
Tanpa sepengetahuan Siska, Ken menyuruh Yoga untuk memperkerjakan Siska di Mall yg dia pimpin.
Sebelumnya, Ken sudah mendapat informasi dari Yoga, jika seharusnya Siska memang magang di Mall tersebut sebagai SPG disebuah produk kecantikan. Namun karena ulah Linda, sahabatnya itu meminta bantuan Papanya agar membatalkan kontrak kerja Siska dengan prodak tersebut.
Ya, kejadian itu pas sekali ketika pertama kali Ken melihat Siska di Cafe Karaoke beberapa hari yg lalu saat Siska tengah merayakan pesta ulang tahun Linda disana.
Ken lalu berfikir untuk memberi pekerjaan kepada Siska, tentu saja pekerjaan yg layak. Bukan menjadi SPG yg pasti akan melelahkan untuknya karena pagi hingga siang sebelum Siska bekerja ia akan kuliah terlebih dahulu. Namun bukan juga pekerjaan yg langsung berpangkat karena Ken tidak ingin Siska curiga atas bantuannya ini. Ken melakukannya hanya karna dia ingin selalu dekat dengan wanitanya.
"Mulai besok, aku akan selalu melihat wajahmu, sayang. Akan ku pastikan kamu akan menjadi wanitaku, tidak akan lama lagi." Gumam Ken dengan senyum smirknya.
Saat ini Ken berada di apartemennya, sedangkan Siska sudah terlelap sedari tadi karena terlalu kelelahan.
............
Keesokan paginya, Siska tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus menempuh pendidikannya.
Usai mandi, seperti biasanya Siska hanya mengenakan kaos dan juga rok jeans selutut. Tak lupa ransel yg selalu menempel dipunggungnya beserta sneakers putih kesayangannya.
Setelah berpenampilan sempurna, terdengar bunyi klakson Linda dari luar halaman kosnya.
Tin Tin Tin
"Si Bawel udah dateng, aku harus cepat-cepat turun. Kalau tidak pasti Linda akan mengomel sepanjang jalan sampe kampus." Gerutu Siska yg dengan terburu-buru keluar kamar kosnya menuruni anak tangga.
*Lama amat sih Siska. Kita masih harus sarapan dulu sebelum ke kampus." Decak Linda ketika Siska sudah berada disampingnya.
"Maaf Bawel. Yauda ayo kita jalan sekarang. Tunggu apa lagi?" Tanya Siska kemudian.
Mereka berdua memang selalu bersama kemanapun perginya. Bahkan bagaikan maghnet yg sulit sekali untuk dipisahkan. Mulai dari berangkat kuliah bersama, di kampus bersama, hingga menghabiskan waktu bersama jika Siska tidak mendapatkan pekerjaan paruh waktu.
"O iya Lin, nanti sepulang kuliah kamu pulang lah lebih dulu. Aku masih ada urusan, jadi tidak bisa pulang bersamamu." Ucap Siska sambil menyantap bubur ayam langganannya sebelum berangkat kuliah.
"Kamu mau pergi kemana Sis? Biar aku antar." Jawab Linda.
__ADS_1
"Tidak perlu Linda, aku akan bekerja paruh waktu lagi mulai sore ini. Kemarin malam seorang pria menghubungi ku jika aku mendapat tawaran pekerjaan di Mall yg kemarin tiba-tiba menggagalkan kontrak pekerjaan ku." Jelas Siska.
"Uhuk!" Linda tersedak buburnya karena merasa dirinya lah yg bersalah saat itu.
"Pelan-pelan, Linda. Masih banyak buburnya kalau kamu mau nambah." Ledek Siska demikian.
"Aku hanya kaget mendengar ucapanmu, Siska. Maaf." Imbuh Linda.
Beberapa menit bubur ayam yg mereka lahap telah habis tak tersisa. Linda kembali melajukan mobilnya menuju kampus mereka.
Setibanya di kampus, Linda sudah di tunggu Evan, kekasih hatinya.
"Udah lama nunggunya, Beb?" Tanya Linda yg langsung mendaratkan pelukan juga ciuman di kedua pipi kekasihnya itu.
Evan pun membalas pelukan serta ciuman selamat pagi dari Linda.
"Ya ya ya, anggap saja aku nyamuk." Siska berkata sambil melewati kedua orang yg sedang memadu kasih didepan matanya itu.
Linda dan Evan hanya terkekeh melihat tingkah Siska.
Siska sudah terbiasa dengan bawelan Linda, dia hanya mendengarkannya saja. Karna dijawab pun tidak akan membuat sahabatnya itu menghentikan petuahnya.
"Kamu masuk gih, Beb. Nanti sepulang kuliah pulanglah bersamaku, Mommy menunggu mu dirumah." Evan berkata dengan menyunggingkan seulas senyumnya.
"Oke Beb, aku masuk duluan ya. Kamu jangan genit-genit sama cewe-cewe itu. Awas aja kalau berani lirik kanan kiri !" Linda menunjukan ancaman dengan mengepalkan tinju kearah Evan, membuat kekasihnya itu berlagak takut pada ancaman Linda.
Kelas kuliah mereka pun akhirnya dimulai, Siska Linda beserta teman satu kelasnya memperhatikan penjelasan dosen dengan seksama.
Berbeda denga situasi kampus Siska, Kini Ken yg sudah berada diruang kerja CEO miliknya tengah memarahi seseorang.
"Bagaimana bisa kamu lalai dalam msalah seperti ini!" Bentak Ken dengan melemparkan berkas berwarna cokelat ke lantai hingga membuat kertas didalamnya berserakan.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus ssegera mungkin menyelesaikannya!" Perintah Ken dengan nada dinginnya.
__ADS_1
Ken memang aslinya seperti itu, keras dan juga dingin. Hanya bersama Siska dirinya bisa melunak, seperti bertemu pawangnya.
Ketika Ken memarahi salah satu karyawannya yg lalai bekerja, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Ternyata itu Mama Monic.
Wanita paruh baya yg masih nampak seperti perempuan karier itu mendekati putranya. Dipeluknya dan diciumnya Ken.
"Kenapa pagi-pagi sudah marah seperti itu nak? Tidak baik jika ada pengunjung yg mendengarnya. Mereka akan lari ketakutan dan pergi meninggalkan swalayan kita ini." Jelas Mama Monic.
"Dia melakukan kesalahan Ma, makanya aku memarahinya. Aku tidak akan bertindak kasar jika dia bekerja dengan baik." Jawab Ken kembali mendudukan dirinya di kursi kebesarannya itu.
Mama Monic masih menatap putranya itu dengan seksama.
"Apa Yoga tidak mengatakan padamu jika aku kemarin kesini, dan menyuruhnya menyampaikan pesan padamu jika kamu harus menghubungi ku?" Tanya Mama Monic kembali.
Ken segera berdiri memeluk Mamanya itu.
"Astaga, maafkan aku Ma. Aku benar-benar lupa. Kemarin Yoga sudah mengatakannya, tapi aku kelelahan dan akhirnya tertidur tanpa sempat menghubungi Mama." Tutur Ken.
"Ada apa sebenarnya hingga Mama kekantor ku lagi hari ini? Sepertinya ada suatu hal yg penting. Kenapa tidak bicarakan di apartemen ku saja Ma?" Tanya Ken kepada wanita paruh baya itu yg menatap Ken dengan tatapan yg entah apa sulit ditebak.
"Mama ingin bertanya sesuatu padamu, Ken. Tapi Mama ingin kejujuran. Apapun itu, tolong jangan sembunyikan dari Mama." Sorot mata Mama Monic seketika mengisyaratkan jika Ken tengah berada dalam masalah saat ini.
"Baiklah. Apa yg ingin Mama katakan?"
"Siapa perempuan berambut pirang yg bersamamu beberapa hari yg lalu di Cafe (titttttt) (sensor aja yaa biar tidak ada dusta diantara kita) wkwkwkk." Selidik Mama Monic.
"Maksut Mama?"
"Jangan pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu Ken!" Bentak Mama Monic kala mendapati jawaban putranya. Mama Monic kemudian mengambil ponselnya, memperlihatkan layar ponselnya kepada Ken. Disana terlihat Ken tengah membopong Siska, terlihat pula foto ketika Ken membawa Siska kesebuah penginapan. Bahkan mereka satu kamar.
Sebelum menjelaskan, Mama Monic menatap tajam kearah Ken.
"Keluarga Wijaya tidak boleh memiliki hubungan dengan wanita sembarang! Apa kamu mengerti Ken Wijaya!" Mama Monic mengatakan kalimat terakhir dengan nada penekanan.
__ADS_1
"Kamu itu seorang penerus Wijaya Group Ken! Kamu harus menjaga nama baik mu juga nama baik keluarga! Mama tidak mau tahu, apapun hubungan kalian, sudahi saat ini juga sebelum Mama mengatakannya kepada Daddy mu!" Ancam Mama Monic yg saat itu juga langsung keluar meninggalkan Ken yg masih shock dengan ucapan Mamanya.