Sejarah Kelam

Sejarah Kelam
13. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Dika terus merenungkan semuanya. Apakah pernikahan dirinya dengan Risma adalah sebuah kebenaran ataukah hanya kesalahan sesaat yang kelak akan dia sesali ataukah tidak.


" Ya Tuhan bimbinglah aku untuk bisa melewati semua ini dengan baik!" doa Dika lirih.


Begitu sampai di rumahnya, Dika langsung Dika mengumpulkan mamanya dan Tiara di ruang tamu, dengan maksud akan memberitahukan masalah pernikahannya dengan Risma. Permintaan Pak Suryo ternyata serius, bukan main-main seperti yang dipikirkan oleh Dika selama ini.


" Ada apa anakku? Tumben sekali kamu mengumpulkan kita semua dengan wajah serius seperti itu??" tanya mamah Susan agak khawatir dengan Dika, putra kesayangan yang selama ini tidak pernah memberi masalah kepadanya itu.


"Mamah, Tiara, minggu depan Dika akan menikah dengan anak seorang rekan bisnis Dika!" demi mendengar apa yang Dika sampaikan, Tiara dan mamah Susan sangat terkejut. Bagaimana mungkin??


Pacar saja tidak punya, dan seingat mereka. Dika juga tidak pernah membawa perempuan ke rumah sebagai calon istri.


" Siapa calon istri Kak Dika?" tanya Tiara penasaran, sambil menatap sang kakak yang tampak gusar.


Mamah Susan tampak heran, bagaimana mungkin anaknya menyampaikan berita pernikahan tapi dengan raut wajah seperti mau pergi ke pemakaman??


" Ada apa anakku?? Kenapa kamu tampak tidak bahagia?? Katakan sama mamah sayang," mamah Susan menatap Dika dengan penuh kasih, menggengam telapak tangan sang anak untuk memberi kekuatan.


" Risma, dia adalah calon menantu mamah!" Jawab Dika dengan lesu, demi mendengar apa yang dikatakan kakaknya, Tiara sangat terkejut dan tidak percaya sama sekali dengan hal itu.

__ADS_1


" Risma sahabat Tiara apa bukan, Kak?" tanya Tiara masih tidak percaya. Dika mengangguk dan Tiara langsung menghampiri sang kakak dengan senyum sumringah.


" Lalu, bagaimana dengan Sania? Tiara ingat, kalau kakak pernah janji akan menunggu dia sampai lulus kuliah, bukan?!" tanya Tiara pada Dika dengan raut wajah bingung.


" Itulah masalahnya Dek! Kakak jadi bingung. Bagaimana dengan perasaan dia? Kalau mengerti tentang masalah pernikahan ini?" jawab Dika gusar.


" Kapan dan kenapa kakak memutuskan untuk menikah sama Risma?" tanya Tiara kepo banget.


" Di malam kamu minta kakak jemput Risma!" jawab Dika pelan tanpa semangat.


" Itu artinya sekitar sebulan lalu, lalu kenapa kak Dika baru mengatakan hal pernikahan kakak sama Risma sekarang kepada kami?" Tiara tidak habis pikir dengan kelakuan kakak lelakinya itu yang bisa-bisanya menyembunyikan hal sepenting itu dari mereka tanpa merasa bersalah sama sekali.


" Sayang, dengarkan dulu penjelasan kakak kamu, jangan mencela atau memotong!" ucap mamah mengingatkan Tiara untuk jangan terburu cepat mengambil kesimpulan.


" Kak Dika aja yang tidak peka. Risma itu naksir kakak dari kelas satu SMA. Karena di mata kakak cuma ada Sania. Makanya Risma gak berani menunjukan perasaan dia di depan kakak. Dia hanya setiap malam selalu curhat sama Tiara sambil nangis sedih setiap habis lihat kakak sangat intim sama Sania!" Dika terkejut demi mendengar keterangan dari adiknya itu.


" Kenapa kamu tidak mengatakan sama kakak? Kalau kakak tahu, mungkin kakak akan mempertimbangkan perasaan Risma, dan tidak menyakiti dia, dengan dekat sama Sania!" protes Dika kepada Tiara yang bisa-bisanya tidak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaan Risma kepadanya selama ini.


Mamah Susan yang jadi bingung sendiri, dengan situasi anaknya ini. Tiba-tiba bilang akan menikah, dan itu satu minggu lagi. Sungguh membuat hati tak enak saja, pernikahan itu bukan hal sepele.

__ADS_1


" Besok kita adakan lamaran untuk calon istri kamu. Kalau memang kalian sudah mantap memutuskan untuk menikah!" ucap mamah Susan akhirnya memutuskan.


" Pak Suryo bilang tidak perlu mah. Kita akan langsung melakukan pernikahan saja. Dia tidak mau membuat repot keluarga kita. Semua sudah dia siapkan jauh hari!" mamah Susan memukul kepala Dika sangking gemasnya.


" Kamu ini ya! Mamah mau memberikan sambutan dan menunjukan kalau keluarga kita menerima dia sebagai bagian dari keluarga kita. Mamah tidak mau memberi kesan keluarga kita cuma mau enak saja. Sudah mamah putuskan, besok kita adakan lamaran. Kamu hubungi keluarga calon istri kamu. Mamah hubungi keluarga kita yang lain!" akhirnya mereka bubar dan sibuk masing masing.


Dika menelpon Pak Suryo dan menyampaikan apa yang dikatakan mamahnya. Bahwa besok keluarga dia akan datang ke rumah Pak Suryo untuk melakukan lamaran secara resmi.


Mamah Susan menelpon satu per satu semua kerabatnya, untuk besok pergi mengiringi lamaran Dika, semua kaget dan juga bahagia mendengar kabar Dika akan menikah.


Mamah sama Tiara akhirnya memutuskan pergi berbelanja untuk keperluan dalam acara lamaran besok. Mengingat waktu sangat sempit dan juga tenaga yang terbatas, mereka hanya membeli perlengkapan yang penting saja. Tak lupa mamah Susan juga membeli cincin pernikahan untuk sang menantu pertama, Dika dilarang sang mamah saat akan mengantarkan mereka berbelanja.


" Calon pengantin sebaiknya di rumah! Kau jangan pergi ke mana-mana! Karena Risma adalah sahabat Tiara, jadi Tiara yang memilih apa saja seserahan yang akan di bawa dalam lamaran besok!" Tiara tidak lupa untuk menghubungi Sania dan Adrian untuk membantu dalam membungkus dan menyiapkan acara lamaran dadakan itu.


Sementara di sana. Sania sangat shock saat menerima permintaan Tiara untuk datang ke rumahnya untuk membantu pernikahan kak Dika dengan Risma. Bagai di tusuk sembilu rasanya hati Sania saat itu. Tapi kemudian dia ingat, itu adalah kesalahan dia, karena dia yang menolak Dika. Ketika laki-laki itu datang mengungkapkan perasaan dia, Sania menangis.


" Aku yang salah, terlalu percaya diri! Bahwa Kak Dika akan menunggu sampai lulus kuliah. Siapa aku? Sehingga seorang seperti kak Dika mau menungguku begitu lama? Risma jelas memiliki segalanya dan memang jodoh yang sepadan dengan Kak Dika, putri konglomerat menikah dengan seorang presiden direktur PT Andika Pratama, memang jodoh yang serasi!" ucap Sania sambil menangis pilu.


" Pantas saja tadi malam Mas Dika aneh sekali kelakuannya. Sepanjang jalan hanya diam saja dan tidak mau mengatakan apa-apa padaku. Padahal selama ini Mas selalu antusias dan apapun yang aku lakukan. Ternyata semua itu karena dia akan menikah dengan Risma." Monolog Sania ketika dia berada di dalam taksi menuju kediaman Tiara yang memintanya untuk berbelanja barang-barang untuk lamaran ke rumah Risma.

__ADS_1


Hati Sania benar-benar terhiris sembilu karena harus menyiapkan barang-barang lamaran untuk lelakinya yang pernah berjanji akan menunggu dia sampai lulus kuliah.


" Janji Mas Dika ternyata bohong! Buktinya dia akan menikah dengan Risma," Sania tampak menangis pilu di dalam taksi.


__ADS_2