
Ki Manteb Soedarsono adalah dhalang yang sangat profesional, beliau juga sesepuh para dhalang se Eks-Karisidenan Surakarta dan kehebatannya sudah diakui hingga mancanegara, maka tak heran jika beliau lah yang memang benar-benar pantas melatih Joko. Sanggar Bima, Karangpandhan adalah rumah Ki Manteb Soedarsono di Karanganyar. Sesampainya di sana, rombongan kecil itu disambut oleh Ki Manteb sendiri yang kebetulan sedang bersantai di pendhapa.
"Loh Nak Bayu, janur gunung (jenis wangsalan) ana apa?? Mangga mlebet!!" (Loh Nak Bayu, tumben ada apa?? Mari masuk!!) sambut Ki Manteb.
Mereka disambut baik oleh Ki Manteb, setelah semua sudah duduk, Ki Manteb bertanya apa maksud kedatangan mereka semua.
"Dados mekaten Pak Manteb, kula sowan mriki mboyong Dik Janaka utawi Dik Joko ingkang kepengin ngangsu kawruh babagan ringgit cucal ugi pedhalangan. Dik Joko punika saking tlatah Jati, Ngargoyoso, Karanganyar. Sapunika piyambakipun nembe kelas 1 SD, nanging krentegipun sinau babagan pewayangan ageng sanget Pak, niki wau jan jane piyambakipun kaliyan Bapa tuwin Ibunipun sowan dhateng sudhung kula kepingin ngangsu kawruh dhateng kula, kamangka kula piyambak nggih tasih ngangsu kawruh, pramila kula bekta mriki." (Jadi gini Pak Manteb, saya datang ke sini membawa Dik Joko, yang ingin belajar tentang wayang kulit dan pedhalangan. Dik Joko ini dari Jati, Ngargoyoso, Karanganyar. Sekarang dia baru kelas 1 SD, tapi keinginannya untuk belajar pewayangan sangat besar Pak, sebenarnya tadi dia bersama dengan ayah dan ibunya datang ke rumah saya kepingin belajar pada saya, padahal saya sendiri juga masih dalam tahap belajar, maka dari itu saya bawa ke sini) jawab Ki Bayu Aji.
"Wah wah luar biasa dik Joko. Kamu masih kecil tapi sudah mau menjadi dhalang, kalau boleh saya tahu, kamu kok bisa seneng sama wayang?? Siapa yang mengenalkanmu pada wayang??" tanya Ki Manteb penasaran.
__ADS_1
"Dia suka wayang saat menonton pentas Ki Mudho Wibowo di lapangan kecamatan saat pesta rakyat di hari kemerdekaan bulan lalu. Kalau itu saya sendiri pun tidak tahu secara pasti, tapi saat pulang nonton dia merengek minta dibelikan wayang." jawab Om
"Kami memesan wayang kulit pada Pakde Mul setelah diberitahu oleh pedagang wayang kertas di kawasan Pasar Klewer dan seminggu lalu wayang itu sampai di rumah. Joko sangat senang dan Pakde Mul bertanya pada Joko apakah dia mau menjadi seorang dhalang, Joko tak menjawabnya dan malah diberi alamatnya Mas Bayu jika Joko mau belajar mendalang, malah sama Mas Bayu kami dibawa kesini. " tambah Bulik.
"Oh.. Jadi seperti itu Joko, tapi kenapa rambutmu panjang sekali??Apa tidak pernah cukur??" tanya Ki Manteb lagi.
"Nggak Pak, Joko nggak mau dicukur, soalnya Joko takut kalo dicukur." jawab Joko.
"Lanjutkan saja tidak masalah, Pak Manteb mungkin bisa membantu apabila ada sesuatu yang kurang baik nantinya." jelas Ki Bayu Aji meyakinkan.
__ADS_1
Om dan Bulik belum pernah menceritakan hal ini pada siapapun bahkan pada keponakan-keponakannya, alasannya hal ini adalah aib Keluarga Besar Haryanto. Kakek melarang mereka untuk menceritakan semua tentang Joko pada dunia. Tapi hari ini, mereka harus menceritakannya pada calon guru Joko.
"Sebenarnya ini merupakan hal yang menjadi larangan, tapi untuk kebaikan Joko dan sebagai tanda keikhlasan kami menyerahkan Joko agar Ia bisa mencapai cita-citanya maka Kami akan bercerita." jelas Bulik.
Om memegang tangan istrinya itu dan mengangguk seolah berkata, biar aku saja.
"Lima tahun lalu ketika Joko lahir ke dunia ini, teman ayahku berkata 'anak ini terlahir saat gerhana bulan penuh tepat saat bulan tertutup bumi, itu pertanda yang kurang baik Nak. Ku rasa ruwatan pun tak bisa membebaskannya dari energi negatif gerhana bulan. Kehidupannya banyak sekali rintangan dan tidak akan bisa hilang sebelum ia bertemu jodoh sejati. Kalau ramalan ku benar, dia akan menikah muda, lebih muda dari saudaranya yang lain, tapi bukan yang pertama melainkan yang kedua. Dia akan menikah ketika usianya dua windu lebih, tapi tidak sampai lima tahun. Selain itu dia juga memiliki kutukan, jika rambutnya di pangkas, maka kesialan akan datang padanya dan memendekkan umur kedua orang tuanya.' dan hal itu benar terjadi.. " Om menghela napas perlahan, ia tak berani menatap Ki Manteb secara langsung dan hanya menunduk menatap lantai.
"Setelah kelahiran adik kembarnya, rambutnya dicukur habis dan nasib sial benar-benar datang.." Om kembali berhenti bercerita. Ia menyeka ujung matanya yang basah, kemudian Bulik yang melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Joko yang baru berumur satu tahun , adik-adiknya yang baru dua bulan dan kakak-kakaknya yang masih balita harus menjadi yatim piatu seumur hidup mereka. Orangtua kandung mereka telah tiada karena kecelakaan parah saat perjalanan keluar kota, padahal baru dua hari lalu mereka mengadakan syukuran kelahiran anak kembar mereka, tapi takdir berkata lain dan ramalan Mbah Ranto benar adanya." ucap Bulik dengan air mata yang membasahi pipi karena tak kuasa menahan tangis.
Bersambung