Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 3 Ketertarikanku Padanya


__ADS_3

Pagelarannya memang sudah selesai, tapi rasa penasaranku tidak. Aku masih saja memikirkan apa yang menjadikan dhalang bisa sehebat itu, dia bisa memainkan wayang yang tak hidup dan tak bisa bicara menjadi hidup dan bersuara. Dan aku masih belum paham dengan apa itu wayang, tapi aku terus saja merengek pada Om dan Bulik minta dibelikan wayang. Aku ingin melihat wayang dari dekat dan memegangnya juga memeluknya ketika tidur. Sudah dapat dipastikan bahwa Om dan Bulik akan membelikannya untukku. Akhirnya kami berkeliling kota untuk mencari wayang dan baru ketemu di sekitaran Pasar Klewer Solo, kemudian aku disuruh Om untuk memilih wayang yang aku inginkan, tapi aku masih bingung mengapa ukurannya tipis dan bentuknya berbeda dari yang kemarin.


Yaah.. Kok tipis sih, padahal kan pengen ku peluk pas tidur. gumam kekecewaan Joko.


Pedagangnya bilang bahwa wayang miliknya itu hanya wayang kardus yang murah berbeda dengan wayang kulit asli yang digunakan untuk pentas. Aku pun menangis agar dibelikan wayang kulit yang asli dan bagus tapi ternyata harganya mahal, walaupun harganya semahal apapun, benda yang membuatku senang Om dan Bulik akan tetap menurut dan membelikannya.


Pedagang itu juga mengenalkan kami pada pembuat wayang kulit di Sukoharjo dan juga memberikan alamatnya. Kami pun segera meluncur kesana. Dia sana kami diberi tahu oleh Paman pengrajin bahwa proses pembuatan wayang itu lama sekali, tapi aku bilang ke Paman itu kalau aku akan menunggunya. Setelah aku selesai memilih wayangnya kami pun pulang dan aku selalu setia menunggunya datang ke rumah.


**


Satu bulan telah berlalu dan akhirnya wayangnya sampai di rumah, tak terbayang bagaimana senangnya aku saat itu, pertama kalinya memegang wayang kulit yang tingginya hampir sama denganku. Wayang yang aku pesan adalah tokoh Bima yang tinggi dan besar, kulitnya berwarna emas tapi mukanya berwarna hitam, kukunya juga panjang dan yang membuatku tambah heran adalah wayangnya bolong-bolong (berlubang).


"Paman, wayangnya rusak yha?? Soalnya bolong." tanyaku pada seseorang yang membawanya.


"Hahaha, tidak Nak, wayangnya nggak rusak, tapi memang bolong-bolong seperti itu biar kelihatan bayangannya saat dipentaskan." jawabnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa kukunya panjang?? Apa wayangnya tidak pernah memotong kuku??"


"Itu namanya Kuku Pancanaka pemberian dewata sebagai senjatanya."


"Kepalanya ini kok gini bentuknya Paman??"


"Oh ini, ini namanya gelung Nak."


"Gelung itu apa dan dari apa??"


"Oooo.." jawabku sok paham.


"Kamu sepertinya kepengin tau banget yha tentang wayang?"


"Hehehe iya Paman, bukan hanya wayang tapi dhalang juga. Paman tahu apa itu dhalang??"

__ADS_1


"Dhalang adalah seseorang yang tugasnya memainkan tokoh wayang, menentukan jalan cerita, dan mengisi suara setiap tokoh yang dia mainkan."


"Jadi dhalang itu Tuhan??"


"Hahaha, tentu saja bukan, dhalang itu manusia biasa seperti kita. Apa kamu mau jadi dhalang??"


Pertanyaannya tidak begitu saja ku jawab.


Joko termenung sambil memandangi wayang barunya itu, di dalam hatinya ada sesuatu yang berkata bahwa kamu bisa jadi dhalang dan kamu harus jadi dhalang. Tapi pikirannya menolak keras.


Siapa yang mau mengajariku mendhalang, Kakek saja tidak tahu apa itu wayang dan apa Kakek mengizinkannya?? tanya Joko dalam hati.


Meskipun hati Joko memiliki keinginan untuk menjadi dhalang, tapi bayangan akan tidak direstui oleh Kakek masih menghantuinya. Namun, Om dan Bulik mendukungnya sehingga Joko membulatkan tekad untuk menjadi dhalang terlepas apapun keputusan Kakek.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2