Sejarah Kelam

Sejarah Kelam
32. Hotel


__ADS_3

Adrian memasuki kamar hotel VVIP milik keluarganya. Di kamar itu dia tampak menangis. Tidak ada yang tahu, betapa hati Adrian saat ini sangat terpukul dan sakit sekali. Terbayang kembali, kemesraan mereka berdua di taman sore itu.


" Mereka bahagia. Setidaknya Asad akan memberikan kebahagian untuk Tiara," rintih Adrian. Karena sangking lelahnya. Adrian terlelap di kursi depan televisi.


Seharian berkeliling kota mencari Asad dan Tiara sungguh membuat badan Adrian drop total. Apalagi bathin dia yang tertekan karena harus kehilangan gadis yang sangat dia cintai.


Semenjak SMP Adrian sudah mencintai Tiara dalam diam. Saat kelulusan SMA, baru memiliki kebaranian untuk mengungkapkan rasa cintanya. Asad yang paling tahu semua cinta Adrian, karena Asadlah tempat satu- satunya curhat Adrian selama ini kalau bercerita tentang Tiara. Betapa cantiknya Tiara, betapa manis Tiara, betapa wanita itu telah mencuri banyak malam-malamnya dalam kerinduan.


Hari sudah siang, tapi Adrian masih terlalap. Pelayan yang menyiapkan sarapan sudah datang. Melihat Adrian masih terlelap. Dia tidak berani mengganggu. Hanya meninggal kan sarapan Adrian di meja depan Adrian terlelap dengan sangat nyenyak.

__ADS_1


Hotel itu adalah milik keluarga Adrian. Jadi dia bebas menggunakannya. Selama beberapa hari Adrian hanya mengurung diri di kamar. Hanya melamun dan tidak punya gairah untuk melanjutkan hidupnya. Semua terasa kosong.


Terdengar suara handphone berbunyi. Adrian melihat siapa yang pagi-pagi sudah menelponnya. Mamah, bathin Adrian. Lalu mengangkat telponnya.


" Iya mah, Adrian di hotel kita mah. Iya, besok Adrian kembali. Ya, terserah mamah. Atur saja," Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke London dan menerima perempuan yang akan dijodohkan oleh orang tuanya.


Setelah meminta dipesankan tiket untuk besok kepada sekretaris ayahnya Adrian mai menata kembali hatinya. Tidak boleh terlalu lama terjerat dalam kesedihan ini.


Adrian berniat sekedar mampir ke kantor management hotel. Dan sekedar melihat saja. Tidak mau melakukan apapun.

__ADS_1


Melihat putra pemilik hotel mengunjungi kantor management, semua ribut. Menyambut Adrian yang walaupun wajahnya masih tampak kusut masai karena terlalu lama mengurung diri di kamar hotel. Tapi ketampanan Adrian tidak surut.


Masih sanggup membuat geger para karyawan hotel yang siang itu bertugas. Mereka bisik-bisik dan mengagumi ketampanan putra pemilik hotel tempat mereka bekerja. Adrian hanya menikmati saat-saat itu. Saat mata mereka yang menatap dia penuh kagum dan simpati.


" Bagaimana kabar paman?" tanya Adrian mengapa Presiden Direktur yang di tunjuk oleh palahnya untuk mengelola hotel mereka tersebut . Pak Setya yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri kepada hotel keluarga Adrian.


Orang kepercayaan Papah Adrian. Adrian sudah kenal pak Setya sejak dia kecil. Dia adalah orang yang jujur dan baik hati. Tidak salah kalau papahnya menunjuknya sebagai wakil dalam mengelola hotel mereka.


" Baik Alhamdulillah Tuan muda," jawab Pak Setya dengan penuh hormat.

__ADS_1


"Panggil Adrian saja paman, saya lebih senang dengan panggilan itu" ucap Adrian santai sambil duduk di kursi kebesaran Presiden Direktur.


Pak Setya diam saja, tidak protes dengan apa yang dilakukan Adrian, karena memang seharusnya itu adalah tempat Adrian. Kalau saja dia tidak menolak jabatan itu, tidak mngkin dia di tunjuk ayah Adrian sebagai Presiden Direktur hotel bintang lima tersebut.


__ADS_2