
Ken masih menyusuri tiap bagian apartemennya. Hingga pada saat melewati toilet yang berada diluar kamar, membuatnya berhenti sejenak. Seperti terdengar guyuran air didalam sana. Ken mendekati pintu, dirinya bersembunyi dibalik tembok sebelah toilet.
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang akan keluar dari toiletnya. Dengan siap berjaga-jaga Ken telah memasang kuda-kuda seperti seorang yang berlatih beladiri.
Ketika pintu toilet, terbuka. Ken segera menangkap orang yang sudah lancang masuk kedalam apartemennya tanpa seizin dari sang pemilik.
"Siapa kau!" Bentak Ken dengan mendekap seseorang yang baru saja keluar dari dalam toilet.
"Lepaskan Ken! Kau ingin membunuh Daddy mu sendiri! Dasar anak kurang ajar!" Gertak seorang pria yang ternyata adalah Daddy Ken. Sontak saja membuat Ken refleks melepaskan dekapannya.
"Kenapa Daddy kesini tidak memberitahuku sebelumnya, aku kira maling. Lagi pula, dari mana Daddy tahu kode akses apartemen ku?" Tanya Ken balik sebelum menjawab ucapan Daddy-nya.
Pak Alex Wijaya, itulah nama Daddy dari seorang CEO pewaris kekayaan Wijaya Group yang dieluh-eluhan oleh para pengusaha kelas menengah keatas.
"Apapun bisa Daddy ketahui, mencari dirimu dilubang semut pun pasti akan Daddy temukan." Congkak Beliau kepada putra semata wayangnya.
Pak Alex kemudian berjalan melewati putranya. Mendudukan dirinya ke sofa milik Ken. Ken mengikuti arah ayahnya.
Ken kembali memeluk ayahnya sebelum duduk didepannya. Kali ini pelukan seorang anak kepada ayahnya. Hangat dan penuh kerinduan.
"Sudah lepaskan, Ken. Daddy ingin berbicara serius denganmu. Daddy tidak mau basa-basi lagi. Pekerjaan Daddy masih sangat banyak jadi mari selesaikan masalah kita dengan segera." Pak Alex melepaskan pelukan putranya dan menatap tajam kearah Ken.
"Jelaskan pada Daddy, apa benar kamu berhubungan dengan perempuan Cafe, Ken." Tanya Pak Alex menyelidik.
"Daddy, Siska itu bukan perempuan Cafe seperti yang Mommy katakan. Mommy hanya mendapat sebagian informasi entah dari mana asalnya." Jawab Ken kemudian.
"Jadi, nama perempuan itu Siska? Baiklah, kita panggil dia, Siska. Lalu apa pekerjaannya kalau bukan bekerja disebuah Cafe Karaoke seperti penuturan Mommy mu? Mommy sebelum bertindak pasti akan mencari detail informasi, jadi tidak mungkin jika informasi yang didapatkan Mommy mu itu tidaklah valid." Pak Alex semakin menyelidiki hubungan putranya dengan Siska yang dianggap pegawai Cafe Karaoke seperti informasi yang telah didapatkan istrinya dari seorang mata-mata bayaran.
__ADS_1
"Daddy, Siska itu masih kuliah. Dia salah satu mahasiswi di kampus X. Waktu itu, aku tidak sengaja melihatnya di Cafe Karaoke karena dirinya tengah menghadiri pesta perayaan ulang tahun sahabatnya. Kalau Daddy masih tidak mempercayai ucapanku, Daddy bisa bertanya kepada Pak Bram, saat itu teman Siska yang berulang tahun putri Beliau." Ken pun berlalu setelah menjelaskan asal mula pertemuan Ken dengan Siska.
Ken kembali dimana Daddy-nya duduk, ternyata dirinya pergi untuk mengambil minuman. Dibawanya satu botol mineral dan juga secangkir kopi.
"Minumlah dulu, Dad. Baru aku akan menjelaskan semuanya kepada Daddy. Mommy hanya mengetahui sebagian informasi mengenai kehidupan Siska. Itupun salah." Dengkus Ken kesal karena tidak biasanya mata-mata bayaran Nyonya Monic bisa memberikan informasi yang tidak valid seperti ini.
"Katakan semuanya, Ken. Daddy tidak mau jika dirimu salah mengambil tindakan." Masih dengan tatapan tajam Pak Alex meminta penjelasan dari putranya.
"Siska memanglah hanya anak yatim piatu, Dad. Kedua orangtuanya telah tiada, jadi untuk mencukupi hidupnya dan juga membiayai kuliahnya dia bekerja paruh waktu sebagai SPG di Mall Xxx. Aku bahkan baru mengetahuinya, karena aku memiliki perasaan kepadanya jadi aku menempatkannya diperusahaan pusat sebagai asisten HRD, membantu Zahra mengelola pengajian karyawan. Maafkan Ken, Dad. Jika Ken tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Daddy tentang masalah ini." Ken menunduk, dirinya merasa bersalah karena baru kali pertama ini Ken berseteru dengan ayahnya sendiri. Bukan berseteru sebenarnya, hanya kesalah pahaman semata.
"Apa lagi yang ingin Daddy ketahui tentang wanitaku?" Tanya Ken lagi.
Pak Alex tersedak kopinya ketika putranya mengatakan Siska sebagai wanitanya.
"Apa? Wanitamu? Bahkan kamu sudah menjalin hubungan dengannya tanpa meminta restu dari Daddy juga Mommy mu?"
"Sebelum sampai tahap yang lebih serius, apa kamu benar-benar sudah menyelidiki semua perihal tentang Siska? Daddy tidak mau jika perempuan yang mendampingi dirimu kelak tidak jelas asal usul bobot bibit bebetnya." Jelas Pak Alex lagi.
"Sebenarnya Siska bukanlah perempuan lajang, Dad. Dia sudah memiliki kekasih yang menemaninya selama 2th ini. Tapi aku tidak peduli, aku akan tetap menjadikannya wanitaku, apapun yang terjadi."
"Pertemukan Daddy dengan Siska, secepatnya." Timpa Pak Alex kemudian pergi meninggalkan Ken di apartemennya.
"Baik, Dad. Aku akan mengurus secepatnya." Jawab Ken cepat, masih didengar oleh telinga pria paruh baya yang menjadi panutannya.
Setelah kepergian Daddy-nya, Ken segera membersihkan dirinya. Lama dirinya berendam di bath up, memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Siska juga Daddy-nya yang menginginkan pertemuan mereka segera.
"Aku bahkan belum menjelaskan apa-apa kepada Siska tentang jati diriku yang sebenarnya. Bagaimana jika Siska menolakku, aku harus berbicara dengan Daddy terlebih dulu agar menyembunyikan identitasku didepan Siska." Gumam Ken dalam aktifitas mandinya.
__ADS_1
............
Didalam kamar kos, Siska tengah merebahkan dirinya setelah membersihkan diri dari pekerjaan penatnya.
"Hari yang benar-benar melelahkan. Sepertinya aku butuh relaksasi, sudah lama sekali aku tidak Me Time. Besok aku akan mengajak Linda untuk pergi ke Spa sebelum berangkat bekerja." Ucap Siska sembari memainkan ponselnya.
Ketika ingin menghubungi Linda, ponsel Siska lebih dulu berdering.
Terlihat nomor tidak dikenal melakukan panggilan video call, Siska masih berfikir untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi dirinya juga penasaran dengan sang penelfon. Akhirnya Siska memutuskan untuk menyentuh tombol hijau pada layar ponselnya.
"Good Night, my sweety." Sapa seorang pria yang tidak asing baginya. Dengan memperlihatkan senyum diwajah tampannya.
Dengan ekspresi yang sulit diartikan, Siska menunjukkkan seulas senyum cantiknya.
"Good night too."
"Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, apa aku mengganggu tidur mu?" Tanya Ken masih dengan menatap perempuan yang ia yakini akan menjadi wanitanya.
"Tidak, Ken. Aku baru saja pulang bekerja, masih merebahkan diri. Ada apa kamu menghubungi ku? Tumben sekali." Siska menjawab malu-malu karena pria yang tengah berbincang dengannya melalui sambungan telepon ini tak henti menatapnya.
"Bukankah sudah aku katakan jika aku akan menghubungimu saat aku merindukanmu. Aku ingin sekali menciummu lagi." Goda Ken yang langsung membuat pipi Siska merah merona dibuatnya.
"Kennnnnnnnnnn!" Teriak Siska yang spontan membuat Ken menjauhkan ponsel dari wajahnya.
Namun teriakan Siska justru membuat dirinya ingin lebih menggoda perempuan dihadapan layar ponselnya itu.
"Aku serius Siska, bibirmu yang sexy itu sudah menjadi candu untukku. Ingin rasanya aku menempelkan bibirku ke bibirmu setiap hari, bahkan setiap saat kalau bisa." Celoteh Ken dengan entengnya.
__ADS_1
"Aku matikan panggilannya kalau kamu seperti itu terus Ken!" Ancam Siska yang membuat Ken memicingkan matanya sejenak.