
Tanggal 18 November 2019 adalah hari ulang tahun Kabupaten Karanganyar, tempat lahir dan tempat tinggal Joko 16 tahun terakhir. Sudah banyak sejarah dan cerita di kabupaten besar ini. Jika mengingat masa lalu selama 9 tahun yang lalu, maka akan banyak sekali tangis dan kekecewaan, tapi setelahnya Joko mendapatkan jalan hidup yang baru dengan menjadi seseorang yang baru dan mengetahui jati dirinya. Apalagi dengan adanya Laras yang mampu membuatnya lebih tenang dan bahagia. Hidupnya memang sudah lebih baik dan terus berangsur membaik, luka masa lalunya pun sudah kering tinggal menunggu bekasnya hilang.
**
Pukul 07:00 WIB Joko sudah selesai bersiap. Hari ini ia tidak pergi ke sekolah, melainkan mendatangi upacara ulang tahun kabupaten kesayangannya. Yha, Joko menjadi salah satu tamu kehormatan dalam upacara itu bersama Ki Manteb. Kenapa Joko bisa menjadi tamu kehormatan?? Jawabannya adalah karena prestasinya sebagai seorang dhalang muda berbakat yang sudah diakui se-Pulau Jawa. Prestasi yang bagus memang, meski masih dalam lingkup satu pulau saja. Tak hanya muda dan berbakat, tapi juga tampan dan rendah hati, murah senyum tapi agak cuek sama cewek. Hari itu Joko mengenakan busana tradisional jawa tengah yaitu beskap, jarik, blangkon dan keris. Percaya atau tidak, ketampanan Joko bertambah 3 kali lipat saat berpakaian seperti itu (menurut author ehehe). Gagah, berwibawa, sarwa pantes sasolahe (serba pantas bagaimana pun tingkahnya), miyayeni (seperti seorang bangsawan), tan nguciwani (tidak mengecewakan deh). Joko dan Ki Manteb berangkat pukul 07:10 WIB, meski acaranya dimulai pukul 08:00 WIB. Yhaa seperti biasanya Ki Manteb tidak pernah terlambat, sesuai dengan prinsipnya 'lebih baik datang 1 jam lebih awal, daripada terlambat 5 menit'.
Tepat pukul 08:00 WIB upacara peringatan itu dimulai. Upacara dilaksanakan seperti upacara bendera saat hari kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi dengan bahasa Jawa. Mulai dari pembawa acara hingga aba-aba pun menggunakan bahasa Jawa, tapi untuk lagu kebangsaan, pembacaan Pancasila dan pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar tetap sesuai ketentuan yang ada. Kurang lebih 1 jam 5 menit upacara inti telah selesai, dilanjutkan dengan hiburan yang disiapkan oleh jajaran pemerintahan di Kabupaten Karanganyar, salah sattu yang menarik bagi Joko adalah Tari Derkuku Karang yang dibawakan oleh siswa-siswi SMP dan SMA sederajat se-Kabupaten Karanganyar. Mereka adalah utusan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar. Joko langsung ke depan tenda kehormatan, memasuki area penari untuk mencari sang pujaan hati, ia tahu kalau Laras ada di sana. Sambil membawa kamera, Joko melihat kesana-kemari mencari Laras, tapi belum juga menemukannya, 10 menit kemudian dia baru mengetahui di mana posisi Laras saat menari, persis di depannya. Selama pentas seni tari itu, Joko mengambil banyak foto Laras.
Pentas selesai dan Joko ingin menyusul Laras. Ia meminta izin kepada Ki Manteb dan dia diizinkan, Joko sangat senang. Ia bergegas mencari Laras. Tapi banyak sekali orang di sana, Joko pun punya ide, pertama-tama ia harus mencari rombongan SMP 1 Ngargoyoso baru bertanya dimana Laras. Menyisir sepanjang timur alun-alun, Joko pun menemukan rombongan sekolahnya, di sana ada Pak Imam Janthara, Bu Endang Setyananingrum, Bu Dwi Marheningsih, Bu Dewi Isnanti, dan Pak Hari Santosa. Joko segera menemui mereka.
"Lho iki kok ana bocah bagus khi, nek ra pangling Joko ta iki??" (Lho ini kok ada anak ganteng, kalau tidak salah Joko kan ini??) tanya Bu Dewi.
"Inggih Bu, leres." (Iya Bu benar) jawab Joko.
"Kok di sini Nak dan kok pakai beskap komplit??" tanya Bu Endang.
"Em, saya ikut Bapak upacara di sini. Kebetulan tadi saya liat temen-temen pada nari dan saya nyusul kesini." jawab Joko.
"Alah bilang aja kamu nyari seseorang." celetuk Pak Imam.
"Hehehe, iya Pak, saya nyari Laras." jawab Joko malu-malu.
"Nah, iya kan.. Tuh di sana, cepet samperin keburu di pepet orang lain, hahaha." ledek Pak Imam.
Sontak semua guru yang ada di sana tertawa dan Joko pun pamit untuk segera menemui Laras.
"Halo. Lagi makan ya?" sapa Joko pada Laras.
"Eh, kok disini?? Engga sih, aku ngga makan." jawab Laras.
__ADS_1
"Kamu tahu kan, aku tu terkenal dan dicintai banyak orang, ya jangan heran dong kalo aku disini." jawab Joko sombong dan setengah meledek.
"Sombong amat lu, jatoh baru tau rasa!!" jawab Laras jengkel.
"Eh maafin abang ya sayang. Ups!!!"
"Idih, ngga usah sok pake sayang deh.." celetuk Laras.
"Joko!! Kamu udah dapet jatah makan belum?? Ini masih ada lho." ucap Pak Hari.
"Sampun Pak!!" (sudah Pak) jawab Joko.
"Kamu kenapa bohong sih Ko??" tanya Laras.
"Siapa yang bohong?? Aku ngga bohong." jawab Joko.
"Nih punyaku, aku tahu kamu itu laper." ucap Laras sambil menyodorkan nasi box miliknya.
Laras tersipu malu, pipinya memerah lagi.
"Emm nanti pulang sama siapa??" tanya Joko.
"Yha sama rombongan lah, naik bis. Emang kenapa??"
"Pulang bareng aku ajah, aku pulang ke Jati kok hari ini."
"Aku ikut dong Ko!?" sahut Nasya.
"Yha Ras, please!!" pinta Joko pada Laras tak menghiraukan Nasya.
__ADS_1
"Iya Ko, tapi... " jawab Laras
"Oke, hanya aku dan Kamu." sahut Joko memotong ucapan Laras yang belum selesai.
Muka Nasya langsung menjadi kesal karena sifat Joko. Padahal memang dari dulu Joko itu hanya perhatian dan sayang pada Laras, tidak pada cewek lain selain Laras.
Joko membujuk Laras untuk berfoto bersama, mau tidak mau Laras menurutinya.
"Ku akui, kalian adalah pasangan yang sempurna." ucap Pak Hari.
"Kalau begitu ambil banyak foto Pak, itung-itung prewed ehehe." celetuk Joko.
"Hmm, cah cilik og wis mikir rabi." (Hmm anak kecil og udah mikir nikah) ucap Pak Imam.
"Namung gojek nggih Pak. Ning nyuwun pengestune mawon, mugi-mugi langgeng ngoten lhoo.. Hehehe." (Cuma bercanda kok Pak. Tapi minta doa restunya saja semoga langgeng gitu lho. Hehehe) jawab Joko.
"Sekolah sik, ora pacaran." (Sekolah dulu, nggak pacaran) ucap Bu Dewi.
"Lha iya kuwi, cah cilik og pacaran. Kaya Bu Guru khi lho, mbiyen ra nduwe pacar ning okeh sing ngesir." (Lha iya toh, anak kecil kok pacaran. Kayak Bu guru ini lho, dulu ngga punya pacar tapi banyak yang suka.) tambah Bu Endang.
"Wih Bu Endang hebat ya. Ning lha kok saged kalih Pak Imam, Bu??" (Tapi kok bisa sama Pak Imam, Bu??) tanya Joko.
"Ya isa ta yaaa, dadi ceritane khi pisanan ketemu ning pinggir sarehan Le." (Ya bisa lah, jadi ceritanya pertama kali ketemu tuh di pinggir kuburan Nak) jawab Pak Imam.
Sontak semuanya pun tertawa.
Nasya juga pengen foto bareng sama Joko tapi ditolak dan dia semakin kesal karena dicuekin sama Joko. Bukan hanya Nasya tapi juga semua cewek dari SMP 1, 2, dan 3 Ngargoyoso. Tapi atas permintaan Laras, Joko mau berfoto bersama mereka, dengan syarat tidak satu per satu, tapi langsung bersama-sama. Cewek-cewek itu seneng banget, sampai mereka berebut ingin berada didekat Joko, tapi berbeda dengan Joko. Dia sangat risih dengan keramaian dan ke-lebay-an cewek-cewek itu. Bahkan ada yang mau menggandeng tangannya, tapi Joko menolaknya mentah-mentah, selain itu ada juga yang mengajaknya selfie tapi Joko juga menolaknya.
Ketika semua acara telah selesai, Joko pun pamit pulang bersama Laras.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like^^