
Siska hanya menganggukan kepala atas jawaban Ken.
Karena hari sudah semakin sore, Ken memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sebelum melangkahkan kakinya keluar kos Siska, Ken mendekatkan wajahnya ke wajah Siska. Siska yg menyadari itu segera memejamkan matanya.
"Ya Ampun, Ken mendekat, apa yg akan aku lakukan kali ini? Apa dia akan menciumku lagi? Lalu aku harus membalas ciumannya atau aku biarkan saja." Gerutu Siska dalam hatinya.
Ternyata dugaan Siska salah, Ken hanya mendaratkan satu kecupan dipipi Siska. Membuat Siska merasa malu karena sudah berfikiran jika Ken akan kembali mencium dirinya lagi seperti saat di balkon tadi.
"Ah, malunya. Kenapa aku bisa berharap kalo Ken akan menciumku lagi. Ini gila! Kamu masih berstatus kekasih Beni, Siska. Ingat itu, jangan jadikan dirimu seakan wanita murahan." Rutuk Siska kepada dirinya sendiri, dan tentu saja didalam hati ia merutuki kebodohannya itu.
"Aku pulang dulu, sayang. Besok atau lusa jika aku merindukan mu, aku akan segera menemuimu."
Ken mengatakan dengan memperlihatkan senyum tampannya.
"Baiklah, kamu hati-hati dijalan." Tukas Siska.
Ken akhirnya meninggalkan kamar kos Siska. Setelahnya dia hanya melirik perempuan yg baru saja ia cium tanpa penolakan dan justru membalas ciumannya ketika dirinya melakukan untuk kedua kalinya.
"Aku pastikan kamu akan menjadi wanitaku, Siska."
Gumam Ken.
Ken segera melajukan mobilnya.
Diperjalanan Ken bertanya-tanya pada dirinya.
Bagaimana bisa dirinya jatuh cinta kepada perempuan seperti Siska, hingga rela menjatuhkan harga dirinya pula. Selama ini Ken adalah sosok Cassanova, perempuan model seperti apapun bisa dengan mudah ia miliki. Hanya tinggal tunjuk saja, tapi kali ini dengan Siska sungguh sangatlah berbeda.
Apa spesialnya Siska? Bukankah dia hanya seorang anak yatim piatu yg ditinggalkan orangtuanya karena mengalami kecelakaan. Kehidupannya juga tidak terbilang mewah, bahkan justru sangat sederhana. Berbeda jauh seratus delapan puluh derajat dari apa yg dimiliki oleh Ken. Tampilan wajahnya juga tidak secantik perempuan-perempuan yg mengantri untuk menjadi kekasih Ken. Terlebih Siska sudah memiliki kekasih, itu artinya jika Ken berharap jika Siska menjadi wanitanya, Ken hanyalah seorang simpanannya tatkala Siska tidak memutuskan hubungannya dengan Beni. Lalu apa yg membuatnya bisa tergila-gila dengan Siska? Mungkin ini yg dinamakan cinta buta. Cinta tidak memandang fisik, materi, bahkan statusnya.
__ADS_1
Ken saat ini sudah tiba diparkiran gedung pencakar langit yg menjadi tempat tinggalnya.
Baru beberapa langkah dirinya memasuki Lobby apartemen, ponselnya berdering. Ken melihat layar ponsel berukurang enam koma tujuh inch itu kemudian mengusap layar berwarna hijau ketika dilihatnya nama 'Yoga' yg memanggilnya.
"Ya, Ga. Ada apa? Aku baru saja sampai di apartemen. Apakah ada masalah dengan pekerjaan hari ini yg aku titipkan padamu? Tanya Ken kepada seseorang yg berada diseberang telepon.
"Tidak ada, Ken. Aku hanya ingin mengatakan jika tadi Nyonya Monic mencarimu. Nyonya menghubungimu tidak bisa jadi Nyonya berpesan jika kau harus menghubunginya karena ada sesuatu yg ingin Nyonya bicarakan padamu." Yoga mengatakan titah Nyonya Monic kepada putra tunggalnya yg tak lain adalah pimpinannya.
"Baiklah, setelah ini aku akan menghubunginya. Terimakasih banyak Ga."
"Sama-sama Ken. Selamat beristirahat."
Kemudian Ken mengakhiri panggilan teleponnya, dan segera melangkahkan kakinya menuju apartemen.
....
Tut Tut Tut
Siska menghubungi ponsel Linda kembali setelah beberapa waktu tidak mendapatkan jawaban dari sang sahabat.
Kali ini juga Siska tak mendapat jawaban dari Linda.
"Kemana Linda? Sedari tadi dia menghubungi ku, tapi setelah aku menghubunginya kembali justru dia mengabaikan pesan dan juga panggilanku, dasar! Aku yakin ketika nanti aku tersambung dengannya pasti dia akan bawel, nyerocos nggak berhenti sampe pagi." Ujar Siska yg terus mencoba menghubungi sahabatnya itu.
Disisi lain, Linda yg sedari tadi mencari keberadaan Siska. Kini tengah berada dikediaman sang kekasih, karena tadi Evan mengatakan jika mommy'nya sakit dan ingin Linda yg merawatnya. Jadi seketika Linda pergi bersama Evan.
Selama berada dirumah Evan, Linda memang meninggalkan ponselnya didalam tas yg ia titipkan dikamar wanita paruh baya yg sebentar lagi akan menjadi mertuanya itu. Karena Linda memang ingin fokus merawat mama Evan. Evan memutuskan jika setelah selesai kuliah akan segera menikahi Linda, memang terkesan buru-buru tapi Evan sudah yakin jika Linda adalah perempuan pilihan Evan untuk menata masa depan bersama dengannya.
Setelah mama Evan menghabiskan sore bersama Linda, Linda pun memutuskan untuk berpamitan pulang.
__ADS_1
"Tante, aku pulang dulu ya. Besok setelah selesai kuliah aku akan kesini lagi merawat tante." Ucap Linda yg disertai pelukan juga kecupan kepada mama Evan.
Sebelum melepas pelukan Linda, mama Evan mengelus punggung perempuan yg sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
"Maafkan Tante jika merepotkan mu, nak. Tapi tante tidak ingin kerumah sakit, tante tidak tahan dengan bau rumah sakit."
Linda menatap wanita paruh baya itu sembari menggenggam tangannya dan berkata,
"Tante tidak akan dirawat dirumah sakit jika kesehatan tante berangsur membaik, aku akan katakan pada Evan jika aku yg akan merawat tante. Jadi tante tidak usah khawatirkan masalah rumah sakit lagi ya."
Linda meyakinkan calon mertuanya itu dengan ulasan senyum.
"Terimakasih, nak. Kamu hati-hati ya pulangnya." Mommy Nita kemudian mencium pipi beserta kening Linda sebelum gadis ini meninggalkan kamar miliknya.
Linda berjalan meninggalkan kamar mama Evan. Evan sudah menunggunya diruang tamu. Mendapati kekasihnya telah keluar dari kamar sang Mommy, segera Evan berdiri dan melangkah mendekati Linda.
"Aku antar pulang ya Beb." Pinta Evan.
Sebelum Linda menjawab, dirinya terlebih dahulu memberikan satu kecupan dipipi Evan. Evan tersenyum karna tingkah kekasihnya ini.
"Jangan menggodaku, Beb. Kalau tidak aku bisa melakukan lebih terhadapmu. Karena disini wilayah kekuasaan ku." Jawab Evan dengan meraih pinggang kekasihnya lalu mendekapnya.
Linda mendongak keatas menatap wajah Evan dengan sorot matanya yg lembut dan damai.
"Aku tidak sedang menggodamu, Beb." Tangan Linda refleks melingkar dileher jenjang milik Evan. Membuat Evan menatap kearah bawah menatap wajah kekasihnya.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Evan mendekatkan wajahnya ke wajah Linda. Linda memejamkan matanya, Evan pun hanya tersenyum smirk tanda Linda memberinya izin untuk melakukannya.
Perlahan, Evan mencium bibir sexy milik Linda. Menciumnya dengan lembut. Tak kalah dengan Evan, Linda juga membalasnya. Linda menyatukan binirnya dengan bibir Evan. Lama mereka hanya berciuman, Evan pun menuntut lebih. Dilumatnya bibir sang kekasih, lidahnya memporak pondakan isi didalamnya. Lagi-lagi Linda tak tinggal diam dengan tindakan kekasihnya itu. Linda juga ******* bibir kekasihnya dengan keahliannya selama ini. Bahkan Linda semakin mempererat cngkraman tangannya dileher Evan semakin membuat Evan liar.
__ADS_1