
Waktu ujian akhir sebentar lagi. Semua murid sibuk dan rajin belajar, Tidak terkecuali dengan Tiara cs.
Siang ini mereka berjanji akan bertemu di rumah Tiara untuk belajar bersama dalam rangka menyiapkan ujian akhir sekolah. Semua sudah datang, kecuali Risma.
Tiara dari tadi sudah kalang kabut karena gak biasanya itu anak terlambat datang ke rumahnya untuk belajar bersama. Secara, Tiara paham betul kalau Risma itu jatuh cinta sama kakak kesayangannya, Kak Dika.
" Kok tumben banget ya, noh bocah centil terlambat? Asad! Hubungin dong sepupu kamu. Gue khawatir ada apa-apa sama Risma. Masalahnya kagak biasa Risma telat kayak gini deh, kalau urusan belajar bersama di rumahku" pinta Tiara kepada Asad yang dari tadi hanya terpesona melihat kecantikan Tiara yang tengah bingung itu, Asad hanya bengong, membuat Adrian jadi gak enak melihat itu.
Bukan rahasia umum, kalau Adrian jatuh cinta sama Tiara. Walaupun di kelas mereka adalah pesaing sejati dan selalu berebut posisi juara kelas. Akan tetapi mereka melakukan persaingan itu dengan sportif tanpa menjatuhkan atau saling membenci seperti kebanyakan orang.
Mereka berdua malah selalu pergi keperpustakaan bersama dan belajar kelompok bersama. Membuat seluruh sekolah merasa yakin bahwa mereka adalah pasangan serasi dan kompak banget, yang satu cantik dan pintar, dan yang satu lagi tampan dan jenius.
" Biar gue jemput aja ya, ke rumah Risma? Tadi sih sebelum pulang sekolah. Risma udah bilang ke gue, kalau ada masalah di rumah dia. Papahnya lagi agak sakit, jadi dia harus menunggu papah dia. Dia bilang akan sedikit terlambat, karena nunggu dokter pribadi papahnya yang dalam perjalanan dari Bandung. Paling sebentar lagi dokter pribadi papah Risma datang, gimana?"usul Asad pada semua orang.
Yang lain tampak agak khawatir juga dengan Risma" Teman-teman apa kita ke rumah Risma aja?? Sekalian jenguk om Suryo." Ide Tiara kepada teman temannya. Namun Asad segera menyanggah ide Tiara.
" Jangan! Risma sudah bilang ke gue. Jangan ke rumah dia, karena dia lagi ribet disana. Biar gue jemput saja ok??" Tiara tampak cemberut.
Walaupun tahu Asad itu sepupu Risma, tapi tetap saja ada perasaan gak enak, mengganggu hatinya, saat Asad bilang mau menjemput Risma di rumahnya.
__ADS_1
Di luar, suara mobile alpard milik Dika terdengar halus. Saat masuk ke area pekarangan rumahnya yang asri. Walaupun tidak mewah untuk ukuran seseorang Direktur Eksekutif sebuah perusahaan, namun cukup besar untuk ukuran hanya ditempati oleh empat orang saja.
Rumah itu adalah peninggalan papah Dika, dan Dika bersikeras tidak mau menjual atau pindah dari rumah itu.
" Ini adalah peninggalan papah, penuh memory indah saat keluarga kita masih utuh. Apapun akan Dika lakukan untuk tetap menjaga rumah ini!" janji Dika saat itu di saat peringatan kematian sang papah kepada mamahnya, karena waktu itu paman dia menyarankan untuk menjual rumah itu. Karena tidak tega melihat kakaknya selalu sedih dan murung mengingat sang suami yang telah meninggal itu.
Tiara senang sekali melihat sang kakak sudah kembali dari kantornya.
" Kak Dika, bisa minta tolong gak? Sekali ini saja please!" bujuk Tiara memohon, Dika hanya tersenyum melihat ulah adeknya.
" Ada apa? Katakan saja! Gak usah berakting, kakak sudah hapal dengan semua kelakuan kamu. Ada apa??" tanya Dika sambil menyapa teman -teman Tiara yang tenang dan tampak membaca buku dihadapan mereka.
Saat mendengar adeknya bicara lagi Dika hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum simpul di bibirnya, menambah ketampanan wajahnya, " Mau tolongin apa ga? Kalau gak, bilang saja!" rajut Tiara kepada kakaknya yang tampak sangat lelah setelah pulang bekerja.
" Mau minta tolong apa? Sejak kapan memang kakak kamu ini tidak mau menolong kamu?" semua yang ada di sana terlihat tersenyum melihat adegan manja Tiara pada Dika, terutama Sania, dia tampak tersipu saat Dika menyapa dia lewat tatapan matanya.
" Tolong jemput Risma di rumah dia. Kami disini kagak bisa jemput dia atau pergi kerumahnya. Kami semua harus belajar disini, kakak tahu kan? Kalau ujian sebentar lagi, dan kami gak mau malas-malasan!" Dika baru datang dari kantor, dan masih terasa lelah tapi dia masih bisa tersenyum ketika mendengar sang adik manjanya memintanya untuk pergi lagi. Padahal tadi dikantor dia sudah berencana mau tidur sampe besok pagi untuk istirahat total.
" Tiara, kakak kamu baru pulang, biar gue aja yang jemput Risma, kagak apa-apa, bener deh! Kasihan mas Dika! Dia pasti capai dan mau istirahat!" usul Asad namun Tiara malah mengejar kakaknya ke kamarnya.
__ADS_1
" Adrian kamu atur, biar teman-teman belajar dengan benar! Aku mau bicara dan bujuk Mas Dika dulu!" ucap Tiara sambil pergi ke kamar Dika. Ada apa sebenarnya sama Tiara? Tiara jelas mau banget kakaknya pergi ke rumah Risma.
" Ayolah kak Dika, please!" bujuk Tiara lagi, namun Dika masih memikirkan apa harus menolong untuk menjemput Risma atau tidak, tadi sekilas Dika melihat raut tak senang di wajah Sania.
Walaupu belum ada kata sepakat, namun Dika sudah menunjukan kalau dia ada rasa dengan Sania. Makanya Dika agak berat hati, bagaimana kalau dia menjemput Risma, dan Sania jadi marah dengan dirinya?? Bisa berabe urusannya.
Walaupun Dika masih berusia 30 tahun, tapi dia belum pernah berpengalaman dalam urusan pacaran dan perempuan. Dika pernah mengutarakan perasaan dia kepada Sania, namun Sania meminta Dika untuk menunggu dia sampai lulus kuliah. Dan Dika menyanggupi itu.
" Ayolah ka!" pinta Tiara kembali. Dika merasa kasihan juga melihat adiknya mengejar dia terus, bukannya belajar di depan sama teman teman dia, " Baiklah,kakak ganti baji dulu, kamu belajar sana sama teman kamu, nanti kakak jemput Risma di rumahnya. " akhirnya Dika menyerah juga.
Tiara sangat senang sekali dan langsung memberikan hadiah cium pipi untuk sang kakak tercinta. Tiara langsung bergabung sama teman temannya dan serius belajar.
Setelah selesai mengganti baju, akhirnya Dika pergi ke rumah Risma. Walaupun dengan berat hati, namun sampai juga ke rumah Risma yang ada Di kawasan elit Bintaro. Perumahan mewah, khusus para konglomerat. " Wah, serem juga rumah sahabat adikku yang cantik ini. Orang kaya raya ternyata," bathin Dika sambil keluar dari mobilnya.
Dika merasa takjub dengan kemewahan rumah Risma, padahal penampilan Risma selalu bersahaja tak nampak orang kaya, Risma selalu menolak pengawalan ketat dari sang ayah, risih katanya. Dika menekan bel pintu dan pengurus rumah yang membukakan pintu rumah.
" Maaf, Rismanya ada??" tanya Dika to the point, " Tuan Dika ya?" Dika mengangguk
" Masuk tuan, non Risma sudah menunggu, nanti saya pangilkan, " Dika pun masuk ke dalam rumah Risma yang super mewah itu.
__ADS_1