Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 18 Kehidupan yang Berubah


__ADS_3

Setelah urusannya selesai, Mbah Gondo segera pamit karena sudah larut malam. Waktu begitu cepatnya berlalu hingga tak terasa sudah pukul 21:45 WIB. Joko masih belum mengantuk, dia masih memikirkan ucapan Kakeknya barusan, selain itu sikunya masih terasa nyeri.


"Ayah, Ibuk.. Joko kok malah jadi khawatir yha.. Kalo Joko mengalami hal yang sama kayak Kakek gimana??" tanyanya pada foto ayah dan ibunya.


"Eh, nggak boleh ngomong gitu.." ucap Kakek.


Sontak Joko terkejut dan berkata, "Loh, Kakek."


"Sudah malam, kamu nggak tidur?? Apa nggak bisa tidur??" tanya Kakek.


"Nggak bisa tidur.." jawab Joko


"Mau makan sesuatu dulu?? Tadi belum maem apapun kan??"


"Emm, Joko pengen nasgor."


"Dua porsi nasgor spesial segera dihidangkan." ucap Kakek dan segera menuju dapur untuk memasak nasi goreng kampung spesial untuk cucunya.


Itu tadi beneran kakek kan?? Kok jadi beda gitu sih sifatnya?? Aneh deh.. Batin Joko.


Sementara itu Kakek sedang sibuk memasak di dapur. Ia berkutat dengan alat masak selama 15 menit dan sekarang dua porsi nasgor kampung spesial sudah siap dimakan.


"Joko, ayo makan!!" panggil Kakek.


Joko pun keluar dari kamarnya dan segera menuju meja makan.


"Wah, baunyaa enaak tenaan.." ucap Joko dan dia segera melahap nasgor buatan Kakeknya itu.


"Wuuuih!! Enyaak Kek." ucap Joko dengan mulut yang penuh.


Kakek terkekeh dan berkata, "Nek mulute penuh jangan ngomong, ntar keselek."


Joko malah meringis dan Kakek hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu.


"Oh iya, gimana kalo mulai tahun ajaran baru nanti kamu pindah sekolah di Karangpandan, nanti sekalian pulang ke rumahnya Ki Manteb. Mau nggak??" tanya Kakek di sela-sela makan.


Joko yang kaget langsung keselek dan Kakek pun panik. Setelah tenang, dengan ragu Joko menjawab, "Emm gimana nggih.."


Duh, perasaanku jadi ndak enak gini yha.. Kok tiba-tiba Kakek bilang seperti itu, apa beneran Kakek udah ngerestuin aku buat jadi dhalang?? Tanya Joko dalam hati.

__ADS_1


"Yha nek kamu belum siap yha ndak usah dulu juga ndakpapa. Kakek nggak maksa kok.. Kakek cuma pengen kamu bisa lebih fokus lagi sama pelajaran ndhalangmu, tapi jangan lupa juga belajar materi pelajaran." ucap Kakek.


Joko manggut-manggut dan berpikir, Aduh Gustii, ini mimpii apa nggak yak??? Kakek beneran bilang gitu ke Joko.. Alhamdulillah, berarti Joko beneran direstui..


" Joko nunggu Om kalih Bulik dulu lah Kek." jawab Joko.


"Oh, oke oke.." ucap Kakek


***


Keesokan harinya, Bulik dan Om sudah sampai rumah. Mereka baru saja dari luar kota karena ada urusan bisnis yang mendadak. Sayangnya mereka melewatkan beberapa hal epik yang sangat tidak patut dilewatkan.


"Om, Bulik, selamat pagi!" sapa Joko di dalam rumah.


"Pagi Sayang!" jawab Bulik.


"Om sama Bulik capek kan?? Joko udah siapin air hangat dan sop ayam buat Bulik sama Om." ucap Joko.


"Ya ampun.. Makasih ya Sayang!" ucap Om.


"Mas, njenengan duluan gih yang mandi, aku mau maem sop bikinan anakku dulu." ucap Bulik.


"Om, Bulik nggak perlu rebutan gitu deh, malah kayak anak kecil, hehe." ucap Joko.


Om dan Bulik saling menatap dan memutuskan untuk makan bersama terlebih dahulu.


"Hmm, sopnyaa uenak pol!!" kata Om.


"Kok rasa sop ini nggak asing yha dilidah Bulik.. Sop ayam yang super enak kayak gini cuma ayah lho Mas yang bisa masak." kata Bulik.


Waduh, ketauan nih.. Kok Bulik bisa tau yha, kalo sop itu yang masak Kakek.. Apa dulunya Kakek sering masak buat Bulik dan almarhum ayah??? Tanya Joko dalam hati.


"Lha kok??" tanya Om keheranan.


"Dulu tuh ibuk sering banget nggak dirumah, kan ibuk TKW di Cina, jadi yang masak tuh ayah semua Mas." jawab Bulik.


Dengan kompak mereka menatap Joko. Joko pun jadi gelagapan dan berkata bahwa memang Kakek yang sudah memasak sop itu khusus untuk mereka. Sontak Om n Bulik tertegun tak percaya.


Ayah.. Masak buat kami?? Akan ada hal aneh apa lagi ini.. Batin Om.

__ADS_1


Mukjizat apa ini Ya Allah.. Engkau mengembalikan sosok Ayah hamba yang dulu?? Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Batin Bulik.


Secara tidak sadar, kantuk dan lelah mereka hilang begitu saja. Tiba-tiba Kakek datang ke ruang belakang untuk ikut sarapan bersama.


"Boleh gabung?? Kayake seru deh." ucap Kakek. "Loh, udah pada balik?? Sampe rumah jam berapa tadi??" tanya Kakek pada Om dan Bulik sambil mengambil nasi dan sop.


"Baru aja kok Yah. Oh iya, makasih yha udah masakin kita sop terenak di dunia." jawab Bulik riang.


Eh eh, Bundaaa, kamu tuh gimana sih.. Kok malah keliatan seneng gitu, Joko jugak senyum-senyum aja dari tadi. Cuma gue nih yang khawatir?? Seriusan cuma gue?? Tanya Om dalam hati.


"Syukur deh, kalo gitu makan yang banyak, habis itu mandi dan istirahat. Kalian capek banget kan pastinya??" kata Kakek.


Bulik mengangguk seperti anak kecil.


Duh, ini beneran cuma gue yha yang kek orang ****** yang nggak tau apa-apa?? Ucap Om dalam hati lagi.


"Oh iya aku mau ngomong hal yang serius sekarang. Gimana kalo mulai tahun ajaran baru nanti Joko pindah sekolah di Karangpandan, nanti sekalian pulang ke rumahnya Ki Manteb. Kakek cuma pengen Joko bisa lebih fokus lagi sama pelajaran ndhalangnya, tapi juga lebih dalam mempelajari materi pelajarannya. Gimana kalian mengizinkan nggak??" ucap Kakek


Lagi-lagi Om dan Bulik kaget. Om sedang berteriak dalam hati sekarang, sedangkan Bulik benar-benar sangat senang dengan ucapan ayahnya barusan.


"Yha kalo Adam ngikut Ibuknya si Joko aja." jawab Om karena kebingungan.


"Asih ngikut Joko, Yah. Kalo Joko mau, sudah dapat dipastikan kami mendukungnya." jawab Bulik.


"Yha Joko nggak bisa nolak lagi Kek." jawab Joko.


Kakek pun tersenyum bangga pada mereka.


Setelah selesai makan, Om menarik Bulik ke kamar mandi untuk bertanya kenapa Kakek bersikap manis sekali hari ini. Bulik menjawab kalau seperti itulah sifat Kakek yang sebenarnya, lemah lembut dan pengertian. Kakek adalah tipe orang yang sangat menyayangi keluarganya dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa keluarganya. Om masih tidak mengerti, mengapa bisa Kakek kembali bersikap seperti itu, padahal sudah lama sikapnya berubah. Bulik hanya menebak kalau Kakek sudah lelah berpura-pura.


***


Sore harinya Kakek didampingi Joko, Om, Bulik, dan Mbah Gondo pergi ke rumah Ki Manteb untuk merealisasikan keinginannya.


Di rumahnya, Ki Manteb terkejut karena melihat dua senior sekaligus sahabat lamanya datang ke rumahnya bersama murid kesayangannya. Kakek menjelaskan maksud kedatangan mereka dan Ki Manteb bersedia mengemban tugas itu. Ki Manteb tak menyangka kalau murid kesayangannya adalah cucu senior sekaligus sahabat karibnya dulu.


Mulai hari itu Joko semakin bahagia dan semakin pandai dalam ketrampilannya, tak lupa dia juga mulai mengatur waktunya untuk belajar materi sekolah dan berhasil naik kelas ke kelas lima dan kemudian ke kelas enam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2