Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 21 - Kasmaran


__ADS_3

Mendengar pujian dari senior tempatnya bekerja membuat Siska tersipu malu.


"Sudah, sudah. Lanjutkan pekerjaan kalian. Siska, kamu duduk disebelah sana." Zahra menunjuk salah satu kursi disebelah pojok dengan komputer didepannya.


"Baik kak." Siska pun berjalan menuju tempat duduknya dan memulai pekerjaannya dengan bimbingan Zahra.


Satu jam Zahra mengarahkan Siska dengan pekerjaan yg harus ia selesaikan setiap harinya. Tidak begitu sulit, karena Siska memiliki otak kecerdasan yang lumayan tinggi. Perempuan ini juga termasuk mahasiswi berprestasi di kampusnya.


Saat Siska sibuk bekera, tidak terasa hari sudah mulai petang. Rekan kerja Siska yang notabennya sudah karyawan tetap disana satu persatu meninggalkan pekerjaan mereka yang sudah selesai.


Zahra mendekati Siska yang masih sibuk dengan latar komputernya.


"Siska, sebaiknya kamu istirahat dulu. Sejak tadi bekerja kamu pasti lapar bukan?" Tanya Zahra sembari menepuk pundak adik seniornya.


"Tidak usah kak, tadi aku sudah makan sebelum berangkat kesini. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ku,kak." Siska menjawab dengan senyumannya.


"Baiklah, aku akan menunggu pekerjaan mu. Jika ada yg tidak kamu mengerti kamu bisa menanyakannya kepdaku. Jangan sungkan." Zahra berlalu menuju tempat duduknya kembali setelah sedikit berbincang dengan Siska.


Masih diperusahaan Wijaya Group.


Berbeda ruangan, seorang pria yang tengah senyum-senyum sendiri melihat layar laptop didepannya itu mengusik asistennya yang saat ini berada diruangannya.


"Apa yang sedang dikerjakan Ken? Kenapa dia terlihat bahagia. Senyum-senyum sendiri seperti sedang kasmaran." Gumam Yoga dalam hati.


"Ekhmmmm, Ken." Panggil Yoga.


Ken memberikan isyarat diam kepada Yoga. Entah apa yang sedang dilihatnya hingga mengabaikan seseorang yang berada diruangannya bosan memandangnya sedari tadi.


Setelah puas, Ken menutup kembali laptopnya.


"Maaf Ga, tadi kamu ingin mengatakan apa?" Ken bertanya masih dengan gaya senyum-senyum sendiri seperti ketika menatap layar laptop didepannya.


"Kamu mau pulang sekarang atau nanti, Ken? Ini sudah jam pulang kerja." Yoga bangkit dari duduknya mendekati meja Ken dan kembali duduk dikursi tepat didepan Ken.


"Jangan menatapku seperti itu, Ga. Aku tadi sedang fokus mengamati wanitaku." Ken mengatakanya dengan enteng tanpa beban setelah penolakan Mama Monic yang terang-terangan pagi tadi.

__ADS_1


"Ken, apa kamu sudah memikirkan strategi untuk meluluhkan Nyonya?" Tanya Yoga penasaran.


Ken menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin kamu menyembunyikan Siska diperusahaan ini, Ga. Tutup semua informasi jika Siska bekerja di perusahaan Wijaya Group. Aku tidak ingin Mommy ataupun Daddy mengetahui keberadaan Siska. Cukup informasi yang sudah didapatkan Mommy entah dari siapa, selebihnya ku percayakan padamu."


"Akan aku usahakan semaksimal mungkin, Ken." Tegas Yoga memantapkan atasannya.


Ken berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan, sebelum menutup.pintu, Ken berpesan jika dirinya akan pulang sendiri. Dan menyuruh Yoga untuk lebih dulu pulang karena dirinya masih ada sedikit urusan dikantor.


Yoga paham, pasti atasannya itu akan menemui wanitamya, siapa lagi kalo bukan Siska.


Dan benar saja, langkah kaki sang CEO berhenti tepat di depan ruangan yang bertuliskan 'Ruang Personalia'.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ken masuk keruangan itu. Namun sosok yang dicarinya tidak ditemukan.


"Kemana dia? Apa dia sudah pulang? Bukankah seharusnya diawal pekerjaannya dia harus pulang jam 8 nanti." Gumam Ken dengan pandangan yang menelisik seluruh ruangan disana.


"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Ken terperanjat dengan panggilan seseorang, sebelum menoleh Ken harus memastikan jika perempuan yang menegurnya tadi bukanlah Siska. Ken tidak ingin jika Siska mengetahui siapa dirinya sebelum Ken mendapatkan Siska terlebih dulu.


"Aku hanya ingin meminta laporan penggajian karyawan bulan ini, Zahra. Besok berkas itu sudah harus dimeja kerja ku." Ucap Ken.


"Baik Pak. Akan saya siapkan berkasnya malam ini juga." Zahra menjawab dengan sedikit mendudukkan kepalanya.


"Tunggu, Bukankah seharusnya ini sudah jam pulang kerja? Kenapa kamu masih disini Zahra?" Tanya Ken berpura-pura untuk menghilangkan kecanggungannya ketika ada seseorang mendapati dirinya sedang mencari sosok wanitanya.


"Hari ini aku akan menemani karyawan baru hingga nanti jam 8, Pak. Dia baru masuk kerja hari ini, jadi saya rasa sudah sepantasnya sebagai kepala HRD aku harus mengawasi karyawan lainnya, Pak. Terlebih Siksa masih baru." Ungkap Zahra kepada atasannya.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi. Lanjutkan pekerjaan kalian." Titah Ken dan meninggalkan ruangan tersebut.


Zahra memandang kepergian atasannya itu hingga punggung nan kekar sudah tak terlihat oleh pandangannya lagi.


"Tidak biasanya Bos besar turun tangan sendiri sampai kesini hanya untuk meminta laporan berkas karyawan? Kenapa tidak meminta Pak Yoga yang menyampaikannya padaku?"


Zahraasih terheran-heran dengan sikap Bosnya yang menurutnya tidak seperti biasanya itu.

__ADS_1


"Kak Zahra, maafkan aku. Aku lama ya? Tadi nyari toiletnya nggak ketemu kak, padahal ada disebelah?" Siska berucap setelah masuk keruangan kerjanya.


"Ah tak apa, Siska. Segeralah beberes. Sebentar lagi kita pulang. Ayo. Aku juga akan menyiapkan berkas untuk Bos besok pagi." Zahra juga menyiapkan berkas gaji karyawan bulan ini seperti yang tadi diperintahkan oleh Ken.


Kedua perempuan itupun segera menyelesaikan pekerjaannya. Siska yang menjadi karyawan baru tidak terlalu kesulitan mengerjakan berkas bulanan yang berisi data absensi karyawan kantor.


Seusai berkemas, Zahra mengajak Siska untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Sedangkan Ken masih setia berada diruang kebesarannya. Masih ditatapnya laptop yang kini menjadi benda kesayangan sejak Siska mulai bekerja di perusahaan Wijaya Group.


Ya, karen Ken telah memasang semua rekaman cctv diruang personalia yang akan menyambung ke laptopnya.


Ken ingin setiap langkah Siska selalu terawasi olehnya. Ia akan memastikan jika Siska baik-baik saja selama berada didekatnya.


Melihat 2 perempuan berjalan beriringan menuju parkiran, Ken lalu bangkit dan meraih jas yang bersandar dikursinya.


Dilangkahkan kakinya menuju luar ruangan.


Ken segera menuju parkiran, sudah tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ada seorang penjaga yang terheran-heran dengan sosok pria yang dilihatnya diparkiran.


"Kenapa Tuan Ken pulang semalam ini? Tidak biasanya Bos besar bekerja hingga malam hari." Batin penjaga kantor yang menundukkan kepala ketika Ken melewatinya.


Ken melajukan mobilnya dengan pelan, masih terngiang jelas di ingatannya ketika mengingat Siska seharian ini melalui cctv yang ada dilaptopnya.


Bagaimana perempuan itu berkenalan dengan para seniornya, bagaimana dia berbicara, tersenyum bahkan tersipu ketika para seniornya memuji dirinya. Semua itu tidak lepas dari pengawasan Ken.


Tak terasa Ken sudah sampai didepan gedung pencakar langit yang menjadi huniannya.


Ken menyuruh petugas apartemen untuk memarkirkan mobilnya. Dirinya segera melangkahkan kaki menuju apartemen menggunakan Lift khusus.


Lift yang hanya dipergunakan oleh kalangan pengusaha saja.


Sesampainya disana, Ken mendapati lampu apartemen yang sudah menyala.


"Siapa yang berani masuk ke apartemen tanpa seizinku!" Ucap Ken sembari membuka pintu, dilihatnya kanan kiri. Pandangannya terus mencari siapa gerangan yang berani mengusik huniannya.

__ADS_1


__ADS_2