
Pagi itu Sania berangkat ke kampusnya yang tidak terlalu jauh dari tempat kostnya. Pak Suryo memberikan beasiswa untuk Sania sampai lulus kuliah.
Selain kuliah, Sania bekerja setelah pulang kuliah. Sania menyukai segala hal menyangkut bunga. Itulah sebabnya, Sania bekerja membuka toko bunga. Pak Suryo memberikan modal untuk Sania membuka toko tersebut. Sania memiliki dua orang karyawan yang membanntunya mengelola toko bunga tersebut.
Siang itu, karena tidak ada kelas. Sania memilih untuk bekerja di toko bunganya. Terlalu asyik dengan pekerjaan, sehingga Sania tidak menyadari bahwa dari tadi seseorang mengawasinya dari jauh. Laki-laki itu adalah Rasyid yang merupakan teman Dika yang membantu Dika membangun perusahaannya.
" Sepertinya saya pernah melihat gadis itu, di mana yaah???" dia masih memperhatikan Sania dengan antusias.
Pegawai Sania menghampiri Rasyid yang dari tadi hanya memperhatikan bosnya yang sedang asyik merangkai bunga.
" Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Rasyid kaget karena dia tidak mendengar ada orang yang mendekati. " Saya ingin mencari buket bunga Lily. Bisa tolong bantu saya?" Jawab Rasyid gugup.
Kebetulan saat itu Sania tengah merangkai bunga Lily, mendengar ada pelanggan yang memesan bunga Lily, Sania langsung mengangkat wajahnya. Rasyid merasa terpesona oleh siluet wajah Sania. Tampak seperti bidadari di mata Rasyid.
" Pesanan anda siap! Mau dituliskan apa di kartunya Pak?" tanya Sania dengan senyum secerah mentari. Rasyid gugup saat mendengar wanita yang dari tadi sangat menarik hatinya itu mengajaknya berbicara.
"Untuk wanita paling cantik di dunia, I love you!" jawab Rasyid seperti tersihir. Sania menuliskan apa yang dikatakan oleh Rasyid.
" Atas nama siapa Pak?" tanya Sania tanpa melihat ke arah Rasyid yang masih tampak bengong tak sadar, melihat Sania kini tepat dihadapannya.
" Rasyid!" jawabnya sambil mengulurkan tangan. Sania menyambut uluran tangan perkenalan dan menyebutkan namanya dengan lembut " Sania," mereka berjabat tangan, Sania tersenyum melihat Rasyid yang terpesona dengan dirinya.
" Hello.. ada orang disini?" canda Sania sambil melambaikan tangan di depan mata Rasyid. Rasyid tertawa diperlukan seperti itu sama Sania.
"Bunga pesanan anda sudah siap. Silahkan dibayar di bagian kasir, terima kasih sudah mampir ke toko kami, Selamat siang!" ucap Sania sambil menunjukan kasir dimana. kemudian meninggalkan Rasyid.
Setelah Rasyid membayar bunga tersebut, Rasyid keluar dari toko dan mencari kemana gerangan Sania. " Wah cepat sekali perginya, kemana dia?" bathin Rasyid merasa bingung.
__ADS_1
Rasyid akhirnya memutuskan untuk masuk ke mobil dan segera melanjutkan perjalanannya. Hari ini Rasyid ada di semarang dalam rangka menghadiri seminar di Universitas Diponogoro Rasyid diundang untuk menjadi pembicara disana.
Sesampainya di Universitas Diponogoro, Rasyid segera mencari aula tempat seminar akan berlangsung. Saat kebingungan itulah, mata Rasyid melihat Sania kembali.
" Heii Sania!!" Sapa Rasyid dari kejauhan.
' Sepertinya dia menyapaku.' bathin Sania. Sania memperhatikan laki-laki itu. " Bukankah itu laki-laki yang tadi membeli bunga Lily?" Sania menghampiri Rasyid setelah yakin bahwa memang dirinya yang disapa.
" Hei.. anda lagi? Ada perlu apa disini?" tanya Sania ramah. Rasyid merasa senang sekali karena bertemu Sania di saat yang tepat.
" Saya mau menghadiri seminar tentang kewirausahaan, tapi saya bingung dimana letak tempatnya, ini pertama kali saya datang ke sini," Rasyid mencoba menerangkan kondisinya saat ini pada Sania.
" Mari saya antarkan. Lebetulan saya juga dalam perjalanan kesana." akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang seminar.
Mereka berbincang sedikit dalam perjalanan itu. Rasyid menerangkan kalau dia di Semarang hanya untuk menghadiri seminar itu." Jangan bilang, kalau kamu yang menjadi pembicara dalam seminar itu." tebak Sania.
" Saya memang pembicara yang akan mengisi seminar itu, apa kamu mau kesana juga? " Sania mengangguk dan mereka akhirnya sampai di aula, tempat seminar akan di laksanakan.
Semua peserta sudah siap dan seminar di laksanakan dengan tertib dan menarik, pembawaan Rasyid yang cool dan tampang tampannya menarik mahasiswa wanita untuk setia mendengarkan seminar yang Rasyid bawakan dengan apik itu.
Tak terasa dua jam sudah berlalu. Seminar selesai dan mereka bubar, Rasyid segara keluar dan mengejar Sania. Mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang bersama di kantin kampus.
" Makanan disini enak loh!" Ucap Sania sangat antusias mempromosikan kantin itu.
" Wah, kamu kalau jadi bintang iklan, sangat cocok." goda Rasyid sambil terus menatap Sania yang duduk tepat di hadapannya.
" Saya tidak memilik wajah bintang pak. Jadi saya tahu diri, untuk tidak mencoba peruntungan menjadi seorang idol." jawaban simple Sania membuat Rasyid mabuk kepayang. 'Gawat ini!' bathin Rasyid senewen.
__ADS_1
Rasyid memang dadanya yang bergemuruh setiap menatap mata Sania. Seperti genderang perang, bertalu-tapi tak mau juga berhenti. 'Kalau aku nanti jatuh cinta sama dia, dan ternyata dia sudah mempunyai kekasih. apa tidak bunuh diri aku?' bathin Rasyid lagi.
" Kenapa bengong terus?" Sania menyadarkan lamunan Rasyid yang masih sibuk dengan hati dia yang sangat sulit di kondisikan itu.
" Tidak apa-apa. Sania.. boleh saya bertanya sesuatu? jawab dengan jujur ok?"Rasyid menyiapkan hatinya sebulat mungkin.
" Apa kamu punya seorang kekasih?" Sania kaget mendengar pertanyaan itu, bagaimana mungkin seorang asing, yang baru bertemu beberapa jam lalu, secara kebetulan, bertanya masalah seperti itu?
" Memang kenapa?" Sania menatap serius wajah Rasyid yang mulai gelisah itu.
" Tidak apa, hanya bertanya. Penasaran, jangan dipikirkan, kalau kamu tidak mau menjawab itu." Rasyid akhirnya menyerah.
" Ya ampun, serius amat. Bercanda kali. Saya jomblo Pak. Gak ada yang mau menjadi kekasih wanita miskin kayaku." Sania mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela.
Sania tidak mau kalau Rasyid sampai melihat mata dia agak berkaca-kaca. Saat Sania mengatakan hal itu, mengingatkan kembali Sania pada Dika dan Asad.
Sania memilih kuliah yang jauh dari semua sahabat dia, karena ingin melupakan semua masa lalu yang menyakitkan itu.
Melihat Dika, kekasih yang dia cintai, bukan sih. Tapi Dika pernah janji akan menunggunya lulus kuliah, itu bisa di artikan kekasih bukan?
Melihat Dika yang memilih menikahi Risma, sahabat masa kecilnya yang telah banyak menabur jasa di keluarganya. Sania sungguh tidak mampu, harus selalu melihat mereka.
Mengingat Asad, yang resmi sebagai kekasih dia, yang tiba- tiba meninggalkan dia tanpa sebab pada malam itu. Membuat mata Sania agak sembab karena sedih tiba-tiba menyeruak di sudut relung hatinya .
" Kamu tidak apa-apa? Maafkan saya kalau sudah membuat kamu jadi ingat masa lalu kamu yang menyakitkan." Rasyid memohon maaf dengan tulus.
" Tidak apa-apa. Saya hanya kelilipan sedikit. Sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Sania gugur sambil menyeka air mata yang menetes tanpa ijin itu.
__ADS_1
Rasyid mengerti bahwa wanita di hadapan dia ini memiliki luka hati yang mendalam.