Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 19 - Belum ada titik terang


__ADS_3

Ken tertegun dengan ucapan wanita paruh baya yg telah melahirkannya ke dunia ini. Dirinya tidak menyangka jika ibunya akan menentang hubungan yg sama sekali belum dijalaninya bersama Siska.


Darimana ibunya tahu jika Ken menaruh hati kepada perempuan yg baru ia kenal. Perempuan yg membuatnya terus menggila memikirkannya.


"Sial! Belum apa-apa Mommy sudah meng-skak langkahku untuk menjalin hubungan dengan Siska. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan buktikan pada Mommy dan Daddy jika Siska pantas berada disampingku dan menjadi bagian keluarga Wijaya." Ucap Ken dengan bersungguh-sungguh.


Latar belakang kehidupan Siska yang notabennya memang sering mendapat hinaan dari para tetangga kamar kosnya itu mungkin jadi salah satu penyebab Mama Monic menentang hubungan Putra satu-satunya pewaris Wijaya Group dengan Siska.


Sebelum bertemu dengan Siska, memang Ken sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan teman se kampusnya ketika di KL. Namun, mereka hanya melihat Ken dari segi harta, bukan karena benar-benar tulus menjalin hubungan dengannya. Ken mulai muak dengan sandiwara para perempuan yg mencoba mendekatinya lantaran melihat kemewahan yg Ken miliki.


Siapa yg tidak tergila-gila dan menginginkan seorang pewaris keluarga Wijaya. Selain harta kekayaannya yang tidak akan habis tujuh turunan, Ken juga seorang pria yg tampan juga mempesona. Hanya Siska saja yang tidak tergila-gila dengan Ken. Emmm, maksutku bukan tidak, tapi belum. Lihat saja nanti jika Siska sudah mulai jatuh cinta pada pria yg terkenal Cassanova sejak lahir itu. wkwk.


Tok tok tok


Yoga mengetuk pintu ruang CEO yg sebenarnya pintu itu terbuka, karena menghargai jika dirinya hanyalah seorang bawahan maka Yoga terlebih dulu mengetuk pintu pimpinannya.


"Masuk Ga." Sambutan Ken ketika melihat Yoga berada didepan pintu yg terbuka.


Yoga segera masuk dan menutup pintu kembali.


"Maaf Ken, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Nyonya Monic." Yoga berkata dengan menundukkan kepalanya.


"Iya Ga, menurutmu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin mundur sebelum perang Ga. Aku sudah terlanjur jatuh hati pada Siska. Tapi aku juga tidak bisa menentang kedua orangtuaku." Ucap Ken berdiri dan melangkahkan kakinya menuju sofa diruang kerjanya.


"Maaf jika aku lancang Ken, sebaiknya kamu menuruti perkataan Nyonya. Bukan tidak mungkin jika Nyonya akan melakukan hal buruk kepada Nona Siska jika kamu masih berhubungan dengannya. Karena aku mengenal betul bagaimana sikap Nyonya jika sudah tidak menyukai seseorang, Ken." Yoga berkata panjang lebar memberikan masukan kepada pimpinannya yg kini telah dilanda rasa dilema yg sangat besar. Bagaimana tidak, disatu sisi Ken sangat menginginkan Siska menjadi wanitanya, tapi disisi lain wanita yg telah melahirkannya kedunia menyuruhnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Siska. Sungguh, Ken tidak pernah berfikiran sejauh ini.


"Aku akan cari cara lain agar Mommy mau menerima Siska, Ga. Kamu mau kan membantu ku?" Tanya Ken kepada Asistennya.

__ADS_1


"Aku akan membantumu sebisaku, Ken. Bukankah kita sudah berteman." Ulasan senyum Yoga mengembang disudut bibirnya.


"Dan ini ada beberapa berkas yg harus kamu tandatangani sebelum kita melakukan meeting besok pagi, Ken." Yoga menyerahkan beberapa berkas dimeja Ken.


Ken berdiri dari duduknya, mengambil beberapa berkas itu dan sekilas membacanya.


"Apa sore ini Siska akan datang ke kantor, Ga? Bagian administrasi yg kemarin aku suruh untuk mengabari Siska sudah melakukan tugasnya dengan baik bukan?"


"Iya Ken. Dia mengatakan jika Nona Siska akan menemuinya dikantor jam 3 sore nanti, apa kamu ingin menemuinya? Biar nanti aku yg mengantarkan Nona Siska kemari, Ken."


"Tidak, Ga. Aku tidak ingin Siska tahu siapa aku. Aku akan menyembunyikan identitas ku saat ini. Jika waktunya sudah pas aku baru akan mengatakan padanya." Tolak Ken halus.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, Ken. Masih ada beberapa pekerjaan yg harus aku selesaikan." Imbuh Yoga sebelum meninggalkan ruang CEO yg sangat luas itu.


Ken hanya menganggukan kepala, Yoga pun mengerti apa yg dilakukan pimpinannya yg usianya seumuran dengannya.


..........


Jam menunjukan pukul 2 siang, cuaca sangat lah cerah. Angin bersepoi-sepoi lembut.


Terlihat 2 orang sahabat keluar dari ruang kelasnya.


"Baiklah Lin, kita berpisah disini saja. Sampaikan salamku kepada mamanya Evan, semoga Beliau segera pulih. Maaf belum bisa menjenguknya." Siska memeluk sahabatnya tatkala harus segera pergi kekantor pusat dimana dirinya akan bekerja.


"Iya, nanti akan aku sampaikan kepada Tante Anne. Kamu yakin tidak mau aku antar dulu Sis?" Tanya Linda sebelum berpisah dengan sahabatnya.


"Tidak perlu Lin, aku akan gunakan ojek online atau Taxi online saja. Lain waktu kalau uangku sudah menipis baru aku minta bantuan kamu." Ledek Siska.

__ADS_1


"Ya ya, percaya deh yang sekarang lagi banyak uang." Linda mendahului jalan Siska.


Setelah mengucapkan itu, gelak tawa keduanya pun pecah. Mereka tidak menyangka jika pertemuan Siska dengan Ken akan membawa kebahagiaan tersendiri.


Linda yg bahagia karena sering ditraktir makan oleh Siska. Juga kebahagiaan Siska yg saat ini tidak kebingungan jika membayar kamar kosnya.


Ken memberikan kebahagiaan secara tidak langsung kepada kedua perempuan yg bersahabat sejak duduk dibangku SMP.


Ditengah tawa mereka, tiba-tiba datang seorang pria mengagetkan keduanya.


"Astaga, Beb. Kamu mengagetkan kita aja. Kenapa tidak memanggilku dulu?' Tanya Linda saat Evan sudah merangkul kekasihnya.


"Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian berdua, Beb." Evan kembali mendaratkan ciumannya dipucuk kepala Linda. Membuat Siska gelemg-geleng kepala.


"Kemesraan mereka selalu saja membuatku iri." Batin Siska.


"Maaf Ken, bukannya kami tertawa lepas tanpa mengingat kondisi Tante Anne." Tunduk Siska merasa tidak enak kepada kekasih sahabatnya.


"Iya, Beb. Aku juga tidak bermaksut seperti itu." Tambah Linda.


"Heyyy, aku tak apa ladies. Tenanglah, aku tidak merasa jika kalian bahagia tanpa mengajak ku." Pangkas Evan kemudian.


"Dan Siska, terimakasih atas doamu, tadi aku mendengar jika kamu menitipkan salam kepada Mommy." Evan kembali berucap.


"Ah sama-sama Evan. Bukankah sebagai teman kita memang sudah seharusnya saling support." Siska menyunggingkan senyum manisnya sambil melirik Linda yg kini sudah berada didepannya bersama Evan.


"Baiklah, kalau gitu. Kita duluan ya Sis. Kamu hatu-hati dijalan. Dan good luck for your job." Linda pun pergi setelah berpamitan dengan Siska.

__ADS_1


Siska sengaja memanggil jasa taxi online untuk mengantarkannya menuju kantor pusat dimana dirinya akan bekerja.


__ADS_2