Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 30 -


__ADS_3

Maaf baru sempat Up lagi yaa Readers 🙏


Dikarenakan pekerjaan ibu rumah tangga anak dua jadi kalo kecapekan udah nggak sempet pegang hp apalagi buat nulis bab baru 😔


Tapi akan tetap aku usahakan agar Novel pertama ku ini tamat secepatnya 🤭


Mohon dukungannya terus yaa kaka² 🤲🏻


Yg sudah berkenan mampir saya ucapkan terimakasih dan salam kenal 🥰


..........


Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna, Siska melangkahkan kakinya menuju ruangan personalia.


Ketika akan membuka pintu, Siska berpapasan dengan Zahra yang membawa laporan keuangan untuk diserahkan kepada Yoga.


"Siska, kamu sudah datang?" Tanya Zahra penuh senyum dan ramah.


"Iya kak, baru saja sampai kantor. Ada yang bisa aku bantu kerjakan kak?" Tanya Siska kembali.


"Emm, sebenarnya aku masih banyak pekerjaan. Tapi, aku juga harus ke ruangan asisten CEO untuk menyerahkan laporan ini. Bisakah kamu mengantarkannya untuk ku?" Pinta Zahra kepada Siska sambil menyodorkan berkas yang ada ditangannya.


"Baiklah kak, biar aku yang mengantarkannya. Kak Zahra lanjutkan saja pekerjaan disini."


"Terimakasih Siska."


Siska dan Zahra pun kembali melakukan pekerjaannya masing-masing.


Siska yang bertugas mengantar laporan keruangan Yoga menaiki lift untuk menuju kesana karena ruangan CEO dan asistennya berada dilantai 5, sedangkan Siska berada dilantai 3.


Sesampainya dilantai yang dituju, Siska memperhatikan ruangan yang berada disana.


Dilihatnya pintu bertuliskan 'Ruang Asisten CEO' dan pintu sebelahnya bertuliskan 'Ruang CEO'.


Siska kemudian mengetuk pintu ruangan Yoga.


Tok tok tok


"Masuk." Perintah seseorang dari dalam ruang asisten CEO yang tak lain adalah Yoga.


Siska berjalan menghampiri seseorang yang saat ini tengah duduk dengan posisi membelakangi dirinya.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya kesini membawa laporan keuangan untuk gaji karyawan sesuai yang Bapak minta." Jelas Siska sedikit heran karena yang diajak bicara sama sekali tidak memutar posisi duduknya.


"Baiklah, taruh saja dimeja. Dan kembalilah bekerja. Terimakasih." Yoga sedikitpun tidak memperlihatkan wajahnya kepada Siska karena dia sudah hafal dengan suara perempuan yang saat ini tengah berada satu ruangan dengannya.


Jika saja Siska melihat siapa sosok pria yang berada dibalik kursi asisten itu, mungkin Siska akan langsung mengenali Yoga dan semua rencana Ken akan hancur seketika.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Siska pamit dan langsung keluar ruangan Yoga.


Saat mendengar pintu telah tertutup, Yoga membalikkan kursinya.


"Huhhh, syukurlah Nona Siska tidak mengenali suaraku ataupun menaruh curiga padaku." Yoga mengelus dadanya yang sedikit gelisah tatkala berbicara dengan Siska beberapa waktu lalu takut jika identitasnya terbongkar.


Sedangkan sepanjang langkah Siska kembali menuju ruang kerjanya, dia terus memikirkan asisten CEO yang enggan menatapnya.


"Mungkin, seorang atasan memang menganggap orang bawahan sepertiku tidaklah penting. Ah sudahlah, itu urusan dia. Aku juga tidak rugi jika dia tidak mau melihat ku." Gumam Siska.


Sesampainya diruang personalia, Zahra kembali menghampiri Siska.


"Apa Pak Yoga ada diruangannya Sis?" Tanya Zahra.


"Ada kak. Tapi beliau tidak terlalu menanggapi kedatangan ku keruangannya." Jawab Siska dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Ah kak Zahra naksir ya sama Pak Yoga?" Ledek Siska.


"Eh tunggu, siapa tadi? Yoga? Sepertinya namanya tidak asing untuk ku." Siska mengingat ingat seorang kenalannya yang mungkin bernama Yoga.


"Mana mungkin kamu kenal Pak Yoga asisten kita Sis. Karena yang aku dengar beliau baru saja pulang dari luar negeri sebelum akhirnya bekerja di perusahaan ini. Sudahlah, lebih baik kita segera selesaikan pekerjaan agar tidak pulang malam lagi Sis." Jelas Zahra yang kemudian berlalu meninggalkan Siska diruang kerjanya.


Sedangkan diruang CEO, Ken tengah memperhatikan Siska dari cctv yang terhubung ke ponselnya.


"Akan ku beri pelajaran kamu malam ini." Gumam Ken dengan senyum penuh arti.


Kemudian Ken menghubungi Yoga agar keruangannya.


"Ga, berikan pekerjaan tambahan untuk Siska malam ini. katakan saja jika itu pekerjaan tambahan untuk karyawan training. Dan juga, pekerjaan lemburnya tidak cuma-cuma karena akan masuk kedalam hitungan gaji juga." Perintah Ken kepada assistennya.


"Baik, Ken. Nanti setelah jam istirahat aku akan menemui Zahra untuk memberikan tambahan pekerjaan untuk Siska agar malam ini dia bekerja lembur dikantor." Yoga mengambil berkas yang diberikan Ken kepadanya.


"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi, aku kembali bekerja dulu, Ken."


Ken hanya mengangguk dan Yoga pun membungkukkan sedikit badannya dan melangkah keluar ruangan Ken.

__ADS_1


Terdengar bunyi deringan ponsel berkali-kali.


Ken melirik layar ponselnya.


'Mommy'.


Sebenarnya, Ken enggan mengangkat panggilan dari perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Bukan tanpa sebab, melainkan karena Mommy Monic pasti akan melakukan berbagai macam cara agar Ken tidak berhubungan dengan Siska.


Padahal apa yang diketahui Mommy'nya perihal kehidupan Siska itu belumlah tentu kebenarannya.


Dengan malas, Ken akhirnya mengusap icon berwarna hijau pada layar ponselnya


"Kenapa lama sekali mengangkat telepon dari Mommy, Ken?" Tanya Mommy Monic dari seberang telepon.


"Aku sedang bekerja, Mom. Ada apa menelponku?" Jawab Ken ketus.


"Malam ini, pulanglah. Mommy menyiapkan makan malam spesial untukmu." Seru Mommy Monic.


"Hari ini pekerjaan ku cukup banyak Mom. Aku tidak bisa janji pada Mommy."


"Kamu ini kan Bosnya, Ken. Kamu bisa mengaturnya bukan? Biar Yoga dan karyawan kamu lainnya yang mengerjakan pekerjaan mu." Mommy Monic mulai memperlihatkan kemarahannya.


"Justru karna aku Bosnya, Mom. Jadi, aku harus memberi contoh kepada semua karyawanku. Lagi pula aku juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ku seenaknya Mom, apa kata para investor jika mereka tahu pimpinan Wijaya Group bekerja seenaknya sendiri." Ucap Ken yang terus mencari alasan agar tidak bisa menghadiri acara makan malam bersama orangtuanya. Ken paham betul dengan Mommy'nya. Pasti beliau sudah merencanakan sesuatu, maka dari itu Ken bersikeras untuk menolaknya secara halus. Toh nanti malam juga Ken sudah memiliki rencana untuk Siska, jadi tidak mungkin dirinya akan membatalkan rencana yang sudah dipersiapkan untuk sang pujaan hatinya nanti.


Setelah mendapat pernyataan demikian, akhirnya Mommy Monic menyerah dan berhenti membujuk Ken. Tapi dengan syarat, besok siang Ken harus pergi makan siang bersama ibunya itu juga seseorang yang identitasnya masih dirahasiakan oleh Mommy Monic.


"Baiklah, terserah Mommy saja. Aku lanjut kerja dulu yaa Mom. Sampaikan salamku untuk Daddy. Miss you Mom." Ken pun mematikan sambungan teleponnya.


"Akan aku buktikan pada Mommy jika Siska pantas dan layak menjadi pendamping ku. Mommy hanya belum mengenal Siska secara detail, makanya Mommy langsung menolak Siska begitu saja tanpa memberi kesempatan aku untuk memiliki hubungan dengannya." Gumam Ken dalam hati.


Sedangkan Mommy Monic tengah diseliputi amarah juga kekecewaan terhadap putra semata wayangnya itu.


"Lihatlah Dad, anakmu itu semenjak kenal dengan perempuan nggak bener jadi ikut-ikutan menentang ibunya. Siska Siska itu memang memberi efek buruk kepada Ken. Aku semakin yakin jika menentang hubungan mereka." Gerutu Mommy Monic kepada suaminya.


"Mom, Ken sudah besar. Jangan mengatur masalah pribadinya, apa lagi ini masalah percintaannya. Percayalah pada putra kita, dia pasti tau perempuan yang seperti apa yang akan dijadikannya pendamping hidup." Ucap Tuan Wijaya sambil merangkul istrinya agar lebih tenang menghadapi putranya.


"Tapi Dad."


Belum juga menyelesaikan ucapannya, Tuan Wijaya sudah berlalu meninggalkan istrinya seorang diri diruang keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2