
Setelah berbincang lama dan mengenang masa lalu, akhirnya keluarga Dika berpamitan dan semua kembali ke rumah masing-masing dengan bahagia. Asad mengantar Sania ke rumahnya dan bertemu dengan keluarga Sania, memperkenalkan diri sebagai calon suami Sania kepada keluarganya.
" Perkanalkan! Nama saya Asad Mahardika. Saya adalah kekasih Sania saat ini dan kelak sayalah yang akan menjadi calon suaminya." ucap Asad pada keluarga Sania yang bengong melihat keberaniannya.
Selama ini Sania tidak pernah membawa seorang laki-laki ke rumahnya dengan status sebagai kekasih. Oleh karena itu, ayahnya Sania seakan tidak percaya dengan pengakuan Asad yang sangat frontal di hadapannya saat ini.
" Apakah benar kamu adalah kekasih putriku? Seberapa serius kau berhubungan dengan ke putriku?" tanya ayahnya Sania sambil menatap wajah Asad yang saat ini sedang menggenggam telapak tangan Sania yang hanya bisa menundukkan kepala dihadapan ayahnya.
Bagaimanapun Sania saat ini merasa malu sekali saat berhadapan dengan ayahnya dan duduk bersama dengan kekasihnya sambil berpegangan tangan seperti itu.
" Saya mencintai Sania. Setelah saya lulus kuliah, saya akan langsung menikahinya! Percayalah pada saya!" ucap Asad sambil melirik sekilas kepada Sania yang saat ini jantungnya sedang berdegup sangat kencang dengan semua yang dilakukan oleh Asad.
Sania kaget namun dia tak berkata apapun, karena melihat Asad sungguh serius dengan kata-kata dia. 'Semoga dia adalah jodohku, calon imamku!' Hanya itu doa kecil Sania saat Asad pergi berpamitan tadi.
" Baiklah! Om akan merestui hubungan kalian berdua. Tolong jagalah Sania dengan baik dan jangan membuat dia bersedih. Kalau tidak, maka kau akan berhadapan dengan om!" ucap ayahnya Sania dengan wajah yang serius sekali.
" Ya Om! Saya pasti akan menjaga Sania dengan baik dan membahagiakannya!" janji Asad tanpa merasa takut sama sekali.
Sania saat ini hanya menatap kepada Asad yang telah begitu berani mengatakan hubungan mereka kepada ayahnya yang selana ini sangat ketat padanya.
" Sania, antar Nak Asad ke luar untuk pulang. Bagaimanapun sekarang sudah malam tidak baik berkunjung ke rumah seorang gadis tengah malam seperti ini," setelah mengatakan itu, Ayahnya Sania kemudian masuk ke dalam kamarnya setelah merasa cukup berbicara dengan kekasih putrinya.
Sania pun kemudian mengantarkan kekasihnya sampai ke mobil dan berpamitan pada Asad.
Satu kali lagi, Asad mencium bibir Sania malam ini. Ah, dua kali sudah Asad mencicipi bibir gadis cantik itu yang telah resmi menjadi kekasihnya. Bahkan dengan begitu gilanya dia telah mengaku sebagai calon suami dari Sania di depan ayahnya.
__ADS_1
" Hati-hati di jalan," ucap Sania ketika Asad sudah masuk ke dalam mobilnya dan mulai menghidupkan mesin.
" Masuklah dan istirahat. Besok pagi aku akan mengantarkanmu ke tempat pendaftaran kuliah," ucap Asad sambil tersenyum pada Sania.
Sania hanya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam rumahnya.
setelah meninggalkan kediaman Sania, Asad kemudian pergi ke tempat favoritnya ketika dia sedang berpikiran kacau.
" Ah gila!! Apa yang sudah kau lakukan tadi? Kau benar-benar bodoh!" Rutuk Asad menyesali kebodohan yang sudah dia lakukan di hadapan ayahnya Sania.
Asad menyalakan rokoknya dan memberikan tubuhnya di atas kap mobil menatap langit malam dan juga menikmati Angin Malam yang semilir mendinginkan tubuhnya dan otaknya yang saat ini rasanya sedang konslet dan tidak bekerja dengan baik.
" Sepertinya aku harus berkomunikasi dengan kedua orang tuaku. Aih! Aku tidak bisa terus seperti ini. Ya ampun Asad! Apa kau bajingan, huh? Tidak baik untuk mempermainkan anak gadis orang!" Rutuk Asad benar-benar frustasi.
Sudut hatinya yang terdalam memberontak dengan apa yang telah dia lakukan tadi di depan ayahnya Sania.
" Sungguh tolol!" semua kosakata kebodohan terus menggema dari mulut Asad untuk dirinya sendiri.
Sangking suntuk dan stress, hingga tanpa terasa dia sudah menghabiskan satu bangkus rokok hanya dalam tiga jam dirinya berada di tempat itu.
" Huh!!! Menyebalkan!! Dasar kau bajingan Asad!" kesal hati Asad kepada dirinya sendiri.
Setelah merasa cukup untuk menyesali semua yang sudah dia lakukan Asad kemudian pulang ke rumahnya. Asad memutuskan akan melupakan kebodohannya malam ini dan memulai Semuanya dari awal.
" Aku akan Mencari waktu yang tepat untuk meluruskan semuanya!" akhirnya Asad memutuskan hal itu.
__ADS_1
Asad sendiri bingung. Apa yang telah dia lakukan tadi? Mengatakan kepada ayah Sania bahwa dia adalah calon suami Sania? Padahal jelas-jelas hatinya tahu bahwa ada satu nama lain di sudut hatinya yang paling dalam yang tidak dia sadari menetap di relung hatinya yang paling terdalam, Tiara.
Sejak acara lamaran Risma dan Kak Dika, pikiran Asad selalu tertuju kepadanya.
" Gila.. apa aku ini seorang playboy? Di satu sisi sebagai kekasih Sania, di sisi lain, nama Tiara bergema indah di hatinya. Malam itu Asad tidak mampu menutup matanya untuk tidur. Ruwet pikirannya saat ini. Memikirkan siapa wanita yang dia cintai sebenar nya.
***
Tiara saat ini berada di dalam kamarnya dan sedang mengingat kembali semua kejadian yang terjadi pada acara lamaran Andika dan Risma. Di mana Tiara melihat Sania dan Asad yang terus saja saling menggenggam telapak tangan satu sama lain.
" Aih! Apakah mereka berdoa sudah resmi berhubungan? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui di antara keduanya?" monolog Tiara yang saat ini benar-benar sedang kebingungan dengan hubungan kedua sahabatnya yang semakin erat setiap harinya.
Di saat Tiara sedang kebingungan. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu adalah dari Adrian, tunangannya yang belum resmi.
Ya, belum resmi. Karena baru Adrian yang melamarnya secara Pribadi. Tetapi kedua orang tuanya masih belum datang secara resmi ke rumahnya untuk melamar dirinya kepada ibu dan juga kakaknya.
" Ya?" tanya Tiara saat dia mengangkat panggilan telepon dari Adrian.
" Kamu belum tidur jam segini sayang?" tanya Adrian.
Jantung Tiara berdegup sangat kencang, saat mendengar Adrian yang memanggilnya dengan kata sayang. Tiara benar-benar senang malam itu. Ya!! Selama ini Adrian selalu memperlakukannya dengan sangat baik sebagai seorang kekasih yang di cintai.
Tiara bisa merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Adrian untuknya adalah Tulus dan tidak main-main.
"Aku sedang mengingat tentang kejadian yang ada di acara lamaran Kak Dika. Adrian! Apa kau melihat Sania dan Asad yang sepanjang acara terus saja mereka saling bergenggaman tangan? Mereka memang ada hubungan ataukah hanya ingin mengganggu perasaan kakakku saat acara itu?" tanya Tiara yang merasa tidak nyaman dengan Pemandangan itu.
__ADS_1
Tiara sendiri tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Tapi yang jelas, Tiara benar-benar tidak suka melihat Sania yang sangat hobi mempermainkan hati seorang laki-laki yang menyukainya.