
Asad melihat Tiara yang masih terlelap di kasurnya. Senyum bahagia terpancar di bibir Asad. Asad menutup tirai jendela, agar sinar matahari tidak mengganggu tidur Tiara. Asad sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
" Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Tiara waktu membuka matanya, pertama yang di lihat adalah Asad yang tengah asyik masyuk memperhatikan wajahnya sambil tiada henti mengelus wajah cantiknya.
" Bahkan saat kau tertidur, kau bagaikan bidadari. " puji Asad tersenyum. Dan memberikan kecupan kecil di sudut bibir Tiara. Tiara mendorong Asad dengan pelan, Asad memasang wajah protes dan bertanya, kenapa Tiara mendorong dirinya.
" Aku belum mandi, malu ah.. masih bau dan jelek!" rajut Tiara, saat mau beranjak dari kasur, Tiara lupa kalau dia tidak berbusana. Asad terkesiap seketika.
Tiara segera menarik selimut dan membawanya ke kamar mandi. Ada noda darah di sprai mereka, itu adalah tanda keperawanan Tiara, yang tekah di berikan keadaan Asad, selaku suaminya kini.
" Aku sekarang adalah seorang istri sah Asad Mahardika." bathin Tiara bahagia. Tiara menatap tanda darah itu dengan senyum bahagia. Engkau ku persembahkan hanya ke pada suamiku, yang halal bagiku, bathinnya.
" Sayang, kenapa lama sekali? ayo kita sarapan." panggil Asad dari dapur.
__ADS_1
" Ya,tunggu. Saya sholat shubuh dulu," jawab Tiara. Setelah selesai Tiara segera menyusul Asad yang sudah menunggu di ruang makan.
" Wow.. Istriku adalah yang paling cantik!" Asad mendekatkan hidungnya, dan mencium aroma wangi rambut Tiara. Dan mencecapnya dengan khidmat.
Pagi itu mereka berdua berjalan-jalan sekitar Villa. Pada saat Sekretaris Burhan dan Dika sampai ke villa tempat mereka tinggal.
" Sayang, itu sepertinya kak Dika sama Sekretaris Burhan.. Ayo kita sambut mereka." ajak Tiara sambil menggandeng tangan Asad.
Asad mengikuti Tiara di sampingnya sambil tiada hentinya tersenyum ke arah Tiara. Tidak ada yang ditakutkan lagi Asad. Tiara sudah menjadi istrinya yang sah. Asad juga sudah berhasil merengkuh Tiara dalam pelukannya.
Tiara yang melihat segera menarik tangan Asad dan berdiri di hadapannya. Melindungi Asad dari amuk sang kakak yang kini tengah di landa emosi besar.
" Minggir Tiara! Kakak harus memberi hajaran yang keras kepada bajingan ini. Dia sudah berani sekali menculik dan mema
__ADS_1
ksa kamu untuk menikahi dia. Padahal dia jelas tahu kalau kamu sudah punya calon suami," Kak Dika sudah bingung harus berkata apa lagi.
" Maafkan saya Mas Dika, ini memang salah saya. Mas Dika boleh menghajar saya sampai mati, kalau itu bisa memuaskan amarah Mas Dika," ucap Asad sambil menundukan wajah.
" Enak saja,menghajar kamu sampai mati itu sangat terlalu enak buat kamu. Masa Tiara harus menjadi janda di hari ke dua pernikahan dia? Apa kau pikir saya kakak yang tidak punya otak?" demi mendengar apa yang kakaknya katakan.
Tiara menghambur ke pelukan sang kakak. Tiara tahu,sejak papah mereka meninggal. Kakaknya ini sudah berkorban banyak bagi keluarga mereka.
Kak Dika selalu mementingkan semua kebutuhannya dari pada dirinya sendiri. Tiara sangat sayang kepada kakaknya ini. Begitu pula dengan Dika. Mereka berpelukan dengan penuh haru dan kasih sayang.
Mereka akhirnya masuk ke Villa Dika, yang walaupun kecil namun sangat asri dan sejuk. Dika berjanji akan menutupi keberadaan mereka berdua dari Adrian.
Begitu pula Sekretaris Burhan. " Mulailah hidup baru kalian di sini. Kami akan menyampaikan kepada keluarga Adrian, kalian sudah menikah dan tidak tahu keberadaan kalian sekarang." ucap Dika sambil mengelus tangan adiknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
" Berjuang demi hidup yang baik, dan hidup bahagia. Jalan ini yang kalian pilih, maka jalanilah dengan baik. Buktikan kepada kami, kalian tidak salah memilih jalan berliku yang kalian tempuh ini." setelah menyampaikan apa yang mengganjal di hati Dika meninggalkan villa pribadi Asad.