
"Pa, kenapa papa diam?"
Linda berdecak kesal karena papanya tidak menjawab setelah dirinya menceritakan kejadian langka itu.
"Nanti papa coba tanya ke asisten Tuan Ken dulu, sayang. Apa Siska bersama Tuan Ken atau tidak nanti papa hubungi kamu lagi." Lalu Pak Bram memutus sambungan telepon bersama putrinya.
Pak Bram segera menuju ruangan atasannya, Ken Wijaya.
Diketuknya pintu yg menjulang tinggi didepannya.
Satu kali, dua kali, hingga ketukan ke tiga tidak ada balasan dari dalam ruangan. Kemudian terlihat seorang satpam menghampiri Pak Bram dan mengatakan jika Tuan Ken dan asistennya sedang tidak ada diruangan tersebut. Mereka tengah berada di cabang Mall yg berada diwilayah Timur.
"Baiklah, Pak. Terimakasih atas informasinya." Ucap Pak Bram kepada satpam.
Lalu Pak Bram membuka ponselnya dan mengabari Linda jika saat ini Tuan Ken sedang survei lokasi Mall yg berada diwilayah Timur, seperti yg dikatakan satpam tadi.
Linda membuka ponselnya setelah mendapat informasi dari papanya.
"Kalo Tuan Ken sedang tidak bersama Siska, lalu Siska sama siapa? Ya Tuhan, lindungi sahabat ku dimanapun dia berada." Pinta Linda disepanjang jalan mengendarai mobilnya yg entah dirinya akan mencari keberadaan Siska dimana.
Sedangkan ditempat lain,
Tepatnya disebuah Mall yg tak kalah mewah dan besar di kota B. Terlihat Pria muda berjas bersama asistennya tengah melihat-lihat bagian gedung Mall. Sesekali memandangi kondisi bangunan yg menurutnya perlu renovasi agar Mall terlihat lebih menarik perhatian pengunjung.
"Ga, aku mau dalam waktu dekat ini, bangunan Mall ini harus segera direnovasi. Lihatlah, beberapa tekstur warna catnya sudah mulai mengelupas. Dan lagi, itu itu itu. Baleho tidak terurus dimana-mana, mengganggu pemandangan pengunjung saja." Tegas Ken kepada Asistennya.
Yoga yg mendengar atasannya segera mencatat apa saja yg Ken katakan.
"Baik Ken, aku akan segera membuat proposal untuk pembangunan gedung ini. Setelah itu, aku hanya butuh persetujuan mu, dengan tanda tangan. Dan proyek renovasi bisa segera dilakukan." Jawab Yoga menjelaskan kepada CEO'nya.
__ADS_1
Ken mengangguk.
"Lakukan tugasmu sebaik mungkin, dan secepatnya laporkan kepadaku Ga."
Ken berlalu meninggalkan Yoga yg sedang fokus merinci apa saja yg akan dia masukkan kedalam proposal renovasi gedung ini agar tidak terjadi kesalahan yg memicu kemarahan bosnya.
Ken kemudian mendudukan dirinya ke sofa besar yg ada diruangan khusus CEO miliknya.
Beberapa hari ini, Ken sangat disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Meskipun hanya sekedar survei lokasi, tapi hal ini membuatnya lelah. Bagaimana tidak, jika setiap harinya dirinya harus mengecek lokasi Mall yg letaknya berada diwilayah luar kota. Dirinya memang ingin turun tangan sendiri, karna baginya, sebelum dirinya menjadi seorang pemimpin. Ken harus mengetahui secara detail mengenai Mall yg nantinya akan ia pegang.
"Kenapa aku merindukan Perempuan itu."
Batin Ken,
Berulang kali Ken menepis angannya jika dirinya hanya terbuai oleh Siska sesaat. Namun Ken salah mengerti dengan dirinya sendiri. Nyatanya Ken selalu teringat Siska, selalu merindukannya.
"Baru kali ini aku menjatuhkan harga diriku sebagai seorang Ken Wijaya. Apa boleh buat, aku memang sangat merindukannya." Umpat Ken sambil tersenyum smirk memikirkan Siska.
Saat ini Yoga sudah sampai didepan atasannya.
"Ada apa Ken ?" Tanya Yoga.
"Aku ingin kamu mencari tau dimana Siska tinggal." Tegas Ken kemudian.
Yoga mengerti dan langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan CEO.
*** Di Bukit Danau
"Sebenarnya apa yg ingin kau katakan, sayang. Kenapa sampai mengajakku kesini ?" Tanya Siska ketika mereka telah berada di Gazebo lagi.
__ADS_1
Sebelum menjawab Siska, Beni terlebih dulu menghirup udara segar, lalu menghembuskannya.
"Aku hanya ingin menikmati hari ini berdua, sayang. Bersamamu, seorang." sambil menggenggam tangan Siska.
"Dan sebelum aku mengatakan ini kepadamu, aku ingin kamu berkata sejujurnya kepadaku, sayang. Aku mohon jangan ada kebohongan didalam hubungan yg kita jalani." Pinta Beni kembali.
"Aku hanya ingin mengatakan, jika aku telah siap menikahimu. Apakah kamu bersedia, dan apakah kamu mau tinggal bersama ku dikota S ?" Beni mengatakan itu dengan menatap Siska, mengatakan dengan segala keseriusannya. Semalaman Beni telah memikirkan semuanya, Beni membulatkan tekatnya yg ingin menikahi Siska dan memperistrinya. Meskipun kedua orangtuanya pasti akan menolaknya mentah-mentah. Tapi Beni yakin, lambat laun kedua orangtuanya akan menerima Siska setelah mereka mengenal sosok Siska yg sesungguhnya.
Siska shock dengan apa yg dikatakan Beni, apa yg harus Siska katakan pada Beni. Kenapa Sekarang ada keraguan dalam dirinya ketika Beni ingin memperistri dirinya, bukankah selama ini yg diharapkan Siska memang ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Beni dengan segera menikah dengannya. Tapi kenapa tiba-tiba Siska ragu dengan hatinya.
"A-Aku, aku belum wisuda sayang. Dan terlebih aku masih ingin bekerja setelah selesai kuliah nanti." Jawab Siska sedikit pelan takut Beni tersinggung atas jawabannya.
"Aku mengerti, sayang. Aku tidak akan memaksakan apa yg ingin kamu lakukan setelah selesai kuliah nanti. Aku hanya ingin mempertegas hubungan kita yg sudah hampir 2th kita jalani ini." imbuh Beni, meskipun ada rasa kecewa yg Beni rasakan tapi Beni berusaha menutupinya agar hubungannya dengan Siska tetap baik-baik saja setelah Beni mengatakan niatannya yg ingin segera menikahi Siska.
Terlihat sepasang kekasih ini tengah bergumam dalam fikiran masing-masing.
"Apa yg sebenarnya terjadi padaku, kenapa aku meragukan Beni? Bukankah yg selama ini aku harapkan dari hubungan kami adalah segera menikah, kenapa sekarang aku merasa tidak bahagia ketika Beni mengatakannya." Batin Siska.
"Aku akan menunggu mu, Siska. Hingga waktunya tiba, aku juga akan mengatakan segalanya kepadamu, tanpa mengurangi kejujuranku yg sebenar-benarnya." Batin Beni.
Karena hari sudah mulai sore, Beni dan Siska pun memutuskan untuk menyudahi pertemuan mereka hari ini. Dan lagi, setelah ini Beni juga harus segera kembali ke kota S, karna seharusnya tadi pagi dirinya sudah pulang tapi karna Beni ingin memastikan hubungannya dengan Siska jadi dirinya menunda kepulangannya hingga sore nanti.
Sepanjang perjalanan, Beni tak hentinya menggenggam jemari Siska. Siska hanya menurut saja dengan perlakuan kekasihnya itu.
Dan sesampainya di kos Siska, Beni menangkup kedua pipi Siska.
"Aku akan menunggu kamu, sayang. Kapanpun kamu siap, katakan padaku. Saat itu juga aku akan menikahimu." Lalu mencium kening Siska, Lama hingga Siska sedikit bergeser dari duduknya untuk menyadarkan Beni yg masih berada diposisi nyamannya.
"Maafkan aku, sayang." Hanya itu yg dikatakan Siska dengan menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Beni, kemudian membuka mobil dan keluar.
__ADS_1
"Aku pamit, sayang." Beni melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya meninggalkan Siska yg masih mematung didepan halaman kosnya.