
Maaf para Readers yang aku sayangiii, beberapa hari ini nggak sempet Up 🙏
Karena pekerjaan IRT yang menumpuk, juga aku harus ngurusin 2 bocil ku. Si kakak yang sudah mulai masuk sekolah, juga adek yang selalu bikin repot . wkwk
Tterlebih ada tetangga yang baru nikahan jadi gabisa pegang HP berlama-lama 🙏
Tapi tenang, setelah ini insyaAllah aku akan sering Up karena Alhamdulillah pembaca dikarya ku yang pertama ini banyak yang merespon.
Semoga kalian suka cerita disetiap Bab-nya yaa Readers 🥰
................
Ketika Mona mulai tidak bisa menguasai dirinya karena sentuhan Ken. Ken memberikan 1 botol wine kepada Yoga melalui belakang punggungnya.
Saat ini Ken sengaja mengalihkan badan juga posisi duduknya menghadap Mona, tentu saja agar apa yang sudah dirinya rencanakan berhasil tanpa sepengetahuan Mona.
Dengan sigap, Yoga menerima wine itu kemudian meneguknya sampai habis. Kemudian meletakkan botolnya sejajar dengan ke empat botol wine yang sudah dihabiskan Ken terlebih dahulu.
"Ekhemm." Yoga sengaja berdehem untuk memberikan kode kepada Tuannya jika rencana sudah berhasil.
Mona sontak tersadar dari sentuhan yang diberikan Ken. Beberapa menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadaran.
"Kenapa Anda sudah tidak sabaran Tuan? Bukankah kita sudah sepakat untuk menyelesaikan permainan ini terlebih dahulu." Goda Mona kepada Ken.
Sebelum menjawab ucapan Mona, Ken kembali memposisikan duduknya menghadap semula, menyampingi Mona.
"Lihatlah Nona, karena dirimu sudah terlalu banyak minum akhirnya tidak menyadari jika wine ku sudah lebih dulu habis dibanding wine mu." Ken menunjukan jajaran botol wine yang sudah kosong dihadapannya.
Mona melihatnya seakan tak percaya.
Bagaimana mungkin? Bukankah aku dan Ken meminum botol secara bersamaan, Lalu apa ini? Kenapa wine miliknya lebih dulu habis? Gumam Mona masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Nona, tidak ingatkah berapa lama anda menikmati sentuhan dari Tuan saya?" Kekeh Yoga sambil mencondongkan kepalanya agar terlihat dengan Mona.
__ADS_1
"A-Apa katamu?" Mona menjawab terbata.
"Tuan Ken hanya memberi anda sedikit sentuhan, Nona. Tapi ada sepertinya sangat menikmatinya hingga tidak menyadari jika Tuan Ken sudah menghabiskan winenya yang ke-5 ketika anda masih bergelayut dilengan Tuan. Hufttt, bisa-bisanya anda terbuai begitu dalam. Sayang sekali." Yoga memperpanjang kalimatnya agar Mona tidak mengira-ngira apa yang terjadi sebelumnya.
Wajah Mona yang tadi nampak berseri-seri, kini terlihat mulai sayu. Bagaimana mungkin dirinya tidak menyadari hal itu. Apa karena dia sudah mabuk? Atau asisten Yoga beserta Tuan Ken membodohinya? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran Mona.
"Aku anggap permainan kita selesai." Ucap Ken singkat.
"Baiklah, aku mengakui kalah dari anda Tuan. Katakan, apa yang anda inginkan dariku?" Tanya Mona dengan senyum sexynya. Dia pikir jika Ken akan memintanya untuk menghabiskan malam bersama. Namun pikiran Mona salah besar.
"Jangan pernah muncul dihadapan ku. Apalagi sampai berani menggodaku. Aku memberimu kesempatan bukan karena aku tertarik padamu. Aku hanya ingin melihat seberapa nyalimu terhadapku." Kata-kata yang keluar dari mulut Ken seperti racun yang mematikan.
Seketika Mona menundukkan wajahnya, tidak berani menatap pria yang tadi telah beradu alkohol dengannya.
"Jika kamu sudah mengetahui Tuan Ken, kenapa masih bersikeras mendekatinya? Apa memang kamu sudah bosan hidup Nona Mona?" Tanya Yoga yang semakin menyudutkan Mona saat ini.
Mona sudah tidak bisa mengatakan apapun.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi, maafkan saya." Ucap Mona sebelum Ken berhasil melangkah keluar Club.
Ken yang mendengarnya hanya berekspresi datar tanpa memberikan balasan kalimat.
Berbeda dengan Yoga yang memberikan balasan sorot mata tajam kepada Mona.
Dua pria tampan itu pun kembali menuju apartemen Ken. Selama perjalanan Ken hanya berdiam tanpa sepatah katapun. Entah apa yang dipikirkan oleh Tuannya itu. Sesekali Yoga melirik kearah Bosnya. Dilihatnya wajah yang terlihat letih juga kecewa.
"Besok aku akan membelikan ponsel baru untukmu, Ken. Akan aku antar ke apartemen sebelum kita berangkat ke kantor." Ucap Yoga memulai obrolan mereka.
"Terserah kau saja, Ga. Aku sedang ingin menenangkan pikiranku sebentar. Soal clien, tolong kau handel sementara. Jadi, ponsel ku gunakanlah. Aku sedang tidak ingin menghubungi siapapun saat ini." Ken mengatakan tanpa membuka matanya yang terpejam.
"Baiklah, Ken. Aku mengerti." Yoga kembali mengemudi, membiarkan Bosnya terlelap didalam mobil sebelum mereka sampai di apartemen.
Sesampainya di apartemen, Ken belum juga membuka matanya. Nampak wajah yang kelelahan disana. Ingin rasanya Yoga membangunkan Ken, tapi diurungkannya. Yoga tidak tega membangunkan tidur Ken yang terlihat pulas. Tapi jika tidak dibangunkan mereka akan tidur didalam mobil seperti itu juga tidak baik untuk kesehatan.
__ADS_1
Setelah bergulat dengan pikirannya, akhirnya Yoga berniat membangunkan tidur Ken. Jikalau nantinya dia akan dimarahi, tak apa. Daripada membiarkan Bosnya tidur didalam mobil.
Perlahan Yoga menguncangkan lengan Ken, berharap Bosnya segera bangun. Sekali, dua kali, barulah Ken mengerjapkan matanya.
"Ada apa Ga? Aku masih ngantuk? Apa hari sudah pagi?" Tanya Yoga masih dengan posisi mata terpejam.
"Ken, bangunlah, kita sudah sampai di apartemen. Tidurlah dikamar. Ini masih jam 3 pagi, masih ada waktu 3 jam sebelum berangkat ke kantor." Ungkap Yoga.
Tanpa bertele-tele Ken segera membuka mata, kemudian keluar dari mobil.
Sebelum memasuki apartemen, Ken menatap Yoga sekilas.
"Tidurlah disini Ga. Kamu akan capek jika pulang kerumah." Pinta Ken.
"Tidak usah Ken. Aku akan pulang. Pagi nanti masih ada yang harus aku kerjakan. Kamu tidurlah, jangan memikirkan apapun lagi jika tidak ingin terlambat bangun nantinya." Yoga menutup kaca mobil lalu membunyikan klakson sebelum meninggalkan area parkir gedung pencakar langit.
Sedangkan Ken kembali melangkahkan kakinya memasuki apartemennya.
Setibanya dikamar, Ken langsung saja merebahkan dirinya diatas kasur empuk berukuran King size.
Seharian ini banyak pekerjaan yang menumpuk, juga ucapan Siska yang begitu membuatnya semakin lelah.
Ken menatap langit-langit kamarnya, mencerna setiap kalimat yang diucapkan Siska kemarin sore.
Apa yang kurang dari dirinya, hingga Siska bisa mengabaikannya seperti itu. Seumur hidup Ken, baru kali ini dirinya merasa merendahkan diri hanya untuk seorang perempuan.
Bahkan Ken rela menjadikan dirinya sebagai seorang simpanan. Astaga, karma apa yang telah Ken lakukan dimasa lalu hingga kini dirinya harus mendapatkan balasan seperti ini.
Ingin rasanya Ken kembali menghubungi Siska dan meluruskan kesalah pahaman ini, tapi Ken baru ingat jika ponselnya telah hancur berkeping -keping karena ulahnya. Mengingat hal itu Ken merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol emosinya. Entah bagaimana tanggapan Siska setelah kejadian kemarin.
"Ah sudahlah, aku juga sedang ingin menyendiri. Mungkin hingga satu minggu ini, aku tidak akan mengganggunya terlebih dulu. Aku akan menunggu hari itu tiba. Hari keputusan Siska atas permintaan ku tempo hari. Apapun keputusan yang dia buat, aku akan menerimanya. Tolong, jangan kecewakan aku lagi, Siska. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jadi, mengertilah sedikit perasaanku, Sayang." Lirih Ken dalam bilik kamarnya yang hanya bisa memeluk guling sebagai sandaran sedihnya.
Tak menunggu waktu lama, mata Ken sudah kembali terpejam dan terlelap dalam mimpinya.
__ADS_1