
Setelah keduanya merasa butuh asupan oksigen, Evan melepaskan ciumannya. Ditatapnya Linda dengan penuh cinta.
*I Love You, Beb." Ungkap Evan.
Sebelum Linda memberikan jawabannya, Evan kembali mencumbu kekasihnya itu.
Evan menyatukan bibirnya dengan Linda untuk kedua kalinya. Linda pun membalasnya. Kini Linda yg mengatur ciumannya, tangan yg masih melingkar dileher Evan, dituntunnya kearah sofa, agar Evan duduk. Kemudian Linda berada diatas pangkuan Evan. Evan sangat puas dengan permainan yg dilakukan Linda kali ini, tidak biasanya Linda liar seperti ini.
Entah karena nafsu yg sudah memburu atau karena Linda ingin sesuatu yg berbeda pada ciumannya bersama Evan kali ini.
Linda ******* bibir Evan dengan lembut, memberikan kesempatan kepada kekasihnya untuk membuatnya semakin terbuai. Lama mereka berpagutan bibir, hingga Siska menyadari jika dibawah sana ada sesuatu yg mulai mengeras, membuatnya merasakan hawa panas yg menjalar diseluruh tubuhnya.
Evan melepas ciumannya, ketika ciumannya berpindah ke leleh Linda. Linda menahanya.
"Beb, hentikan. Jangan teruskan, aku takut kita tidak bisa menahannya lagi." Linda mengatakannya dengan menangkup kedua pipi Evan.
Evan tidak memperdulikannya, dirinya tetap mencumbu leher jenjang milik Linda. Evan melakukannya dengan hati-hati karena dirinya tidak ingin meninggalkan jejak merah disana, tentu orang yg melihatnya akan berfikiran yg bukan-bukan mengenai Linda.
Puas mencumbu leher Linda, akhirnya Evan berhenti melakukan kegiatannya. Dipeluknya Linda dengan erat. "Maafkan aku, Beb." Kalimat itu yg terlontar dari mulut Evan.
Linda melonggarkan pelukan Evan, ditatapnya wajah pria yg membuatnya jatuh cinta itu.
Cup !
Linda mencium bibir Evan sekilas sebelum mengatakan apapun kepada Evan.
Tangannya membelai wajah Evan dengan lembut.
"Maaf karena apa, Beb?" Linda justru menggodanya.
__ADS_1
"Aku sudah berbuat lebih padamu, Beb." Evan kembali memeluk Linda.
Linda terkekeh mendengar penuturan Evan.
Dia bangkit dari pangkuan Evan, dan berpindah duduk disebelah Evan.
Ditutupnya mulut Evan dengan jari telunjuknya.
"Itu wajar Beb, kita pasangan normal bukan? Tapi setelah ini aku harus buru-buru pulang Beb. Kamu tidak perlu mengatarku, Beb. Apa kamu lupa jika aku kesini mengendarai.obil sendiri? Jadi lebih baik kamu segera ke kamar mandi, Beb. Setelah aku pulang." Alih-alih marah karna Evan telah mencumbu bagian lehernya, justru Siska berpesan demikian membuat Evan bingung.
"Kenapa aku harus ke kamar mandi, Beb?" Tanya Evan kebingungan.
Tanpa menjawab dengan kalimat, Linda melirikkan matanya menuju bagian bawah tubuh Evan.
Evan terperangah mendapati kekasihnya menyadari jika Juniornya merespon tindakan mereka tadi.
Wajah Evan memerah karena malu, Evan pun berlari memasuki toilet karena tidak ingin kekasihnya itu melihat Juniornya yg semakin mengeras dibuatnya.
Siska yg tahu jika kekasihnya pasti akan lama di toilet memutuskan untuk berpamitan pulang melalui pesan saja, daripada dia menunggu Evan, dan pastilah Evan akan canggung karena masih malu dengan kejadian barusan.
'Beb, aku pulang ya. Maaf tidak menunggumu, aku takut jika kamu tidak bisa mengontrolnya lagi. Kasihan, dan terimakasih untuk hari ini. Love you, Beb'
Begitulah isi pesan yg dikirimkan Linda kepada Evan.
Setelah berpamitan melalui pesan, Linda bergegas meninggalkan rumah kekasihnya menuju kos Siska.
Sejak Evan mengatakan jika Mommy-nya sakit, Linda tidak ingat lagi jika hari ini dirinya tengah mencari sosok sahabatnya yg tidak masuk kuliah karena izin yg tidak masuk akal dan membuat Linda khawatir.
Beberapa pesan dan juga panggilan Siska tidak dihiraukan Linda, perempuan itu sengaja akan langsung pergi menemuinya dikos karena Linda ingin mendapatkan penjelasan langsung oleh tersangkanya.
__ADS_1
Sesampainya dikos Siska, Linda buru-buru naik ke lantai dua. Diketuknya pintu itu. Dan penghuni kamar kos itu pun segera membuka pintu.
Tuk!
Linda menyentil dahi Siska ketika mendapati dirinya mematung didepannya.
"Duh, Linda. Sakit tauk!" Omel Siska mengelus-elus dahunya yg memerah karena disentil oleh Linda.
Tanpa menghiraukan ucapan Siska, Linda langsung saja masuk kedalam kamar kos sahabatnya itu.
Linda lalu merebahkan dirinya diatas kasur empuk milik Siska, disusul dengan Siska disebelahnya.
"Sekarang, ceritakan padaku. Tadi pagi kenapa kamu tidak ke kampus? Dan lagi siapa yg memberikanmu izin. Sepagi itukah kamu pergi ke kampus?" Selidik Linda kepada Siska.
Siska menghembuskan nafasnya sebentar sebelum memulai pembicaraannya.
"Aku tadi pagi pergi bersama Beni, dia juga yang mengizinkanku kepada Dosen hari ini jika aku tidak masuk kuliah. Kami menghabiskan waktu hingga siang tadi, Beni kemudian berpamitan pergi karena dia harus kembali ke Kota S untuk melanjutkan pekerjaannya." Siska menjeda ceritanya, sedangkan Linda masih fokus mendengarkan penjelasan sahabatnya itu.
"Lalu, sore tadi hingga petang, aku disini bersama Ken." Lanjut Siska kembali.
Mendengar nama atasan papanya disebut, Linda tersentak dan mendudukan dirinya dikasur Siska.
"Apa katamu, Sis? Tuan Ken kesini? Dikamar kosmu ini?" Tanya Linda dengan sangat antusias dan penasaran.
Siska hanya menjawab dengan anggukan kepala setelah dirinya pun menyusul Linda duduk dikasurnya.
"Aku heran dengan Tuan Ken, dia begitu tergila-gila denganmu, Siska. Beruntungnya sahabatku ini." Gemas Linda yg berkata dengan mencubit kedua pipi Siska.
"Beruntung apanya sih Lin, tiap didekatnya aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku selalu saja luluh dengannya. Aku juga heran dengan diriku ini. Jelas-jelas kalo statusku masih kekasih Beni, tapi sekarang aku malah dekat dengan Ken." Siska beranjar dari kasurnya menuju kulkas mini untuk mengambil minuman. Siska mengambil 2 botol minuman bersoda, satu untuknya dan satu lagi diberikan Linda.
__ADS_1
"Kalo aku jadi kamu ya Sis, udah aku tinggalin tuh si Beni. Dan memilih Tuan Ken. Tuan Ken bahkan lebih segalanya dibanding Beni. Upsss." Linda menutup mulutnya seketika teringat akan ucapan papanya jika Ken menyuruh Linda untuk menyembunyikan identitas Ken yg sebenarnya CEO ditempat Pak Bram. Hal itu dilakukan Ken agar Siska tidak mider jika berdekatan dengan dirinya, karena Ken tahu betul, Siska pasti akan menjauhinya jika status sosial mereka sangatlah jauh berbeda. Ken menyadari hal itu ketika pertama kali berkencan dengan Siska, dia hanya meminta bayaran seperlunya saja, padahal jika dia mau dia bisa memporoti uang Ken saat itu juga. Alih-alih mencari kesempatan, Siska justru kaget ketika Ken mentransfer sejumlah uang yg nominalnya sangat fantastis menurutnya. Siska berniat akan mengembalikannya, namun Ken menolak karena uang itu memang pantas didapatkan Siska.
Dari situlah Ken mulai mengagumi Siska, bukan hanya tampilannya yg sederhana, namun hatinya pun sesederhana orangnya. Meskipun kerap banyak orang yang mencibirnya karena warna rambut Siska dinilai sebagai perempuan tidak benar,terlebih pakaian kerjanya yg selalu menuntutnya mengenakan rok mini juga make up tebal. Namun Siska tak pernah ambil pusing dengan masalah itu, baginya mereka tidak pernah membiayai hidup Siska jadi Siska lebih memilih acuh saja. Toh apa yg dilakukan Siska masih dalam batas kewajaran.