teman Risma sudah pada khawatir, karena Dika sang kakak yang ditugaskan untuk menjemput tak kunjung datang juga. Sania tampak menelpon Dika tapi tidak juga di angkat.


Tiara menelpon Risma juga tidak di angkat. Akhirnya Asad menelpon sekretaris Burhan dan mendapatkan info bahwa Dika dan Risma tengah menemani Pak Suryo yang sedang sakit parah.


" Ok, terima kasih sekretaris Burhan atas infonya, selamat malam!" selanjutnya Asad menutup telpon dan menyambut Tiara yang menghampiri dan bertanya tentang kabar Risma dan kakaknya


" Om Suryo sakit dan mereka berdua sedang menemani. Sebaiknya kita belajar tanpa Risma!" kata Asad sambil mengambil pulpen dan mulai sibuk dengan belajar bersama.


" Adrian jangan pelit nanti kalau pas ujian," seru Sania dengan tatapan mengancam.


Adrian dengan santai menjawab, "Kalau mau mencontek, lalu buat apa sekarang kita susah susah belajar??" mendengar jawaban Adrian , yang lain tersenyum dan menyetujui pendapat Adrian.


" Ayo kita buktikan ke orang tua kita! Kalau kita belajar bersama tidak sia-sia!" ucap Tiara dengan penuh semangat. Adrian terpukau melihat semangat menggebu dari wanita yang sudah lama menjadi pujaannya itu.


Hari sudah malam dan mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat itulah bunyi handphone Tiara, dari Dika " Tiara, tolong sampaikan ke mamah. Mas Dika tidak pulang malam ini. Pak Suryo sedang sakit, dan dia meminta kakak untuk menginap di rumahnya!" Tiara nampak kaget mendengar sang kakak akan menginap dirumah Risma.


"Memang kenapa kak? Pak Suryo baik-baik sajakan?" Tiara tampak khawatir.


Sania yang mendengarkan kabar bahwa Dika menginap di rumah Risma mendadak kecut hatinya, seperti ada palu godam yang memaku hatinya seketika.

__ADS_1


" Kenapa Kak Dika menginap di rumah Risma?" ada perasaan cemburu di hati Sania. Tapi kalau di ingat kembali, jasa keluarga Risma, hati Sania menjadi malu. Bukan satu dua kali keluarga dia berhutang budi dengan keluarga Risma yang memang sangat baik kepada keluarganya.


Ayah Sania pernah menjadi supir pribadi Pak Suryo. Karena menderita sakit jantung yang lumayan parah, makanya ayahnya berhenti.


Tapi keluarga Pak Suryo kadang-kadang masih mengirimi mereka uang untuk sekedar memberi uang jajan untuk anak-anaknya. Alasan Pak Suryo waktu Ayah Sania menolak menerima kebaikan keluarga nya.


Risma mengingat kembali, saat ayahnya dulu harus dioperasi dan tidak mempunyai uang untuk biaya, tanpa diminta Risma memberikan uang untuk biaya operasi ayahnya


" Apakah Mas Dika dan Risma mempunyai hubungan sedekat itu sehingga memungkinkan baginya untuk menginap di sana?" batin Sania dengan perasaan ruwet dan cemburu.


Malam itu Sania tidak bisa tidur, membayangkan apa yang sedang Dika lakukan di rumah Risma, gelisah sampai pagi.


Sementara itu, Dika di kamar tamu rumah Risma juga sama, tak bisa tidur. " Bagaimana ini? Aku mencintai Sania. Tapi keputusan Pak Suryo untuk pernikahanku dan Risma, tampaknya tak bisa di ganggu gugat lagi!" bathin Dika yang galau sekali, di bukanya handphone dia, banyak panggilan tidak terjawab dari Sania.


***


" Pagi itu saya melihat Dika dan Risma tampak dekat sekali. Apakah mereka mempunyai hubungan yang sangat dekat?" tanya Asad pada sekretaris Hendra.


" Tuan muda, mereka berdua sudah diputuskan akan menikah setelah kelulusan nona Risma!" mata Asad tampak bahagia


" Benarkah sekretaris Hendra?? Saya bahagia mendengar itu! " ucap Asad sambil meminum tehnya sambil tak berhenti tersenyum penuh arti.


Sekretaris Hendra mengamati raut wajah tuan mudanya yang tampak bahagia dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri.


Asad akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sang paman di rumahnya, dengan mobil sport kesayangannya. Asad pergi ke rumah Risma dengan hati riang gembira.

__ADS_1


Saat melihat Dika masih di sana, Asad menyapanya dengan lembut " Selamat pagi Kak Dika. Bagaimana kabar om saya???" Dika menyambut tangan Asad dan tersenyum dengan ramah sambil mempersilahkan Asad untuk masuk ke dalam.


"Alhamdulillah sudah membaik!" mereka akhirnya masuk dan menyapa Pak Suryo yang sudah tampak segar. Risma masih sibuk di kamarnya mau siap siap berangkat ke sekolah.


Melihat Asad sudah sampai ke rumah untuk menjemputnya. Risma tampak senang dan segera membereskan perlengkapan sekolahnya.


" Risma, biar Dika yang mengantar kamu ke sekolah, agar kalian bisa lebih dekat dan bisa saling mengenal satu sama lain!" pinta Pak Suryo dengan suara lemah.


" Papah, Risma sama Kak Dika sudah kenal lama. Hanya memang baru bertemu di rumah ini sama Papah!" Risma tampak canggung namun berusaha memberikan senyum cerah kepapa papahnya.


" Benar Pak Suryo! Risma adalah sahabat adik saya. Dia juga sering mneginap di rumah saya bersama semua geng mereka! " jawab Dika dengan tenang. Padahal hatinya sedang berdebar sangat kencang saat ini.


Demi mendengar yang dikatakan Dika, Pak Suryo sangat senang. Itu artinya misi dia untuk membuat mereka berdua menikah akan berjalan dengan mulus.


" Papah tidak perduli sayang! Yang jelas sekarang papah mau kamu berangkat ke sekolah bersama Calon Suami kamu. Sudah berangkat sana! Oh ya, jangan banyak membantah keinginan papah!" Pak Suryo memutuskan dengan tegas.


" Baik om, tidak masalah. Asad berangkat sekarang ok, cepat sembuh ya?" Asad mencium telapak tangan Pak Suryo dan pergi dari rumah Risma dan meninggalkan Risma bersama Dika.


Seperti perintah Pak Suryo. Dika akhirnya mengantarkan Risma ke sekolah. Walaupun kenal Dika sudah lama. Namun ini adalah kali pertama Risma semobil berdua saja dengan Dika.


" Kak Dika, tolong maafkan Papah ya? Beliau suka sekali memaksakan kehendak sama semua orang, kadang jadi bikin malu!" Risma memainkan tali tasnya karena merasa malu, duduk sedekat itu dengan Dika, cukup membuat jantungnya berdetak sangat kencang dan membuat Risma gugup bukan kepalang. Dika hanya menggeleng.


" Tidak apa-apa, saya dapat mengerti. Oh ya, bagaimana menurut kamu, masalah ide Pak Suryo yang ingin menjodohkan kita berdua?" tanya Dika dengan serius sambil melihat pada Risma yang masih menundukkan kepalanya.


" Kalau Risma setuju saja, asal membuat Papah bahagia. Papah pasti tidak akan salah memilih calon suami buat Risma!" jawab Risma pelan dan menundukkan kepalanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2