
Setelah merasa puas menangis, akhirnya Sania berpamitan kepada keluarganya, bahwa dia akan pergi ke Rumah Tiara. Sania mencuci mukanya, karena tidak mau orang lain melihat dirinya habis menangis, karna mendengar kabar pernikahan Dika dan Risma.
***
Sementara itu, dikediaman Pak Suryo tampak kehebohan yang luar biasa. Setelah mendapat telpon dari Dika, yang mengatakan bahwa keluarganya akan datang untuk acara lamaran besok hari. Pak Suryo segera menyuruh semua pekerja yang ada di rumahnya, dan meminta Sekretaris Burhan untuk mengirim beberapa karyawan untuk menyiapkan dekorasi di rumahnya, dalam satu malam, ruang tamu rumah Pak Suryo sudah di dekorasi dengan sangat cantik dan elegan.
Sania datang ke rumah Dika dengan perasaan berkecamuk dan sedih. Namun dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum saat berhadapan dengan Dika.
Adrian juga susah sampai. Dia datang bersama Asad. Mereka juga sangat kaget saat mendengar kabar pernikahan sepupu mereka. Bagaimana bisa Risma tidak mengatakan apapun sama mereka berdua? Sungguh terlalu! Asad yang paling gemes untuk masalah ini.
" Awas saja nanti, kalau ketemu, akan aku marahin itu Risma! Enak saja, mau menikah tidak bicara apa-apa sama kita!" Adrian hanya tersenyum melihat kelakuan sepupunya itu.
" Sudahlah! Ayo kita bergegas ke rumah Tiara, kasihan dia kalau harus menyiapkan acara lamaran sendiri. Di rumah Om Suryo sudah banyak yang membantu!" jawab Adrian.
Mereka akhirnya datang ke rumah Tiara dan membantu persiapan lamaran dan pernikahan Dika. Bagaimana pun juga Dika juga adalah sahabat mereka juga. Adrian sering tidur di kamar Dika kalau kebetulan mereka mengadakan belajar atau acara bersama di rumah Tiara.
Apalagi mengingat Dika adalah calon kakak iparnya. Maka dia merasa perlu untuk membantu persiapan pernikahan itu.
__ADS_1
Dika tidak mau memanggil orang kantornya, karena itu hanya merepotkan mereka, sudah banyak beban kerja untuk mereka, Dika memutuskan untuk melibatkan orang kantornya hanya di saat acara pernikahan saja, karena Pak Suryo sudah mengatakan untuk semua acara pernikahan adalah tanggung jawab dia, Dika hanya tinggal menyiapkan mental, lahir dan bathin sebagai calon pengantin saja.
Dika hanya terdiam saat melihat Sania, gadis yang dia cintai ikut membantu dalam persiapan lamaran besok. Ada rasa sedih di hati Dika, saat melihat mata Sania yang sembab.'Pasti Sania habis menangis, kasihan gadis itu. Dia pasti berpikir bahwa aku sudah membohongi dia,'bathin Dika merasa tak enak dan juga serba salah.
Saat Sania keluar dari kamar mandi, tidak sengaja berpapasan dengan Dika. Sania berusaha untuk menghindar, tapi Dika sudah menarik tangan dia ke lorong sebelah kamar mandi. "Aku mohon, tolong dengarkan penjelasanku dulu!" Dika menatap mata Sania yang mulai berderai air mata.
Dika memeluk Sania dengan sepenuh hatinya, namun Sania berusaha melepaskan diri dari pelukan Dika, tapi Dika tidak mau menyerah juga. Dieratkan pelukannya dan Dika berusaha untuk mencium Sania, tidak ada perlawanan dari Sania, dia hanya menangis saat menyadari Dika menciumnya dengan lembut. "Maafkan aku Sania, yang sudah menyakiti kamu, Aku janji akan menyimpan kenangan cinta kita di hatiku untuk selamanya," janji Dika pelan setelah selesai mencium bibir Sania.
Sementara itu, di dekat dapur, Asad dan Adrian yang melihat adegan itu merasa sangat marah dan juga kesal, bagaimana mungkin Dika, calon suami sepupu mereka mencium bibir wanita lain di saat waktu pernikahan hanya tinggal menghitung hari?
" Jadi kamu tahu, kalau mereka berdua itu ada hubungan?" tanya Asad tampak tidak senang.
" Mereka tidak ada hubungan, hanya saling mencintai tapi tanpa ikatan apapun, Kak Dika pernah menyatakan perasaan sama Sania, tapi Sania meminta Kak Dika untuk mau menunggunya sampai kuliahnya selesai. Waktu itu kak Dika menyatakan akan menunggu Sania dengan setia." Adrian mencoba menjelaskan kepada Asad agar dia bisa mengerti situasi yang ada dihadapan mereka sekarang, Asad tampak berpikir keras.
Asad mencoba memahami, namun tetap saja tidak bisa menerima kelakuan Dika yang mencium bibir wanita lain di malam lamaran dia. Sungguh gemes hati Asad melihat itu.
Ingin rasanya Asad menonjok wajah Dika, yang dia nilai tidak bertanggung jawab dan kurang ajar. Sudah akan melamar Risma, masih juga sempat mencicipi bibir wanita lain.
__ADS_1
"Sialan sekali Kak Dika!" umpat Asad dalam hati menahan kesal. Kalau tidak ada Adrian sudah dipastikan kak Dika bakalan bonyok, babak belur kena hajar Asad yang tengah di amuk amarah.
Hal yang sebenarnya adalah Asad merasa cemburu, karena Asad juga mencintai Sania. Asad pernah menyatakan perasaan kepada Sania, tapi di tolak karena katanya sudah punya seseorang dalam hati dia, mungkin hal inilah yang menjadi pemicu rasa kesal di hati Asad, karena Dika telah mencuri ciuman pertama dari Sania. Tapi tunggu, apa benar itu ciuman pertama Sania??
Bukan, itu adalah ciuman ke empat Sania dan Dika. Ciuman pertama mereka adalah saat Dika mengutarakan cinta pada Sania, tapi saat itu Sania menolak dan meminta Dika untuk menunggunya. Waktu itu Sania yang berinisiatif mencium Dika. Dika terkesiap menerima ciuman Sania yang tiba-tiba. Tetapi untuk menjaga perasaan Sania, Dika membalas ciuman itu.
Ciuman kedua mereka adalah saat Sania melihat Dika di acara sekolah mereka, dan Dika hadir sebagai pembicara disana. Sania sangat terpesona dan memberikan hadiah ciuman untuk Dika, karena mau memenuhi undangannya untuk menjadi pembicara dalam acara yang kebetulan Sania adalah ketua panitianya.
Ciuman ke tiga adalah saat Dika memberikan hadiah ulang tahun untuk Sania, sebuah cincin. Dika bilang itu sebagai simbol bahwa dia mencintai Sania, dan bersedia menunggu dia sampai lulus kuliah.
Tiara sebenarnya merasa heran dan agak geram dengan Sania, kenapa kesan yang dia dapat adalah kakaknya menjadi bahan mainan Sania? Seorang Andika Pratama, direktur eksekutif sebuah perusahaan, disuruh me menunggu dia sampai lulus kuliah. Tetapi Sania tidak pernah menolak setiap kebaikan yang kakaknya berikan. Entah itu uang, entah itu antar jemput setiap hari yang membuat banyak mata teman sekelasnya merasa iri dan kadang cemburu dengan Sania.
Risma yang selalu terlihat uring-uringan kalau sudah melihat Sania turun dari mobil Dika dan Tiara. Tiara kadang marah sama kakaknya, kok mau sih? Pacaran juga tidak, tapi mau antar jemput Sania.
Akhirnya Dika menurut dengan apa yang dikatakan Tiara. Jadilah sejak saat itu Dika tidak pernah menjemput Sania lagi.
Tetapi Dika membuat pengaturan Ojek online untuk setiap hari antar jemput Sania kemanapun dia pergi. Dika yang menanggung semua pembayaran.
__ADS_1