
Sesampainya diparkiran apartemen, Yoga segera mengambil mobilnya. Melajukan mobilnya menuju sebuah Club malam sesuai perintah Ken.
Sekitar menempuh waktu kurang lebih 15 menit, sampailah mereka ditempat tujuan.
Terdengar suara musik dari dalam Club, juga gemuruh suara pria maupun wanita yang tengah berpesta.
Memasuki Club, Ken disambut beberapa perempuan berpakaian sexy. Mereka menawarkan diri untuk menyenangkan Ken malam ini. Ken hanya diam saja tanpa menanggapi beberapa perempuan disana, begitu juga dengan asisten Yoga yang hanya menurut mengikuti langkah kaki Tuannya.
Ken kemudian berhenti didepan meja bartender, dia memesan wine kepada barista.
"Ken, sebaiknya jangan terlalu mengkonsumsi banyak alkohol. Aku takut jika nantinya kamu mabuk disini. Kontrol lah keadaan mu sekarang ini." Titah Yoga ketika Ken mengambil 1 botol wine dari tangan barista.
"Tenanglah, Ga. Kalau hanya 1 botol aku tak akan mabuk. Kamu seperti meremehkan ku saja." Ken meyakinkan asistennya sembari terus meneguk wine yang berada digenggaman tangannya.
Yoga tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan Ken saat ini. Hanya karena masalah percintaan, Tuannya itu hingga mencari hiburan seperti ini.
"Nona Siska benar-benar berpengaruh dalam kehidupan Ken. Aku tidak bisa tinggal diam jika sudah seperti ini." Gumam Yoga yang masih menatap Ken dengan iba.
Tak terasa jika wine Ken, sudah kosong. Ia meminta lagi kepada barista Club, tapi Yoga melarangnya.
"Ken, ayo kita pulang. Kamu sudah menghabiskan 1 botol wine." Ajak Yoga.
Namun Ken justru tidak bergeming dari tempat duduknya saat ini. Yoga menarik pergelangan tangan Ken, membuatnya sedikit menaikkan kalimatnya.
"Ga, biarkan aku menghabiskan malam disini. Jika kamu ingin pulang, maka pulanglah." Bentak Ken yang sudah mulai mabuk alkohol.
"Baiklah, aku akan membiarkan mu menghabiskan 1 botol lagi. Tapi setelah itu kita pulang." Ucap Yoga mengalah karena bagaimanapun Ken adalah atasannya, jadi dia akan menuruti kemauan Bosnya.
Ken kembali mendudukann dirinya sambil meneguk wine keduanya.
Terlihat dari seberang sana, seorang wanita tengah memperhatikan Ken juga Yoga.
Wanita bertubuh bak gitar Spanyol dengan balutan busana mini yang membuat tubuhnya ter-expose secara jelas perlahan melangkahkan kakinya menuju Ken dan Yoga berada.
Disapanya Yoga dengan seulas senyum, dan Ken. Jemari wanita itu mengusap pundak Ken perlahan, membuat kepala Ken refleks menoleh kearah belakang punggungnya.
"Tuan, bolehkah saya menemani Anda malam ini? Saya lihat, Anda butuh hiburan." Kata wanita itu dengan kalimat yang sedikit dibuat menggoda.
__ADS_1
Ken menanggapi dengan acuh.
Terlihat wanita itu tidak menyerah begitu saja. Ia justru memberanikan diri duduk bersebelahan dengan Ken Sedangkan Yoga merasa risih dengan tindakan sang wanita itu. Meskipun wanita yang mendekati dirinya dan Ken memanglah terlihat sexy dan menggoda iman, tapi baginya dia memanfaatkan tubuhnya untuk merayu pelanggan Club disini. Seperti sudah keahliannya memang.
Wanita itu mengambil botol wine dari tangan Ken, dan menuangkannya kedalam gelas sloky yang berjajar diatas meja.
"Minumlah." Wanita itu berucap sembari memberikannya kepada Ken dan juga Yoga. Yoga hanya meliriknya.
Ken langsung menerima gelas yang berisi wine, sedangkan Yoga menolaknya. Dia harus tetap sadar agar bisa menjaga Ken.
Tanpa permisi, wanita itu meneguk wine yang ditolak Yoga.
Glek!
Dalam satu tegukan, gelas itu sudah kosong tak tersisa.
Ken yang melihat aksi wanita itu tersenyum smirk.
"Mainan asyik nih. Mari kita lihat, siapa yang akan tumbang lebih dulu. Aku atau kamu." Gumam Ken dalam hati.
"Berikan kami, 5 botol wine lagi." Ucap Ken kemudian.
"Siapa namamu?" Ken menoleh.
"Mona." Jawab wanita itu singkat namun uluran tanggannya kepada Ken tidak juga dilepas, justru semakin menggenggam kuat telapak tangannya. Seakan ingin membuat dirinya agar terjatuh kedalam pelukan Ken.
"Ayo kita bertaruh, sepertinya kamu menyukaiku bukan? Apa yang kamu inginkan?" Tanpa basa-basi Ken menawarkan permainan kepada wanitu itu.
Dan benar saja, wanita itu segera mengatakan keinginannya.
"Aku tahu siapa kamu, Tuan Ken Wijaya. Seorang Cassanova dimasanya." Wanita itu sengaja menekan nama Ken saat mengatakannya.
"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Ken lagi.
"Simpel. Selama ini banyak perempuan yang menginginkan dirimu, begitu juga aku. Tapi, bukan itu yang aku inginkan." Balas wanita itu menggantungkan keinginannya.
Yoga yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan Ken dan teman wanitanya kini mulai bersuara.
__ADS_1
"Katakan saja apa maumu, jangan bertele-tele!" Gertak Yoga yang langsung membuat wanita itu menyunggingkan bibirnya seakan yakin jika dirinya akan memenangkan permainan yang ditawarkan Ken kepadanya.
"Aku ingin kamu yang menginginkan ku."
Sontak saja jawaban Mona terdengar aneh. Ken bahkan tidak pernah melirik perempuan yang mengantri kepadanya, dia hanya menginginkan perempuan yang menurutnya menggugah seleranya saja. Karena bagi Ken perempuan yang dijadikannya kekasih hanya untuk pelarian kejenuhannya semata. Tapi lain cerita jika mengenai Siska. Ken benar-benar seakan tersihir oleh mantra yang ada Pada diri Siska. Seolah singa ketemu pawangnya.
"Dasar perempuan gila." Ketus Yoga. Tanpa dihiraukan Mona.
"Bagaimana, Tuan Ken Wijaya. Apa anda menyanggupi permintaan ku?" Tantangnya.
"Lalu, apa yang akan aku dapat jika aku berhasil mengalahkanmu?" Ken tersenyum licik.
"Aku akan memberikan segalanya yang anda mau, semuanya. Bahkan jika anda mengingikanku setiap malam aku pun bersedia." Jemari Mona kembali menjelajahi pundak Ken yang bidang.
Mendengar penuturan Mona, tanpa berpikir panjang, Ken menyanggupinya.
Bukan karena Ken ingin menghabiskan malam bersama wanita itu, tapi bagi Ken wanita itu sudah lancang dengan menyuguhkan wine kepadanya.
Itu sama saja, menyerahkan hidupnya kepada sang pewaris tunggal Wijaya Group. Tentu saja Ken tersenyum dalam hatinya, karena dirinya yakin akan memenangkan permainannya.
Permainan yang diberikan Ken adalah, siapa yang masih tetap memiliki kesadaran setelah meneguk masing-masing wine 5 botol didepannya.
Sebelum permainan dimulai, Ken menyuruh asisten Yoga untuk menjadi wasit. Yoga memberikan waktu 1 kurun dalam waktu 1 jam, keduanya harus menghabiskan wine 5 botol. Siapa yang lebih dulu habis belum tentu menang, karena tingkat kesadarannya akan dicek menggunakan alat khusus yang sering digunakan pihak rumah sakit untuk mengetahui kondisi pasiennya.
GCS (glasgow coma scale) adalah skala yang dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran. Dulu, skala ini digunakan pada orang yang mengalami cedera kepala. Namun, saat ini, GCS juga digunakan untuk menilai tingkat kesadaran seseorang saat memberikan pertolongan darurat medis.
"Aku pasti akan mendapatkan mu, Tuan Ken Wijaya yang terhormat." Batin Mona yang telah bersiap meneguk wine didepannya.
1 botol, 2 botol, 3 botol, 4 botol.
Keduanya sudah menghabiskan 4 botol wine. Masih tersisa 1 botol.
Ken sepertinya sudah tidak sanggup meneguknya karena sejak dirinya datang ke Club tadi sudah menghabiskan 1 botol wine, itu artinya sudah 5 botol yang dirinya habiskan. Tapi bukan Ken namanya jika tidak mempunyai banyak akal.
Ken sengaja membalikkan tubuhnya kearah Mona, dilihatnya perempuan yang sedang berlomba dengannya itu dengan sebuah senyuman yang sulit diartikan.
Tiba-tiba, jemari Ken membelai bagian leher Mona, membuat Mona bergidik ngeri dan menghentikan aksinya meneguk wine.
__ADS_1
Ken yang melihat reaksi Mona langsung tersenyum puas, seakan rencananya telah berhasil untuk mengalihkan tubuh Mona dari wine. Jadi, tentu saja dia akan lupa jika Ken akan terus menghabiskan minumannya. Benar-benar sebuah strategi yang picik namun membuahkan hasil.