
Tiara memutuskan untuk mengikuti permainan yang tengah di mainkan oleh Asad untuk dirinya. " Apa Asad menculik aku ya?" bathin Tiara agak bingung.
Setelah mandi dan mengerjakan sholat shubuh, Tiara segera pergi ke dapur. Melihat apa ada sesuatu yang bisa dia masak untuk sarapan. Tiara membuka lemari es dan tersentak. Sangat banyak bahan makanan di sana. Dan itu cukup untuk seminggu.
" Wah.. Asad luar biasa. Dia tampaknya sudah merencanakan ini dengan matang. Dia bahkan sudah menyiapkan banyak sekali persediaan makanan dan minuman," Tiara menggeleng dan takjub dengan usaha Asad.
Setelah memutuskan akan memasak apa, Tiara mulai memasak sarapan untuk mereka berdua. Tiara tidak jago masak, tapi dia pernah belajar sama mamahnya dan bi Imah. Masakan Tiara tidak buruk, hanya masih standar masakan biasa saja.
Tapi Dika selalu memuji masakan Tiara, apalagi kalau Tiara sudah memasak Sop Ayam, Dika bisa menambah makan banyak sekali. Kakak beradik itu saling menyayangi.
Pagi itu, Asad terbangun saat mencium bau masakan dari arah dapur. Asad bangkit dan memeluk Tiara dari belakang, sambil mencium tengkuk Tiara. " Istriku pintar memasak, sedap sekali baunya" puji Asad.
" Kita belum resmi menikah oiii!!" teriak Tiara di kuping Asad. Namun Asad membalas teriakan Tiara dengan ciuman hangat yang membuat Tiara kehabisan napas.
Asad tertawa, karena Tiara tidak menolak ciuman darinya. Itu artinya Tiara memang mencintai dirinya. Karena setahu Asad, Tiara selalu menolak apabila Adrian berniat untuk menciumnya.
"Apa kau sangat mencintaiku?" tanya Asad menggoda Tiara dengan tetap memeluknya dari belakang. Tiara merasa kegelian saat Asad menyapukan hidung mancungnya di telinganya. Aroma mint tercium dari napas Asad saat menghembuskan nafasnya di telinganya. Tiara hanya mengangguk demi mendengar pertanyaan konyol dari Asad.
" Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Tiara.
" Karena kamu suka dengan ciumanku, dan kamu selalu ketagihan dengan rasa ciuman dariku," jawab Asad dengan tersenyum ceria.
" Kamu yang menciumku terus, kenapa jadi aku yang kau tuduh suka dengan ciumanmu? bukannya kamu, yang suka dengan bibirku?" tanya Tiara masih melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
" Tiara, apa kamu tahu, kenapa aku membawa kamu ke sini?? Apartemen rahasiaku ?" tanya Asad menyelidik.
" Ya, aku tahu. Kamu menculik aku kan? membawa saya pergi tanpa sepengetahuan saya." Jawab Tiara enteng.
" Kenapa kamu tidak bertanya untuk apa aku menculik kamu?" tanya Asad serius.
" Aku tahu, kamu mau mengajak aku kawin lari," jawab Tiara singkat. Asad hanya tertawa mendengar Tiara bilang dia mengajak kawin lari dengan santai saja, tanpa beban.
" Kamu senang, kalau saya mengajak kamu kawin lari?" Asad bertanya lagi dengan hati-hati takut Tiara marah.
" Asad kan tahu, kalau Tiara sudah lama naksir sama Asad. Sejak pertama melihat Asad sebagai siswa baru di sekolah kita," jawab Tiara enteng.
" Jadi Tiara mencintai Asad?" tanya Asad bahagia dengan jawaban Tiara. Tiara mengangguk dan Asad merasa bahagia sekali. Di dekatinya Tiara dan Asad kemudian mencium bibir Tiara dengan lembut.
Tiara tidak menolak, bahkan membalas ciuman Asad dengan lembut. Mengimbangi keahlian Asad dalam berciuman. Walaupun Tiara jarang berciuman, namun Tiara cukup mahir saat membalas ciuman Asad.
" Duduklah di sana, agar pekerjaanku cepat selesai dan kita bisa pergi ke kantor catatan sipil segera." Pinta Tiara lembut.
"Apa kau tidak sabar untuk menjadi Nyonya Asad Mahardika?" Asad membalikan wajah Tiara agar menghadap ke wajahnya. Dengan tiada bosan, Asad membelai wajah Tiara.
" Ya sudah, kalau kau tidak mau menikah denganku, tidak apa-apa. Aku kembali ke Jakarta sekarang, dan menikah dengan Adrian." Ancam Tiara yang sukses membuat Asad kelapakan dan akhirnya menyerah untuk tidak menggoda kekasihnya lagi.
" Tidak sayang, tidak. Baiklah aku akan mandi dan mempersiapkan diri untuk pernikahan kita." Asad pergi ke kamar mandi dan dengan bahagia bernyanyi di sana. Tiara hanya tersenyum mendengar kebahagiaan Asad.
__ADS_1
" Apa yang sedang ku lakukan ini ya Allah? Adrian dan Kak Dika pasti sedang bingung dengan keberadaanku. Aku harus mencari cara untuk bisa mengabari mereka, bahwa aku baik-baik saja.Agar mereka tidak khawatir dengan keadaanku."
Tiara mencoba mencari handphone Asad. Ketika melihat handphone Asad ada di charge dia segera menghubungi Risma, dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
" Assalamualaikum, ini Tiara. Hanya mau menyampaikan bahwa aku baik-baik saja. Jangan khawatir tentang aku. Aku pergi bersama Asad, tapi tidak paham ada di mana sekarang. Sudah ya, takut Asad mengetahui aku menghubungi kalian, Wassalamu alaikum wr.wb!" Tiara menutup telponnya, tanpa memberi kesempatan pada orang di sebrang untuk bicara. Mengingat waktu dia sangat sempit. Kebetulan saat Tiara menutup telpon, Asad keluar dari kamar mandi.
"Sayang, apa yang kau lakukan dengan handphoneku? Kamu menghubungi siapa? Apa kau berencana lari dariku?" Tanya Asad dengan menatap curiga kepada Tiara.
"Tidak, aku tidak berniat lari. Aku hanya menghubungi Risma, untuk memberi tahukan kepada mamahku, bahwa aku baik-baik saja bersamamu. Aku melakukan ini, agar mereka tidak khawatir padaku." Tiara mencoba menjelaskan kepada Asad.
" Jangan bohong padaku!" Suara Asad mulai kesal karena melihat ketakutan di mata Tiara.
" Telponlah Risma, dan tanyakan padanya, apa yang baru saja ku katakan padanya. Kalau kau tidak percaya padaku," Tiara berusaha tegar menantang tatapan Asad yang mulai terasa mencekam di hati Tiara.
" Baiklah, aku percaya padamu." Asad mengambil handphone miliknya, lalu mengambil SIM card dan mematahkan SIM card tersebut. Tiara ketakutan saat melihat aksi Asad yang ekstrem itu.
"Kenapa kau lakukan itu?"tanya Tiara cemas. Melihat Asad yang menatap dia dengan mata merah, tanda dia marah kepadanya.
"Karena saya tidak mau mereka menemukan keberadaan kita disini. Kalau mereka ngecek SIM card itu, maka kita akan ketahuan. Ayo bergegaslah. Kita pindah sekarang juga dari apartemen ini!" Asad seperti yang sudah hilang akal.
"Kita pergi ke Villa pribadiku di Lembang, disana jauh lebih aman!" Asad akhirnya segera berkemas dan melupakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Tiara, merasa heran kenapa Asad menjadi berubah seperti sekarang. Dulu Asad adalah pribadi yang menyenangkan dan selalu ceria.
" Apakah aku yang sudah berubah dia seperti sekarang?" bathin Tiara penuh penyesalan.
__ADS_1
" Kita tidak sarapan dulu? sudah lelah aku memasak itu untuk kita," ucap Tiara saat Asad sibuk berkemas pakaian mereka. Asad membelikan pakaian baru untuk Tiara satu koper banyaknya. Asad sudah menyiapkan semuanya dengan matang.
" Bungkus pakai itu, kita makan dalam perjalanan." tunjuk Asad ke arah rantang Tupperware. Dan mempercepat berkemas. Lalu bergegas keluar dari apartemen rahasianya dan bergegas pergi menuju Villa pribadinya di lembang.