
Setelah pentas di Ungaran,Semarang, popularitas Joko di Jawa Tengah menjadi 65%,dahulu hanya 5 % se - Jawa Tengah.5% merupakan keluarga besarnya,sebagian masyarakat tempat tinggalnya dan teman - teman Joko. Hal ini membuat Ki Manteb yakin kalau Joko adalah orang yang tepat untuk diwarisi ilmu pewayangannya.Ki Manteb sangat bersyukur kepada Tuhan YME karena setelah sekian lama mencari ahli waris ilmu pewayangan beliau, akhirnya dapat menemukan orang yang tepat.
Sehari setelah pentas di Ungaran akhirnya muncullah koran terbitan dari Solopos yang memberitahukan bahwa terdapat dalang cilik yang mahir memainkan wayang kulit.Dalang cilik tersebut mahir dalam sabetan dan suluk.Serta dia mampu menyihir penonton dengan lakon pewayangan Babad Alas Wanamarta.Dalang cilik itu mempunyai tubuh yang masih mungil dan rupanya yang tampan. Dalang cilik yang diceritakan di koran terbitan dari Solopos itu adalah Janoko Catur Haryanto atau sering dipanggil Joko. Dia sangat bangga dengan dirinya sendiri dan tidak lupa bersujud syukur kepada Tuhan.Dia juga berterima kasih khususnya kepada Ki Manteb yang berjasa besar mendidiknya hingga membesarkan nama Janoko Catur Haryanto.Dan juga kepada Om dan Tante Joko yaitu Om Adam dan Bulik Asih yang mengantarkan Joko ke Ki Manteb walaupun tidak dibolehkan oleh oleh ayahnya.
Saat Joko terkenal,sifat kakek kepada Joko sedikit berbeda.Kakek yang semula raut wajahnya selalu murung kini sudah mulai mendatar.Dan sekarang memanggil Joko dengan sebutan "Nak.." sebelumnya hanya "He, Joko!!"(hai, Joko).
Semenjak itu Joko semakin semangat dalam belajar wayang.Tanpa sepengetahuan Ki Manteb, kakek, Om, dan Bulik,Joko hanya fokus pada belajar wayangnya.Sehingga sekolah dasarnya hampir dilupakan.
Seiring dengan ketenaran Joko, banyak orang yang meminta untuk memanggung sendiri, tanpa Ki Manteb.Namun Ki Manteb belum memperbolehkannya. Karena menurut beliau,Joko masih kecil dan pengalamannya belum luas.Seandainya jika terdapat suatu masalh dalam pentasnya Joko belum bisa menghandle sendiri.Dan Joko juga mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan sekolah dasarnya.Karena, itu juga memengaruhi masa depannya.
Setiap seminggu dalam bulan Maret (bulan setelah memanggung di Ungaran) pasti ada 2 lebih tawaran untuk memanggung sendiri.Itu tentu ditolak oleh Ki Manteb dengan alasan yang sama dalam berulang - ulang.
__ADS_1
Suatu hari ada seorang yang datang untuk meminta Joko manggung sendiri.Walaupun sudah ditolak oleh Ki Manteb,orang tersebut masih ngeyel.Bahkan dia sanggup membayar lebih,dua kali lipat dari biasanya.Namun Ki Manteb tetap menolaknya.Ki Mantep tahu bahwa masa depan Joko lebih berharga daripada uang.
**
Bulan berikutnya Ki Manteb kedatangan seorang tamu.
"Pak Manteb, kula niku sampun mangertos kridhanipun nak Joko, kula kepengin sanget nanggap nak Joko supados pentas wonten sudung kula piyambak." (Pak Manteb, saya sudah tau bagaimana kepandaian Joko, saya ingin Joko manggung sendiri di rumah saya) ucap tamu itu.
"Nyuwun pangapunten Mas, nanging Joko punika tasih alit lan tasih sekolah dados dereng saget menawi manggung piyambak. Menawi ngersakaken kridhanipun Joko, panjenengan saged mirsani wonten youtob." (maaf mas, tapi Joko itu masih kecil dan masih sekolah jadi belum bisa manggung sendiri. Kalau anda ingin melihat Joko manggung, bisa dilihat di youtob) jawab Ki Manteb.
"Kalau begitu saya nanggap panjenengan sama dik Joko. Nanti dik Joko harus pentas dua kali Pak."
__ADS_1
"Oh, kalau begitu saya terima tawarannya. Kapan pentasnya dan dimana??"
"Hari selasa kliwon wuku Medangsia, tanggal 7 April di Balai Desa Panjeng, Jenangan,
Ponorogo, Jawa Timur."
"Oo.. Nggih siap." jawab Ki Manteb.
"Ini DPnya Pak, sisanya saya bayar saat h-3 pentas." ucap tamu itu.
Ki Manteb mengahturkan terimakasih dan pria itu bergegas pamit. Setelah tamu itu pamit, Ki Manteb membuka amplop coklat berisi uang, setelah dihitung ternyata sudah separuh bayar.
__ADS_1
Kenapa bilangnya dp, lha wong sudah dibayar separo gini. gumam Ki Manteb.
Bersambung