Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 27 - Ponsel Baru


__ADS_3

Di perusahaan Wijaya Group, Yoga masih melirik ruangan CEO yang terlihat masih sunyi. Pertanda jika sang atasan belum datang.


Semalam seusai pulang dari Club, Ken memang sempat berpesan kepada Yoga agar tidak menjemputnya di apartemen karena dirinya akan berangkat ke kantor mengendarai mobil sendiri.


"Beruntung Nona Linda mengajak bertemu saat jam makan siang nanti, aku harus membicarakan pertengkaran Ken dengan Nona Siska nanti." Yoga berkata sendiri didalam ruangannya.


Selang beberapa menit, seorang karyawan perempuan yang tak lain Zahra mendatangi ruangan Yoga yang pintunya terbuka.


"Maaf Pak Yoga, barusan saya mendapat informasi jika Pak Albert dari perusahaan distributor sepatu tidak bisa menghubungi Pak Ken sejak kemarin. Beliau ingin bertemu dengan Pak Ken untuk membicarakan kerja sama kontrak Pak." Tutur Zahra.


"Katakan pada Pak Albert jika ponsel Tuan Ken kemarin terjatuh dan nanti akan dihubungi langsung oleh beliau." Jawab Yoga.


"Baik Pak, saya permisi." Zahra pun melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Didalam ruangan Yoga baru teringat jika tadi pagi dia sudah membelikan ponsel baru untuk atasannya.


Karena yang dibelikan ponsel tak kunjung datang, maka ponselnya pun masih berada di ruang kerja Yoga.


..................


Sinar matahari yang mulai menembus masuk kedalam bilik gorden menyilaukan seorang pria yang tengah tidur terlelap.


"Hoahamm, sudah jam berapa ini? Kenapa aku bisa bangun kesiangan." Ken mengerjapkan matanya, merogoh saku celananya juga meraba sekeliling tempat tidurnya mencari sebuah benda pipih yang telah hancur berkeping-keping dibuatnya.


"Hah, aku lupa. Ponselku sudah hancur. Sebaiknya aku segera bersiap. Yoga pasti sudah menungguku dikantor." Ken bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Ken mengenakan pakaiannya. Setelan Jas berwarna biru navy polos yang dipadukan dengan celana yang berwarna senada semakin membuat dirinya terlihat tampan.


Sebelum meninggalkan kamarnya, Ken sekilas menatap cermin yang berada disana.


"Apa aku sudah tidak tampan dan mempesona lagi? Kenapa Siska tidak terpikat dengan wajahku ini." Gumam Ken pada dirinya sendiri.


Kemudian Ken melangkahkan kakinya menuruni lift menuju parkiran dimana mobilnya berada.


Disana, terpampang jelas hanya mobil Ken yang menyilaukan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Mobil sport berwarna biru dengan nominal harga yang fantastis. Ya, Buggati Divo, itulah mobil milik pewaris tunggal Wijaya Group.

__ADS_1


Tak memakan waktu lama, Ken akhirnya tiba dikantor pusat Wijaya Group.


Memasuki gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, Ken disapa hormat oleh satpam yang berjaga.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ken kembali mendapat sapaan hormat dari para karyawannya.


"Selamat pagi, Tuan."


Begitulah sapaan para karyawan yang hanya ditanggapi Ken dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Yoga yang telah mendengar mobil atasannya tiba, sudah bersiap menunggu didepan ruangan CEO.


"Seharusnya jika keadaan mu masih kurang baik istirahat saja dulu Ken, jangan memaksa untuk pergi ke kantor." Ucap Yoga sembari membukakan pintu CEO.


"Aku tidak apa-apa Ga, tenanglah. Ini bukanlah hal yang besar untukku." Ken menjawab dengan seulas senyumnya.


"Ini." Yoga menyerahkan paperbag berisi ponsel baru untuk Ken.


Ken bingung dan langsung membuka paperbag itu.


"Aku sampai lupa, Ga. Kamu gunakan saja untuk kepentingan perusahaan. Aku sedang tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun saat ini." Ken kemudian memberikan paperbag kepada Yoga lagi.


"O iya, Ken. Tadi Zahra mengatakan jika Pak Albert ingin membicarakan kontrak kerja sama denganmu." Ucap Yoga.


"Tolong kamu segera hubungi beliau, urus pertemuan ku dengan beliau. Kalau perlu saat jam makan siang nanti." Jawab Ken tanpa menengok kearah Yoga yang saat ini sedang bingung mau berkata apa, karena dia sudah ada janji dengan Linda. Sedangan Bosnya menyuruhnya untuk mengatur pertemuan dengan client disaat bersamaan.


"Ga, kamu masih disana?" Ken kembali bertanya sambil melihat keberadaan Yoga yang dikiranya sudah meninggalkan ruangan CEO tanpa permisi.


"A-Aku, iya Ken. Aku akan segera menghubungi Pak Albert. Aku permisi dulu." Yoga meninggalkan ruangan CEO dan kembali keruangannya.


Paperbag yang berisi ponsel itu, dikeluarkan Yoga dari tempatnya. Lalu, Yoga mengambil dompetnya.


Yoga mengambil Sim Card milik Ken ketika Ken merusak ponselnya kemarin.


Dimasukkannya Sim Card itu diponsel baru milik Ken. Baru saja menyala, terlihat beberapa pesan juga panggilan yang entah berapa banyak jumlahnya hingga membuat nada notifikasi ponsel berdering tiada henti.

__ADS_1


Nampak dilayar ponsel bertuliskan nama 'wanitaku'


Yoga yang sebenarnya penasaran dengan isi pesan itu mengurungkan niatnya untuk membukanya.


Buru-buru Yoga kembali keruangan CEO untuk memberikan ponsel itu kepada Ken.


"Ada apa Ga?" Tanya Ken setelah melihat Yoga berada diruangannya lagi.


"Maaf Ken, sepertinya Nona Siska menghubungi mu sedari kemarin." Jawab Yoga yang langsung memperlihatkan banyaknya pesan juga panggilan dilayar ponsel milik Ken.


Ken tersenyum melihat layar ponsel barunya itu. Kemudian mengambilnya dari tangan Yoga.


"Bagaimana bisa dia menghubungi ku, Ga? Bukankah ini ponsel yang baru saja kamu belikan untukku? Nomornya juga baru bukan?" Tanya Ken lagi.


"Maaf Ken, kemarin saat aku membersihkan kepingan ponsel milikmu yang rusak, aku menyimpan Sim Card nya. Karena aku pikir jika Sim Card itu pastilah berisi nomor-nomor penting didalamnya jadi aku menyimpannya. Maaf jika aku lancang, Ken." Jawab Yoga yang sedikit takut jika Ken memarahinya atas tindakannya yang tanpa seizin Bosnya.


"Tidak apa-apa, Ga. Aku justru berterima kasih. Aku akan menghubungi Pak Albert setelah ini. Kamu kembalilah keruanganmu, selesaikan pekerjaan mu. Setelah itu, aku traktir makan siang."


"Siang ini aku ada acara dengan seseorang Ken, maaf bukannya menolak traktiran darimu, tapi lain kali saja tidak apa kan Ken?"


"Baiklah kalau begitu." Tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada asistennya, Ken kembali memeriksa berkas-berkas. Begitu juga dengan Yoga yang sudah kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Yoga yang sudah terampil dengan pekerjaannya, tanpa kendala apapun dapat menyelesaikannya dengan baik. Bahkan Ken selalu puas dengan hasil pekerjaan Yoga.


..................


Diruang CEO, nampak Ken yang tengah berseri-seri membaca setiap pesan yang dikirim oleh Siska.


Entah kenapa, semenjak Ken mengenal Siska, banyak hal yang mulai berubah.


Ken yang dulunya tidak bisa hidup tanpa seorang perempuan, kini justru hidupnya tanpa ada satu orang pun perempuan yang mengelilinginya.


Hanya Siska, satu-satunya perempuan yang saat ini Ken miliki. Meskipun memiliki dalam artian bukan sebagai kekasih sebenarnya.


"Sekhawatir itukah kamu kepadaku, Sayang?" Ken bergumam sambil senyum-senyum sendiri seperti orang yang tengah dimabuk cinta.

__ADS_1


"Aku ingin lihat, apakah pertengkaran kita kemarin akan berkesan untukmu atau hanya pertengkaran sepele saja." Ken menaikkan sudut alisnya.


Sepertinya Ken memiliki sebuah rencana untuk Siska,


__ADS_2