Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 26 - Kegundahan Siska


__ADS_3

Keesokan harinya, Siska terbangun dengan posisi ponsel yang masih berada dalam genggaman tangannya. Perlahan mata Siska terbuka, melihat layar ponselnya. Tak ada balasan pesan ataupun panggilan dari Ken. Siska benar-benar merasa bersalah juga sedikit kecewa kepada dirinya.


"Kenapa aku terlalu sebodoh ini, apa yang aku katakan pada Ken tentu membuatnya sakit. Maafkan aku, Ken." Lirih Siska yang masih mencoba menghubungi Ken namun nomor Ken tidak bisa dihubungi sejak kemarin.


Siska melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia harus segera bersiap untuk berangkat kuliah.


Sebelum Siska selesai mandi, Linda sudah lebih dulu sampai dikamar kos Siska untuk menjemputnya.


"Siska, cepatlah. Aku sudah bawakan sarapan untukmu. Ayo kita makan bersama sebelum berangkat ke kampus." Teriak Linda pada Siska yang masih berada didalam kamar mandi.


Tak berapa lama, Siska pun sudah siap dengan kaos casualnya yang selalu melekat ditubuhnya setiap hari.


Siska bukanlah seorang perempuan yang terlalu memikirkan penampilan, jadi dia tidak terlalu peduli dengan pakaiannya yang kebanyakan hanya kaos juga rok jeans saja.


"Hey, kenapa wajahmu terlihat kusut seperti belum disetrika seperti itu, ada masalah apa? Kenapa tidak bercerita kepadaku?" Linda bangkit dari duduknya menghampiri Siska dan memeluk sahabatnya.


Mendapati perlakuan Linda, justru tangis Siska pecah. Tidak dapat dipungkiri jika Siska benar-benar sudah jatuh hati pada CEO Grup Wijaya.


"Sudah, berhenti menangis. Ceritakan padaku apa yang terjadi? Apa kamu dan Beni putus?" Tebak Linda.


Siska hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lalu? Apa ada kaitannya dengan Tuan Ken?" Tanya Linda kemudian.


Siska menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Ah ya ampun, sahabatku ini sekarang memang sedang kasmaran dengan Tuan Ken. manisnya." Linda mencubit kedua pipi Siska. Membuat Siska angkat bicara.


"Aku kemarin meminta Ken untuk berhenti mengangguku. Lalu setelah itu, nomornya tidak bisa dihubungi sampai sekarang. Apa tindakan kunitu berlebihan Lin?" Tanya Siska dengan air mata yang lolos begitu saja dari matanya.


Linda merengkuh bahu sahabatnya itu dan mengajaknya duduk.


"Kenapa kamu membohongi dirimu sendiri Sis? Bukankah sekarang justru kamu merasa sedih? Merasa tersakiti bukan?" Linda menjeda kalimatnya agar Siska dapat memikirkan kembali ucapannya kemarin kepada Ken.


"Siska, ikutilah kata hatimu. Jangan mengelak. Sebelum semuanya terlambat. Aku tahu, Tuan Ken tidak main-main dengan perasaannya. Mungkin saat ini beliau sedang menenangkan diri jadi mematikan ponselnya. Bukankah hanya tinggal 3 hari kedepan kalian juga akan bertemu untuk memberikan jawaban mu tempo hari?" Jelas Linda kepada Siska.

__ADS_1


"Statusku masih kekasih Beni, Lin. Aku tidak mungkin mengatakan pada Ken kalo aku mulai memiliki perasaan kepadanya. Itu justru akan membuatnya semakin sakit dan kecewa kepadaku." Ucap Siska lirih.


Linda kemudian menggenggam jemari sahabatnya. Meyakinkan Siska.


"Dengarkan aku, Siska. Apa kamu mau terus-terusan menjalin hubungan dengan Beni dengan cara seperti ini? LDR? Jelas-jelas disini ada Tuan Ken yang secara tulus mengatakan jika beliau mencintai kamu. Itu tidak akan sulit bagi kalian menjalani hubungan kedepannya." Tutur Linda.


"Putuskan Beni, dan mulailah mencintai Tuan Ken. Aku lihat kamu sudah mulai memiliki perasaan juga kepadanya." Imbuh Linda lagi sembari memberikan sebungkus bubur ayam yang sudah dibelinya ketika perjalanan ke kos Siska.


"Makanlah dulu, Sis. Nanti kita bicarakan masalah ini lagi. Lihatlah, buburnya sudah dingin karena kita terlalu lama menggosip." Linda terus saja mengoceh, sedangkan Siska asyik dengan pikirannya sendiri.


Setelah menghabiskan 1 porsi bubur, mereka bergegas menuju kampus.


Linda melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena mata kuliah mereka masih dimulai jam 9 nanti. Jadi, masih ada waktu luang untuk bersantai diperjalanan.


Linda melirik sahabatnya yang duduk disamping kemudi. Siska paham jika Linda menunggu kalimat yang akan Siska lontarkan.


"Aku tidak mungkin memutuskan hubungan ku dengan Beni, Lin. Aku masih mencintainya." Ucap Siska dengan wajah menunduk.


"Apa yang kamu harapkan dari hubungan kalian ini Sis? 2 tahun lebih kalian berpacaran, tanpa kejelasan. Bahkan setahun belakangan ini Beni juga mengabaikan mu bukan? Apa kamu tidak merasa jika Beni menyembunyikan sesuatu dibelakang mu?" Linda menegaskan ucapannya.


Linda menepikan mobilnya. Memberikan Siska tisu. Kemudian memeluknya erat.


"Aku tidak bermaksud membuat mu bersedih, Sis. Maafkan aku."


"Aku mengerti Lin. Kamu memang sahabat terbaikku. Terimakasih atas nasehat mu. Aku akan memikirkannya dengan baik."


Kemudian Siska melonggarkan pelukannya dan menatap Linda dengan senyuman manisnya.


Mereka pun berhenti mengobrol, Siska yang masih berusaha menghubungi Ken namun hasilnya tetap nihil. Sedangkan Linda, sedang mengirim pesan kepada seseorang.


'Asisten Yoga, bisakah kita bertemu saat jam makan siang nanti? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Anda.'


Begitulah isi pesan yang ditulis Linda kepada asisten Yoga.


Tak berapa lama, pesan mu mendapat balasan.

__ADS_1


'Baik Nona.'


Linda menaikkan sudut bibirnya mendapati jawaban dari Yoga.


"Aku akan mengajak Evan nanti, agar dia menemani ku. Rasanya sedikit canggung jika hanya bertemu berdua saja dengan asisten Yoga." Gumam Linda dalam hatinya.


"Siska, kamu masuk duluan aja ya. Aku mau menunggu Evan dulu. Sepertinya dia belum datang." Ucap Linda.


"Baiklah, baiklah. Memang kalau sudah bucin tidak bisa diganggu gugat. Aku masuk duluan." Balas Siska sembari melangkahkan kakinya menuju kelas.


10 menit di parkiran, akhirnya yang ditunggu-tunggu Linda datang.


"Maaf Beb, aku kena macet tadi jadi telat." Sapa Evan yang langsung memberikan pelukan juga ciuman pipi kepada Linda.


"Nggak papa, Beb. Aku juga baru aja nyampe kok."


Mereka pun berjalan bergandengan menuju kelas.


Evan terlebih dulu mengantar Linda ke kelasnya, karena mereka berbeda jurusan jadi berada dikelas yang berbeda.


"Jam makan siang nanti temani aku ya Beb. Aku ada janji bertemu dengan seseorang." Pinta Linda.


"Ingin menemui siapa Beb? Memangnya tidak mengajak Siska?" Tanya Evan.


Linda seketika menutup mulut Evan dengan jari telunjuknya.


"Jangan keras-keras ngomongnya, Beb. Siska bisa denger nanti. Dia nggak tahu kalau aku ada janji dengan asisten Yoga."


"asisten Yoga?" Evan sedikit heran dengan ucapan Linda.


"Iya Beb. Aku harus melakukan sesuatu untuk Siska. Kemarin Siska dan Tuan Ken bertengkar. Sampai sekarang ponsel Tuan Ken tidak bisa dihubungi. Siska sebenarnya mengkhawatirkannya tapi dia enggan mengatakan itu padaku. Dasar, masih saja gengsi dengan sahabatnya sendiri." Ucap Linda sambil melirik kanan kiri takut ada yang mendengar obrolannya dengan kekasihnya.


"Baiklah, Beb. Aku akan menemani mu. Sekarang masuklah. Siang nanti aku akan menghampiri mu. Agar Siska tidak curiga, sebaiknya nanti aku yang mengatakan padanya jika kita akan pergi berdua saja."


"Kamu memang terbaik Beb." Linda mencium pipi Evan kemudian berlari memasuki kelas meninggalkan Evan yang masih geleng-geleng dengan tingkah kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2