Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 6 Malam yang Kelam


__ADS_3

Setelah Bulik minta restu pada Kakek, Bulik memutuskan untuk mengantarkan Joko ke alamat yang didapatkannya. Namun, matahari sudah berada di ujung cakrawala dan segera menuju peraduannya.


Kebon Seni Timasan


Jl. Cuwiri No. Xx, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.


0891234xxxxxx (mas Bayu)


Begitu tulisan yang tertera diselembar kertas milik Joko pemberian Pakde Mulyono (paman yang membuat sekaligus mengantar wayang Joko).


“Aku akan mewujudkan impianmu sayang." kata Bulik sambil mengecup dahi Joko.


Kak, aku tahu kalau kalian ada disini, pasti kalian akan mendukung Joko dan mendapatkan restu dari ayah bagaimana pun caranya. Aku akan melakukan itu untuk kalian, aku akan tetap bersama Joko sampai kapanpun, aku akan menjaganya untuk kalian. Aku harap kalian selalu dalam keadaan bahagia. gumam Bulik sambil memandangi foto kakak dan kakak iparnya.

__ADS_1


Hari sudah malam dan disamping Bulik ada seorang anak laki-laki yang sedang tertidur lelap, wajahnya tampan dan sejuk dipandang, wajahnya pun tampak menggemaskan saat dia sedang tidur. Bulik memandanginya, mengelus-elus rambutnya, sampai tak terasa air mata menetes di pipi Bulik.


Andai saja aku bisa mempunyai anak, pasti hari ini anakku yang tidur disini dan pasti anakku akan sangat senang jika berada disini. Tapi pasti lebih menyenangkan jika dia akur dengan kakaknya, tidak ada persaingan apapun dan selalu mendukung satu sama lain. Tapi hanyalan hanya tinggal hayalan, nyatanya aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku bahkan untuk rumah ini, justru kakak iparku yang mendapatkan banyak anak. Ya Allah mengapa Kau melakukan semua ini pada hamba. tangis batin Bulik.


"Assalamualaikum, aku pulang!!" suara Om memecahkan heningnya malam di ruang belakang.


"Wa'alaikumsalam Mas, kok pulangnya malam banget?? Habis lembur yha??" sambut Bulik keluar dari kamar Joko dan segera menuju dapur membuatkan kopi untuk suaminya yang baru pulang itu.


"Hehehe, nggak ada lembur hari ini, tapi ada masalah dadakan." jawab Om dengan wajah pasi.


"Mau masalah apa lagi sih, yha masih kayak biasanya lah."


"Maksudmu si Andhi berulah lagi??" sambil menyuguhkan kopi yang telah dibuatnya.

__ADS_1


"Yha begitulah.. Wataknya tidak pernah berubah, masih seperti dulu, kekanak-kanakan. Padahal dia sudah hampir lulus SMA dan dia juga sebentar lagi akan menjadi seorang suami, tapi sifatnya sama saja." gerutu Om sambil nyeruput kopi.


"Memang apa yang dia lakukan Mas??"


"Dia mabuk dan membuat onar di bar dan juga terlibat perkelahian disana. Terus dia diamankan di kantor polsek, teman ayah menghubungiku dan aku harus segera kesana untuk membereskannya. Ah anak itu benar-benar tidak bisa diharapkan, tapi kenapa ayah masih saja percaya sama dia sih!! Sudah jelas anak itu sering sekali membuat ulah yang menodai nama keluarga Haryanto dan anak itu tetap saja tidak merasa bersalah sedikit pun." jelas Om sambil nyeruput kopi lagi.


"Ah sudahlah sekarang masalahnya sudah selesai, aku lelah dan ingin mandi, kau sudah menyiapkan airnya??" tanya Om.


"Oh iya, aku merindukanmu." tambah Om dengan nada menggoda.


"Iya Mas airnya sudah siap." jawab Bulik sambil senyum-senyum sendiri.


Hah, seorang cucu yang benar-benar tidak tahu diri, walaupun sudah lulus SMA, sudah mendapat pekerjaan dan juga sudah mau menikah sikapnya masih saja seperti anak-anak. Dia juga cucu kedua di keluarga Haryanto, tapi dia tidak pernah peduli tentang harga dirinya ataupun harga diri keluarganya, yha itulah seorang Andhika Dwi Haryanto.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2