Selingkuhan Ku , CEO Ku

Selingkuhan Ku , CEO Ku
BAB 23 - Ken patah hati


__ADS_3

Ken terkekeh dengan ucapan yang dilontarkan Siska.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Apa kamu sudah makan, Sayang?" Ken kembali bertanya kepada Siska dengan menekan kata panggilan 'Sayang'.


Siska menjawabnya menggeleng. Karena memang Siska belum makan sejak bekerja dikantor Wijaya Group. Dirinya hanya makan ketika sarapan bersama alinda tadi pagi sebelum mereka berangkat ke kampus.


"Ah ya ampun, kenapa aku jadi melupakan perutku yang sedari pagi baru terisi bubur ayam saja." Siska menggerutu dalam hatinya. Baru ia sadari jika hari ini dirinya mengabaikan perutnya. Mungkin karena bersemangat bekerja dihari pertama jadi Siska sampai tidak merasa lapar sedikitpun.


Ken kembali berucap setelah mendapati jawaban dari Siska jika dirinya belum makan malam.


"Makan dulu, Sayang. Kamu bisa sakit kalau mengabaikan pola makanmu yang tidak teratur itu. Atau kamu mau aku bawakan apa? Biar aku ke kosmu sekarang juga."


"Tidak perlu, Ken. Aku hanya sibuk kuliah dan bekerja hari ini, jadi aku merasa tidak lapar seharian. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Lagipula aku juga sudah terbiasa sejak dulu dengan keadaan ku." Jawab Siska meyakinkan Ken jika dirinya baik-baik saja meskipun seharian tidak makan.


"Maafkan aku, Siska." Gumam Ken disebrang telepon.


"Bisakah kamu memberiku jawaban sekarang saja, Sayang. Aku sudah tidak sabar menunggu jawabanmu seminggu kedepan." Rengek Ken menampilkan wajah yang dibuat nelangsa.


Siska terdiam sebentar, sebelum kembali menatap Ken dilayar ponselnya.


"Ken, aku masih berstatus kekasih Beni. Tolong mengerti posisiku saat ini, kamu bisa mencari perempuan yang berstatus lajang daripada mengharapkanku." Siska terlihat sedikit bersedih ketika mengatakan itu kepada Ken. Sebenarnya, kalau boleh jujur memang Siska mulai nyaman dengan Ken. Bahkan perempuan berusia 22th itu sedikit meragukan perasaannya kepada kekasihnya, Beni yang selama 2th belakangan sudah menemani hari-harinya.


"Sudah ku katakan, jika aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang aku inginkan, kamu menjadi wanitaku, Siska! Tidak peduli jika status kamu masih kekasih Beni! Aku sangat mencintaimu, Siska. Apa kamu tidak bisa merasakannya." Tutur Ken yang sedikit meninggikan suaranya karena merasa Siska mengabaikan keinginannya tempo hari.

__ADS_1


"Ken." Siska menghentikan ucapan Ken sebelum dirinya melanjutkan kalimatnya.


"Sudah tidurlah, aku tidak ingin jika kamu terlambat kuliah juga bekerja karena membual bersamaku lagi. Selamat malam." Ken pun menutup panggilan telepon tanpa menunggu kalimat Siska.


Siska menghela nafasnya panjang. Dia tahu jika saat ini Ken marah padanya. Mungkin kata-kata yang diucapkan Siska tadi sedikit menyinggung perasaan Ken. Tapi itulah kenyataannya. Untuk saat ini dirinya belum bisa memastikan apakah kehadiran Ken di hidup Siska hanyalah penghibur sesaat atau memang karena Siska memiliki sedikit perasaan terhadap Ken.


Ken melempar ponselnya ke lantai. Dirinya merasa tidak dihargai oleh Siska. Bagaimana bisa perempuan itu memperlakukan seorang CEO pewaris Wijaya Group dengan mengabaikan perasaannya. Baru kali ini Ken memgalami penolakan oleh seorang perempuan, biasanya merekalah yang selalu mengejar Ken untuk menjadi kekasihnya. Benar-benar membuatnya frustasi.


Melihat sikap Ken demikian, membuat Siska merasa bersalah. Siska segera menulis pesan singkat kepada pria yang selalu membuatnya melepas ciumannya padahal mereka bukanlah sepasang kekasih.


'Ken, maafkan aku. Aku tidak bermaksut melukai ataupun menyinggung perasaan mu, sama sekali tidak ada niatan itu sedikitpun. Jika boleh jujur, aku sebenarnya merasa nyaman ketika bersamamu. Namun aku harus memastikannya terlebih dulu sebelum aku salah mengartikan perasaanku kepadamu. Mungkin terlihat tidak masuk akal bahkan konyol didengara. Kita baru beberapa hari bertemu, tapi kamu sudah mengingkanku menjadi wanitamu, bahkan kita sudah berciuman lebih dari satu kali. Aku merasa seperti wanita murahan, Ken. Aku mempunyai kekasih, tapi aku melakukan hal itu bersama pria lain. Tidak bisakah kamu mengerti perasaanku dengan semua keadaan ini Ken? Jadi, aku minta maaf Ken. Aku janji akan memberikan jawaban seperti kesepakatan kita kemarin, beri aku waktu satu minggu. Dan aku akan memberikan jawabannya kepadamu.'


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Siska kepada Ken. Tapi pesan itu hanya bertanda centang satu.


Siska akhirnya pun terlelap dengan ponsel yang masih mencoba menghubungi Ken, entah sudah berapa kali Siska melakukan panggilan ke nomor pria yang kini sedang marah kepadanya.


Sedangkan pria yang dikhawatirkan Siska justru tengah berada di Club malam bersama asisten Yoga untuk meredakan kemarahannya saat berbincang dengan Siska tadi.


Flashback On


Yoga yang mendapati Tuannya tengah tersungkur dilantai dengan kondisi ponsel yang berserakan, mencoba merengkuh bahu Ken, mendudukkan Tuannya ke sofa dan membereskan serpihan ponsel dari lantai. Satu persatu kepingan itu dikumpulkan asisten Yoga. Ponsel yang berharga puluhan juta kini sudah tidak ada nilainya lagi. Hanya kepingan Sim Card yang masih bisa digunakan karena hanya terlepas dari pengait ponsel tanpa rusak ataupun patah. Yoga menyimpan Sim Card Ken kedalam dompetnya, siapa tahu Bosnya masih membutuhkannya. Sedangkan serpihan ponsel yang lainnya langsung dibuang Yoga kedalam tempat sampah yang berada diluar apartemen Ken.


Setelah dikira Ken sudah merasa tenang, barulah Yoga mulai bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada Bosnya. Nampak raut wajah Ken dan juga penampilan Ken yang berantakan.

__ADS_1


"Mungkin Ken sedang ada masalah dengan Nona Siska." Batin Yoga menelisik kondisi Bosnya dari atas sampai bawah.


"Ada apa Ken? Kenapa kamu menghancurkan ponselmu? Apa yang terjadi?" Tanya Yoga.


Ken diam tanpa memberikan kalimat apapun.


"Apa ini semua ada kaitannya dengan Nona Siska?" Tanya Yoga kembali.


Pertanyaan Yoga kali ini mendapat anggukan kepala dari Ken sebagai jawabannya.


Yoga sedikit membuang kasar nafasnya, Ken yang selama ini ia kenal sebagai seorang Cassanova, bersikap dingin dan acuh kepada perempuan, namun kini Yoga melihat sisi lain dari Bosnya yang ternyata sedikit rapuh ketika sudah benar-benar mencintai seseorang.


"Tenangkan dirimu, Ken. Kalau kamu bersikap seperti ini, justru Nona Siska akan membencimu. Kamu terlalu berambisi untuk memaksa Nona menjadi wanitamu." Ungkap Yoga kepada Ken.


"Benar juga apa yang dikatakan Yoga, aku tidak mau Siska membenciku karena hal sepele ini. Aku harus bisa mengontrol emosiku. Demi wanita yang aku cintai." Gumam Ken sambil memicingkan matanya menatap Yoga.


"Sebaiknya kita segera ke Club, Ga. Aku ingin menjernihkan fikiranku sebentar, mungkin dengan minum dan bertemu dengan banyak perempuan disana bisa menghiburku dan mengobati sedikit rasa kecewa ku pada Siska, Perempuan itu sungguh sangat membuatku gila, Ga." Ujar Ken yang kemudian mengganti pakaiannya mengenakan kaos yang di padupadankan dengan celana jeans panjang juga blazer untuk menunjang penampilannya agar terlihat semakin tampan dan mempesona.


Yoga pun bersiap mengikuti Bosnya melangkahkan kakinya keluar apartemen menuju Club seperti yang di inginkan Ken.


Flashback Off


............

__ADS_1


__ADS_2