
Hari demi hari Joko semakin pandai dalam memainkan wayang dia sudah menguasai semua sabetan Ki Manteb dan beberapa lakon wayang lainnya. Itulah sebabnya Ki Manteb semakin tertarik dengan kemahirannya. Malam hari sekitar jam tujuh, Ki Manteb mendapat tawaran untuk bermain wayang di Ungaran, Semarang. Si peminta mengajukan persyaratan supaya Ki Manteb dapat membuat terpukau masyarakatnya dengan sabetan yang super duper istemewa dengan lakon wayang yang menarik. Hal tersebut sangat gampang bagi sang seniman, Ki Manteb Soedarsono. Dalang kondang yang dikenal dengan kemahirannya dalam melakukan sabetannya itu. Nah, seketika itu dalam benak dan pikiran Ki Manteb terlintas Joko.
"Nah ini ni yang menambah terpukau penontan hari H yang akan datang." ucap Ki Manteb dengan suara yang lirih dan emosi yang gembira.
Setelah tamunya tadi pulang Ki Manteb langsung ke kamar Joko, yang berada di dekat ruang tamu. Ki Manteb melihat Joko sedang belajar wayang dengan sabetan dan lakon Babad Alas Wanamarta, Joko yang 80% hafal lakon tersebut membuat Ki Manteb semakin mantap untuk mengajak Joko ke Ungaran. Setelah selesai belajarnya Ki Manteb memberikan tepuk tangan kepada Joko.
"Hebat!!" puji Ki Manteb kepada Joko sembari mengacungkan jempol.
__ADS_1
Setelah Ki Manteb menawarkan ajakan ke Joko, Joko langsung menganggukkan janggutnya dan berkata, "Kula purun sanget Pak."(saya mau sekali Pak).
****
Sebelum hari H, Joko berlatih keras untuk kali pertamanya dia ditonton khalayak ramai. Joko mengulang sabetan dan suluk tidak lupa lakon Babad Alas Wanamarta. Serta beskap untuk menutupi tubuhnya yang mungil itu.
****
__ADS_1
Dua jam perjalanan mereka pun, tiba di lokasinya. Jantung Joko berdebar kencang. 'Dug,dug,Dug...' Joko sangat takjub dengan wayang-wayang yang ditata rapi memenuhi panggung tidak lupa konsep panggungnya yang megah, lampu yang terang membuat pemirsa tidak akan mengantuk atau bosan melihatnya. Mendengar detak jantung Joko,pak Manteb berpesan, "Nggak usah grogi ya Le, anggap saja Joko hanya berlatih wayang dengan bapak."
Setelah mendengar nasihat Ki Manteb Joko lega dan merasa percaya diri. Pentas dimulai oleh Ki Manteb sendiri karena Joko hanya mendapat sedikit waktu di sela-sela pentasnya nanti. Empat jam berlalu dan tibalah saat dimana Joko tampil. Saat akan menaiki panggung Joko mengambil napas dalam-dalam dan berpikir kalau dia sedang berlatih wayang dengan bapaknya.
Awalnya para penonton bingung, mengapa Ki Manteb Soedarsono harus digantikan oleh seorang dhalang kecil. Setelah Joko mulai sabetan, penonton yang menyaksikan itu seolah-olah tak percaya dan dibuat takjub oleh Joko. Mengapa tidak, Joko yang masih kecil itu berdandan rapi dengan beskap merahnya yang membuat terpesona penonton. Joko memainkan perang Bambangan atau perang Arjuna dan Cakil. Joko sangat luwes menikmati peran tsb. Sehingga membuat penonton semakin tersihir melihatnya. Di akhir pentasnya, penonton memberikan tepuk tangan yang riuh. Dan tamu - tamu yang datang memberikan apresiasi kepada Joko.Hal ini juga membuat takjub Ki Manteb.
Sungguh pemandangan yang elok.
__ADS_1
Bersambung