Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 29 - Awal Penyelidikan


__ADS_3

*** Di kampus


Siska yang tengah duduk sendiri, tiba-tiba teringat oleh ponselnya. Sejak semalam dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Ken, tapi pesannya tidak kunjung juga mendapat respon.


Kali ini, Siska berniat akan menghubungi Ken lagi.


Namun alangkah bahagianya ketika pesan yang dikirimkannya kepada Ken sudah bertanda centang dua dan berwarna biru, itu artinya Ken sudah membaca pesan darinya.


"Kenapa Ken tidak membalas satupun pesan dariku?" Gumam Siska sedikit kecewa karena Siska pikir jika Ken mengabaikan kekhawatirannya.


"Bahkan, dia pun tidak menghubungi ku."


Siska semakin terisak didalam hatinya mendapati Ken yang acuh kepada dirinya.


Ketika Siska tengah termenung dengan pikirannya, ponselnya tiba-tiba berdering dan mengagetkannya.


"Beni?" Lirih Siska saat membaca layar ponselnya.


"Sayang, aku merindukan mu. Apa kamu sudah makan siang?" Tanya seorang pria dari seberang telepon yang tak lain adalah kekasih Siska.


Entah mengapa, mendapat panggilan video call dari Beni justru membuat Siska enggan menanggapinya. Padahal biasanya, perempuan satu ini selalu riang gembira bahkan berbunga-bunga jika mendapat panggilan dari kekasihnya. Tapi kali ini sungguh berbeda.


Belum sempat Siska menjawab, Beni yang menyadari raut wajah Siska yang terlihat tidak senang itupun kembali melontarkan kalimatnya.


"Sayang, apa kamu sakit? Kenapa tidak menjawabku? Kenapa diam saja, Sayang?"


"Aku tidak apa-apa, kelas akan segera dimulai. Aku matikan ya. Nanti kita sambung lagi." Ucap Siska yang langsung mengusap tombol berwarna merah pada layar ponselnya.


"Kenapa Siska seperti sedang menghidariku? Apa yang terjadi dengannya? Tidak biasanya dia bersikap sedingin ini kepadaku. Ada yang tidak beres." Gumam Beni ketika Siska mengakhiri panggilan video callnya tanpa berpamitan mesra seperti yang mereka lakukan seperti biasanya.


Siska melangkah memasuki ruang kelasnya. Selama mata kuliahnya dimulai, fikiran Siska hanya tertuju kepada Ken. Kenapa pria itu tidak membalas pesan darinya, kenapa tidak menghubunginya, kenapa kenapa dan kenapa. Pertanyaan itu yang saat ini memenuhi otak dan pikirannya. Tanpa Siska sadari, bahkan dirinya bersikap acuh kepada Beni. Kekasih hatinya yang selama ini ia bangga-banggakan didepan Ken.

__ADS_1


*** Di perusahaan Wijaya Group


Yoga yang baru saja kembali dari jam makan siangnya, langsung menuju ke ruangan CEO dimana Ken tengah menunggunya.


Tok tok tok


Yoga mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan atasannya.


"Masuk." Perintah Ken dari dalam ruangan.


Yoga membuka pintu dan mendudukan dirinya dikursi yang berada tepat didepan Ken.


"Ada hal penting apa Ken?" Tanya Yoga langsung to the point kepada Bosnya.


"Bacalah." Ken memberikan ponselnya kepada Yoga sambil senyum-senyum sendiri.


Yoga mengambil ponsel dari tangan Ken, kemudian satu persatu pesan dari Siska dibacanya dengan seksama. Selain beberapa pesan dari Siska, terlihat juga puluhan kali Siska menghubungi Ken.


"Menurut mu, apakah Siska juga memiliki perasaan yang sama seperti perasaan ku kepadanya, Ga?" Tanya Ken lagi.


"Nona Siska memang punya perasaan yang sama pada mu, hanya saja dia belum bisa menyadarinya lantaran statusnya yang masih memiliki kekasih." Ucap Yoga sembari mengembalikan ponsel milik Ken.


Mendapat jawaban dari Yoga, Ken langsung berdiri dari duduknya.


"Benarkah? Kamu mengetahuinya darimana, Ga?" Tanya Ken penasaran.


"Dari pesan Nona Siska yang dikirimkan padamu itu sudah terlihat jelas jika dia takut kehilanganmu. Terlalu khawatir dengan keadaanmu. Bahkan Nona Siska berkali-kali mengatakan maaf didalam pesan yang dikirimnya." Ungkap Yoga yang kembali membuat Ken melihat ponselnya.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya lusa, Ga. Persiapkan semuanya dengan sempurna. Aku yakin jika Siska akan menyetujui permintaan ku." Ken berkata dengan penuh semangat.


"Baik, Ken. Aku akan mempersiapkannya dengan sangat sempurna. Serahkan semuanya padaku. Kalau begitu aku permisi kembali bekerja dulu." Yoga berdiri dan melangkah keluar menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Diruangannya, Yoga tengah mengirimkan pesan kepada salah satu orang kepercayaannya.


'Aku ingin kau mencari tahu detail kehidupan pria ini. Beri aku informasi lengkapnya secepat mungkin. Jangan ada hal sekecil apapun yang terlewatkan.'


Begitulah isi pesan yang dikirimkan Yoga yang disertai foto Beni dan Siska tengah berpelukan.


Kemudian, Yoga keluar ruangan menuju bagian personalia. Dia mencari Zahra untuk meminta data gaji karyawan sekaligus menanyakan pekerjaan Siska sebagai karyawan baru yang bekerja paruh waktu.


"Maaf Pak, anda sampai datang kesini sendiri. Seharusnya Pak Yoga bisa memanggil ku agar aku bawakan laporannya keruangan anda." Ucap Zahra ketika Yoga sudah berada diruang personalia.


"Tidak apa-apa Ra, aku juga ingin sekalian melihat pekerjaan karyawan baru. Apa Siska belum datang?" Tanya Yoga sambil memeriksa berkas yang diserahkan Zahra.


"Siska masuk kerja mulai jam 3 pak, jadi belum datang. Mungkin dia masih kuliah pak saat ini. Apa ada yang ingin Bapak sampaikan pada Siska? Nanti akan aku beritahu dia pak, agar Siska bisa keruangan Pak Yoga." Timpa Zahra.


"Tidak Ra, aku hanya bertanya. Baiklah kalau begitu, kamu selesaikan pekerjaan mu dan laporan ini langsung aku bawa saja biar aku cek diruangan ku." Yoga melangkah keluar dari ruang personalia, dan sekilas menatap Zahra yang menundukkan kepala memberi hormat kepadanya.


"Manis dan anggun."


Kalimat itu tiba-tiba diucapkan Yoga dalam hatinya ketika tak sengaja kedua bola matanya menatap Zahra yang perlahan hilang dari pandangannya.


Saat ini, jam sedang menunjukkan pukul 2 siang. Siska yang sudah selesai dengan mata kuliahnya segera mencari ojek disekitarnya kampusnya menuju ke kantor Wijaya Group.


Ya, selama 3 bulan terakhir ini Siska selau menumpang kepada Linda untuk berangkat dan pulang kampus. Sebenarnya dulu Siska mempunyai kendaraan sendiri, berupa sepeda motor. Hanya saja motor itu terpaksa ia jual untuk membayar kuliah juga kontrakannya.


Dengan uang yang diberikan Ken tempo hari, sebenarnya cukup untuk membeli sepeda motor lagi. Tapi Siska mengurungkan niatnya dulu, lebih baik menghemat uangnya karena saat ini ia baru saja mulai bekerja, meskipun uang kuliahnya sudah terbayar lunas tapi siapa tahu jika ada kebutuhan yang mendesak menimpa dirinya.


Linda juga tidak pernah mengeluh ataupun keberatan jika setiap hari harus menjemput Siska sebelum ke kampus karena memang jalan yang dilalui Linda melewati daerah kos Siska.


Persahabatan yang mereka jalin sudah begitu lama, semenjak mereka masih duduk dibangku SMA. Jadi bagi Linda ataupun Siska mereka sudahlah seperti saudara sendiri.


Akhirnya, ojek yang ditumpangi Siska sudah sampai dihalaman kantor tempatnya bekerja. Setelah membayar ojek, Siska berlari menuju toilet wanita. Membersihkan diri dan mengganti pakaian kerja.

__ADS_1


Siska yang kesehariannya sangat suka mengenakan kaos, sekarang dituntut mengenakan kemeja dan blazer. Tak lupa sneakers putihnya yang kini diganti dengan high heels berwarna hitam senada dengan rok kerjanya. Semakin membuat Siska terlihat lebih cantik dan dewasa.


__ADS_2