
aaaaaaaaaa
Maaf teriak-teriak yaa, aku nggak nyangka jika akhirnya aku bisa menulis sampai di BAB 20 😍
Terimakasih atas dukungan kalian semua 🤗
Semoga cerita dalam karya ku yg pertama ini menarik minat pembaca semakin banyak, Aamiin 🤲🏻
Maaf yg sebesar-besarnya jika dalam penulisan maupun kalimat didalamnya ada yg tidak berkenan dihati para Readers.
Aku masih amatiran 🤭 Jadi kritik ataupun saran dari kakak² senior maupun kakak² pembaca akan sangat berguna untukku.
Sekali lagi, terimakasih atas dukungan kalian 🤗🥰
Perjalanan dari kampus Siska menuju kantor pusat Wijaya Grup cukup memakan waktu, yaitu 30 menit perjalanan. Itupun jika jalanan tidak macet.
Tanpa Siska sadari, dirinya terlelap didalam taxi.
Hingga sang sopir membangunkannya ketika taxi sudah berada disebuah gedung pencakar langit dengan pondasi dan juga pilar-pilar raksasa. Perpaduan warna Hijau juga warna-warna terang dari berbagai ambasador pun semakin membuat gedung itu serasa hidup.
"Nona, kita sudah sampai." Kata sopir taxi sambil menoleh keraha kursi belakang dimana Siska berada.
Siska masih tidak bergeming, kemudian sopir pun keluar untuk membangunkan Siska melalui pintu belakang.
Sopir taxi membuka pintu, diletakkannya tangannya dibahu Siska. " Maaf Nona, kita sudah sampai." Kata sopir taxi itu lagi.
Siska terbangun. Dia segera merapikan penampilannya saat ini. Saat dirasa semunya sudah cukup ia baru menoleh lagi ke sopir taxi yg sudah berada dibangku kemudi.
"Maaf Pak, saya ketiduran. Ini uangnya pak. Kembaliannya buat bapak saja. Terimakasih sudah membangunkan ku pak." Ucap Siska dengan sopan dan ramah.
"Sama-sama Nona, terimakasih kembali Non." Jawab sang sopir taxi.
Setelah Siska keluar dari dalam taxi, taxi itu pun keluar parkiran meninggalkan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi didepan Siska saat ini.
Entah mengapa, Siska terlihat gugup.
Siska mengambil nafas berulang kali demi menghilangkan rasa gugupnya.
"Ayo Siska, semangat. Kamu pasti bisa."
__ADS_1
Gumam Siska kepada dirinya sendiri.
Perlahan, Siska mulai berjalan menyusuri gedung tersebut. Sesampainya di Lobby, dirinya bertanya kepada salah seorang resepsionis disana.
"Maaf Kak, semalam saya mendapat panggilan jika hari ini saya akan mulai bekerja paruh waktu di perusahaan ini. Kalau tidak salah, ke bagian personalia kak. Bisakah kakak membantu saya?" Tanya Siska sebelum resepsionis tersebut melontarkan kalimatnya.
"Oh baik, apa anda Nona Siska?" Resepsionis itu justru berbalik bertanya kepada Siska.
"Bagaimana dia bisa tahu namaku? Bahkan aku tidak memakai tanda pengenal." Batin Siska kebingungan.
Sang resepsionis yang tadi sudah mendapat penjelasan dari Yoga hanya menampilkan senyum ramahnya ketika melihat ekspresi Siska yg seolah kebingungan karena perempuan didepannya ini mengetahui namanya.
"Manager sudah menunggu anda, Nona. Mari saya antar." Ucap resepsionis lagi.
Siska berjalan mengekori seorang perempuan yang bernama 'Nevy' . Siska mengetahui nama itu berada diatas saku pakaian yg dikenakannya.
Sesampainya dilantai 2, Nevy mengatakan pada Siska jika Manager telah menunggunya didalam. Dirinya pamit pergi karena harus kembali bekerja lagi.
"Baiklah, terimakasih banyak kak." Sambil membungkukkan badan Siska pun segera mengetuk pintu yg berada didepannya.
Tok tok tok
Suara dari dalam ruangan mempersilahkan Siska untuk masuk kedalam.
"Maaf Pak, Saya Siska Ananta."
"Duduklah." Perintah seorang pria yang tidak lain adalah Yoga. Namun Yoga sedikit merubah penampilannya, agar Siska tidak mengenalinya. Yoga sengaja mengenakan sebuah Wig diatas kepalanya.
"Saya sudah tahu, tanpa kamu menjelaskannya data identitas kamu sudah ada ditangan saya ini." Yoga mengatakan sambil memperlihatkan berkas milik Siska yg waktu itu dia serahkan kepada pihak Swalayan tempatnya mengajukan kontrak kerja yang akhirnya dibatalkan secara sepihak.
"Maaf, Pak." Ucap Siska lagi dengan masih menundukkan wajahnya.
"Mulai hari ini, kamu akan bekerja di perusahaan ini sebagai karyawan paruh waktu. Pekerjaan kamu silakukan mulai jam 3 sore sampai jam 8 malam. Dalam satu bulan kamu hanya memiliki 1 hari libur. Apa kamu mengerti?" Jelas Yoga.
"Baik Pak, saya mengerti." Jawab Siska disertai anggukan kepalanya.
"Silahkan mulai bekerja, pakaian kamu sudah disiapkan dibagian personalia. Kamu bisa memintanya ke kepala bagian tersebut. Semoga Nona Siska betah dan bekerja dengan baik disini. Selamat bergabung." Yoga berdiri dan mengulurkan tangan kepada Siska. Siska pun membalas uluran tangan Manager nya. Setelahnya, Siska meninggalkan ruang Manager itu menuju bagian personalia dimana dirinya ditempatkan dibagian tersebut.
Dibalik pembicaraan Yoga dan Siska, terlihat seorang pria mengulas senyum tatkala mendapati perempuannya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Ken.
__ADS_1
Ken sedari tadi bersembunyi diruangan Manager hanya untuk melihat Siska, perempuan yg selalu membuatnya lupa siapa dirinya.
Ingin rasanya Ken muncul dari tempat persembunyiannya ketika dibalik pintu Manager itu berdiri perempuan yang sangat ia cintai entah sejak kapan. Bahkan pertemuan mereka berdua belum genap sepekan, tapi Ken sudah merasa jika perasaannya kepada Siska seakan sudah terjalin bertahun-tahun lamanya. Begitulah jika seseorang sudah menjadi Bucin. Hahaha.
"Keluarlah, Ken. Siska sudah pergi." Perintah Yoga kepada pimpinannya.
"Jangan menatap wanitaku seperti itu, Ga. Aku tidak mau jika kamu menjadi sainganku." Ketus Ken tatkala mendapati Yoga yang menatap punggung kepergian Siska dari balik pintunya.
Yoga mengulas senyumnya sebelum mengatakan kalimatnya.
"Mana mungkin aku menyukai perempuan yg dicintai atasanku sendiri? Aku masih waras, Ken. Lagi pula Siska bukanlah sosok perempuan idamanku." Jawab Yoga dengan entengnya, membuat sang pimpinan melototinya.
"Maksutku, aku akan menikahi perempuan yg seiman denganku. Bukankah Siska seorang nasrani sepertimu, Ken? Jadi, tidak akan mungkin aku menikahinya" Jelas Yoga yang tidak ingin membuat sang CEO didepannya melototinya tiada henti.
Setelah mendapat penjelasan dari Yoga, Ken pun mereda amarahnya. Mata yg tadinya seakan ingin keluar dari tempatnya kini seolah berbinar, membayangkan jika dirinya menikahi Siska.
"Menikah apanya Ga? Bahkan Mommy saja sudah melarangku untuk berhubungan dengannya." Ken duduk dan menyandarkan badannya. Dirinya merasa butuh penyemangat saat ini.
"Aku yakin, jika Nyonya pasti ingin yg terbaik untukmu. Hanya saja, mungkin sikap Nyonya keliru. Karena Nyonya belum mengenal Nona Siska membuat Beliau hanya mendengarkan kehidupan Nona dari segi negatif, Ken. Jelaskan kepada Nyonya perlahan, aku yakin Beliau akan memahaminya." Yoga menasehati Ken, seakan dirinya menganggap jika atasannya adalah adiknya sendiri.
Ken memeluk Yoga.
"Terimakasih Ga, kamu memang yang terbaik. Bukan hanya menjadi asisten ku, tapi kamu juga sudah ku anggap seperti saudara ku sendiri." Mendapati perlakuan pimpinannya kini sebenarnya Yoga merasa tidak enak. Bukan maksutnya ingin menggurui Ken, atau mengendalikan Ken. Tapi Yoga mengatakan kalimatnya sesuai nalurinya sebagai sesama pria dan seorang anak.
Karena Yoga yakin, dengan sikap Ken yang selama beberapa hari ini mulai membaur dengan lingkungannya disebabkan karena Siska. Siska tentu membawa pengaruh positif untuk atasannya. Namun semuanya belum menyadari, terutama Ken dan juga Nyonya Monic.
Masih diperusahaan Wijaya Group, Siska saat ini sudah sampai dibagian personalia. Dirinya juga sudah mengenakan pakaian yang tadi diberikan kepala personalia kepadanya.
"Siska, kemarilah. Sebelum kamu mulai bekerja. Aku akan memperkenalkan kamu kepada rekan kerja kita yg lainnya." Perintah Zahra, Kepala HRD.
Siska menghampiri Zahra, dan mengucapkan kalimat perkenalannya.
"Perhatian semuanya, mohon waktunya sebentar. Kita mempunyai rekan kerja baru dibagian personalia. Silahkan Siska." Zahra mempersilahkan Siska untuk memperkenalkan dirinya.
"Selamat sore kakak-kakak semuanya. Perkenalkan nama saya Siska Ananta. Biasa dipanggil Siska. Saya karyawan paruh waktu disini. Mohon bantuan dan bimbingan dari kakak senior semuanya." Kemudian Siska menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada para karyawan seniornya.
"Kamu kerja di dua tempat atau bagaimana? Kenapa hanya paruh waktu?" Tanya seorang karyawan senior.
"Saya masih kuliah kak, di kampus (titttt). Sembarai menunggu wisuda, saya ingin mempunyai penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuh hidup kak." Jawab Siska tanpa rasa malu karena memang itu kenyataannya.
__ADS_1
"Wahhh, hebat. Jarang lho, ada mahasiswi yang masih mau bekerja paruh waktu diakhir kuliahnya. Bukankah akan sangat sibuk dan melelahkan belajar sambil bekerja?" Karyawan seniornya yang lain kagum dengan sosok Siska yang pekerja keras namun juga tidak mengabaikan pendidikannya.