
Akhirnya jam makan siang pun tiba, Yoga segera bergegas menuju restoran dimana dirinya akan bertemu dengan Linda disana.
Sedangkan dikampus, Linda tengah mengobrol dengan Siska diluar kelas.
"Siang ini aku mau pergi sama Evan, Sis. Aku sudah minta izin kepada dosen selanjutnya kalau aku tidak bisa mengikuti kelas selanjutnya. Maaf tidak bisa mengajakmu karena aku pergi menemui keluarga Evan." Ucap Linda berbohong kepada sahabatnya.
"Tak apa, Lin. Aku juga harus bekerja sore ini jadi bukan masalah jika aku tidak ikut dengan mu." Balas Siska dengan senyuman yang selalu mengembang diwajahnya.
Tak berapa lama, terlihat Evan menghampiri dua perempuan yang tengah duduk di halaman kampus.
"Sudah lama menunggu, Beb?" Tanya Evan yang langsung mendaratkan ciuman dipipi kekasihnya.
"Belum, Beb. Berangkat sekarang?" Linda pun membalas ciuman pipi Evan yang disertai anggukan kepala.
"Siska, kita pergi dulu ya." Pamit Linda kemudian pergi bergandengan tangan dengan Evan meninggalkan Siska seorang diri.
Sesampainya diparkiran, Evan membukakan pintu untuk Linda. Mereka melajukan kendaraan menuju restoran yang sudah disepakati dengan Yoga kemarin.
Sepanjang perjalanan, Evan maupun Linda tidak berbincang apapun. Entah Linda sedang memikirkan apa, begitu juga Evan yang hanya fokus mengemudikan mobilnya.
20 menit berkendara, merekapun tiba di restoran yang dituju. Nampak Yoga sudah menunggu mereka disalah satu meja.
Evan dan Linda langsung menghampiri Yoga. Yoga pun berdiri menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Kalian silahkan pesan minuman atau makanan dulu, Nona-Tuan." Ucap Yoga sopan.
__ADS_1
"Tidah usah repot-repot Tuan Yoga. O iya, perkenalkan ini kekasih saya, Tuan. Dan Evan perkenalkan ini Tuan Yoga asisten Tuan Ken atasannya papa." Linda memperkenalkan kedua pria yang belum saling mengenal sebelumnya.
"Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan." Sapa Evan sambil mengulurkan tangan kepada Yoga yang disambut dengan seulas senyum.
"Langsung saja Nona, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya? Karena waktu saya tidak banyak, takut Tuan Ken curiga dengan pertemuan kita siang ini." Yoga to the point dengan Linda.
"Baiklah Tuan, saya mengerti. Begini Tuan, sebenarnya Tuan Ken itu benar-benar tertarik dengan sahabat saya. Siska, atau beliau mendekatinya hanya untuk mempermainkannya saja?" Tanya Linda.
Sebelum menjawab pertanyaan Linda, Yoga terlebih dulu meneguk minuman yang sudah dipesannya.
"Nona Linda, mungkin menurut anda dan Nona Siska, Tuan Ken terlihat main-main. Tapi jika melihat perubahan yang ditunjukan Tuan Ken belakangan ini, saya rasa Beliau memang benar-benar tertarik dengan sahabat anda." Jawab Yoga.
"Tapi apakah keluarga Tuan Ken akan menyetujui hubungan mereka? Latar belakang mereka sangatlah jauh, Tuan. Bagaikan langit dan bumi. Saya tidak ingin jika Siska nantinya direndahkan oleh keluarga Tuan Ken." Imbuh Linda lagi.
"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua kemarin Tuan? Tadi pagi, Siska terlihat murung. Dia bilang kalau kemarin bertengkar dengan Tuan Ken. Tapi sampai sekarang ponsel Tuan Ken tidak bisa dihubungi. Apa Tuan Ken begitu marah kepada Siska? Siska begitu sedih, Tuan. Tolong bujuklah Tuan Ken agar segera menghubungi Siska. Kasihan dia." Linda berkata dan memohon kepada Yoga karena dia tidak ingin melihat sahabatnya bersedih.
"Tuan Ken mungkin hanya sedikit kecewa dengan pernyataan Nona Siska, nanti akan saya sampaikan kepada beliau agar segera menghubungi Nona Siska. Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan sebelum saya permisi. Tuan Ken bahkan rela menjatuhkan harga dirinya demi Nona Siska. Beliau tidak peduli jika Nona Siska sudah memiliki kekasih, jadi saya harap Nona Linda bisa bekerjasama dengan saya. Apa anda mengerti maksut saya, Nona?" Yoga menaikkan satu sudut alisnya membuat Linda langsung paham dengan ucapan Yoga.
"Saya akan membantu anda, Tuan. Karena saya lihat, Siska memang sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Tuan Ken. Hanya saja, dia belum menyadarinya karena mungkin bagi Siska tidaklah mungkin dia jatuh cinta kepada pria lain ketika dirinya saat ini sudah memiliki kekasih." Ucap Linda.
"2 hari lagi, saya akan menjemput Nona Siska. Sesuai kesepakatan yang sudah disetujui Nona Siska dan juga Tuan Ken atas permintaan Tuan Ken yang menginginkan Nona Siska sebagai wanitanya. Saya harap, selama 2 hari ini Nona Linda bisa meyakinkan Nona Siska atas perasaannya kepada Tuan Ken." Yoga mengambil ponsel dari dalam saku celananya.
Terlihat dilayar ponselnya tertera panggilan dari seseorang yang bertuliskan 'Tuan Ken' . Yoga sedikit bergeser dari duduknya kemudian menyentuh layar ponsel berwarna hijau.
"Ga, kamu sudah selesai makan siang? Jika sudah, segeralah kembali dan keruanganku. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu." Suara Ken disebrang telepon.
__ADS_1
"Baik, Ken. Aku sudah selesai makan, habis ini aku segera kembali kekantor. Kamu ingin ku belikan apa?" Tanya Ken kepada Bosnya.
"Tidak perlu, Ga. Aku sudah kenyang. Berhati-hatilah."
Sebelum menjawab ucapan Ken, telepon itu sudah dimatikan terlebih dulu olehnya.
"Baiklah, Nona. Jika sudah tidak ada yang ingin kita bicarakan lagi. Saya pamit permisi." Ucap Yoga yang disertai langkahnya berdiri. Namun, Linda menahannya.
"Maaf Tuan, saya ingin minta tolong satu lagi." Pinta Linda. Linda mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, kemudian memperlihatkan foto sepasang kekasih. Yaitu, Siska dan Beni.
"Dia Beni, kekasih Siska. Bisakah anda mencari tahu tentang kehidupannya dikota S? Sudah setahun belakangan ini, aku merasa ada yang tidak beres dengan Beni. Berkali-kali aku katakan pada Siska tapi dia tidak pernah percaya. Mungkin jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan Beni dari Siska itu bisa memudahkan kita untuk semakin mendekatkan Siska dengan Tuan Ken." Linda berkata dengan sangat antusias.
"Nona bisa kirimkan foto pria itu ke ponsel ku, nanti biar aku suruh orang-orang kepercayaan ku untuk menyelidikinya. Untuk hasil penyelidikan akan segera saya informasikan kepada Nona, secepatnya. Kalau begitu, saya permisi dulu Nona Linda, Tuan Evan." Yoga pun berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang kini sedang merencanakan sesuatu.
"Beb, menurut mu apakah Siska dan Tuan Ken akan berjodoh?" Tanya Linda kepada Evan.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua, Beb. Lagipula mereka baru berkenalan selama beberapa hari. Aku rasa masih belum cukup mengenal satu sama lain, Beb." Jawab Evan.
"Aku yakin, Beb. Jika Beni menyembunyikan sesuatu dari Siska. Entah itu apa tapi yang jelas dengan bantuan Tuan Yoga, aku akan segera mendapatkan jawabannya."
Evan terkekeh kecil mendengar ucapan Linda. Seakan memiliki indera penglihatan saja jika Linda bisa seyakin itu mengenai Beni.
"Sudahlah Beb, jangan seuzon. Ayo kita pesan makan dulu, aku sudah lapar."
Linda masih memikirkan hal yang dia yakini jika Beni memang memiliki rahasia besar yang tidak diketahui seorangpun termasuk Siska.
__ADS_1