Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 26 (sebelum) FLS2N Seni Tari


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian Joko dan Laras semakin akrab, bahkan mereka sering latihan nari bareng, hal itu membuat Bu Endang, guru seni tari, terkesan akan mereka. Cowoknya ganteng sundul langit, ceweknya cantik tanpa cacat, udah kayak Bathara Jaya sama Bathari Ratih. Pikir Bu Endang.


Yha memang benar, ketampanan Joko selalu menjadi sorotan di sekolahnya, bahkan sampai ke sekolah-sekolah lain di kecamatan Ngargoyoso. Jangan tanyakan lagi bagaimana pesonannya, ia memang bintang yang sedang bersinar terang. Begitu pula Laras, ia dikenal sebagai kembang sekolah. Parasnya yang ayu bisa memikat pria manapun. Tak heran jika kedekatan dua sejoli ini menjadi perbincangan trending di sekolah.


###########


Sayangnya author belum dapet sosok gambarannyaTT


###########


Baiklah, sekarang bahas persiapan lomba tari tingkat kabupaten aja yhaa..


Jadi Laras adalah langganan lomba di sekolah, apalagi lomba tari, dia udah pernah lolos sampai tingkat provinsi dan menyabet juara 3. Kini ditambah Joko yang skill tarinya tak kalah dengan Laras, Bu Endang benar-benar sangat senang karena mendapat dua orang yang fasih dalam menari.


"Nak Joko, bulan depan ada fls (festival dan lomba seni), kamu mau kan maju di kategori seni tari?" pinta Bu Endang.


"Ehmm, tapi saya kan gak pinter nari Buk?" sanggah Joko.


"Alah, alesan!" celetuk Laras.


"Udahlah Ko, ikutan aja kalik. Biar tambah pengalaman, iya nggak Mah?" tambah Laras.


"Hoo, betul. Nek jadi seniman multitalent itu peluang kerjanya lebih luas." jawab Bu Endang.


"Bu Endang punya projek bagus lho kalo kamu mau ikut fls bulan depan." tambah Bu Endang.


Joko masih ragu, tapi setelah dipikir-pikir enak juga yha kalo pagi-sore job tari, malem-subuh job dalang. Akhirnya, "Iya deh, saya mau." jawab Joko.


"Hore!!" teriak Bu Endang dan Laras barengan. Saking senangnya Bu Endang dan Laras sampai berpelukan riang.


"Ya udah mulai besok kita latihan yhaa!" ucap Laras.


"Besok banget nih?? Aku ada jadwal latihan sama bapak, kalo bapak ngga sibuk bgt sih." ucap Joko.


Wajah Laras yang semula sumringah menjadi sedikit murung. "Koko, plis lah batalin latihanmu sekali ini aja. Biar kita bisa cepet-cepet nggarap tari ini." pinta Laras.


"Raras, kan kamu tahu bapakku gimana sifatnya, masa iya aku batalin latihannya secara tiba-tiba." jawab Joko.


"Yaah... Yha udah deh di undur kamis. Bisa kan??" pinta Bu Endang.

__ADS_1


"Insyaallah bisa." jawab Joko mantap.


Oh iya, 'Koko' dan 'Raras' adalah panggilan akrab antara Joko dan Laras. Btw itu panggilan akrab ape panggilan sayang? Ahahay..


*(skip hari rabu


Okey, sudah hari kamis dan sekarang jam pelajaran ke-6 artinya tinggal 2 jam pelajaran lagi pulang! Pikir Joko riang.


Jam istirahat kedua pun berbunyi, Joko dan siswa-siswa yang lain segera keluar kelas untuk pergi ke masjid melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.


Selesai sholat dzuhur, Joko balik ke kelas. Ternyata Laras nungguin Joko di kelas.


"Loh Raras?? Kok di sini??" tanya Joko dengan perasaan terkejut.


"Cuma pengen ngingetin kalo nanti pulang sekolah kita ada latihan." jawab Laras.


Astagfirullah, hampir aja aku lupa. Untung aja Raras perhatian sama aku jadinya yha gak jadi lupa deh. Batin Joko.


"Ko?? Kamu nggak lupa kan??" tanya Laras.


"Eh, enggak dong. Iya nanti pasti aku latihan kok. Btw sama siapa aja sih nanti?" tanya Joko mengalihkan pembicaraan.


"Ada deh. Nanti nggak jadi surprise dong. Udah ah, aku mau balik ke kelas. Bye bye!" pamit Laras lalu pergi.


'bel pulang. Ayo gek ndang pulang, aku lapar!' ucap salah seorang kakak kelas diluar kelas Joko.


Karena jam ke-7 dan 8 jam kosong dikelas Joko, maka teman-teman sekelasnya langsung berhamburan pulang. Namun, Joko pergi ke ruang kesenian untuk berkumpul bersama timnya. Disana ternyata belum ada siapapun, maka dari itu Joko memutuskan untuk menunggu Laras di luar kelasnya.


Nungguin Raras sampe pulang keknya seru juga nih. Batin Joko saat duduk di bangku taman depan kelas Laras.


Tak lama, Bu Suwarni pun keluar diikuti dengan murid-murid kelas 8F. Senyum Joko pun mengembang, ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Laras.


Joko mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok Laras yang sednag mendekatinya.


"Udah lama nungguinnya?" tanya Laras.


"Nggak kok. Yok buruan ke ruangan!" ajak Joko.


"Let's go!" jawab Laras.

__ADS_1


Keduanya tak luput dari sorotan puluhan pasang mata. Setiap orang yang sedang melewati tempat itu pasti memperhatikan Joko dan Laras.


"An**r, tuh bocah berani-beraninya jalan mbek kesayanganku." ucap Hasan, siswa kelas 9G yang sudah lama mengejar cinta Laras.


"Tandangi bro!" perintah Wawan mengompori.


Hasan yang tersulut emosinya segera menghadang Joko.


"Heh, gak usah sok bagus toh. Adek kelas kaya kamu gak pantes jalan berdua sama kembang sekolah ini." ucap Hasan.


"Maksudnya gimana nggih??" tanya Joko.


"Wah.. Nantangin yha?? Kalo gentle sini maju!!" ucap Hasan.


"Koko, gak usah diladenin. Kita langsung ke ruangan aja." ajak Laras.


Joko pun mengangguk dan menuruti perintah Laras.


"Yeh pergi? DASAR BANCI!!" teriak Hasan.


Mendengar teriakan tak mengenakkan telinga, Joko pun tersulut emosi, ia hendak berbalik dan memukul Hasan, tapi Laras mencegahnya.


"Akan lebih baik kalo Kamu diem aja. Jangan gampang emosian, sabarin aja. Emang gini resikonya deket sama aku." ucap Laras.


"Kamu nggak salah. Hasan aja yang sangat terobsesi sama kamu, dia itu pengen banget dapetin kamu meski kamunya nggak mau. Udahlah nggak usah dibahas lagi, yuk, keburu dimarahin Bu Endang." ucap Joko sambil menggandeng tangan Laras.


Mereka pun sampai di ruang latihan, disana Nasya langsung nyinyir, "Hmm yang lagi pdkt an, udah gandengan tangan aja sih!"


"Kenapa? Ga suka? Apa mungkin Lo cemburu? Tangan, juga tangan gue, kenapa Lo yang sewot? Mamah gue aja no coment kok, Lo yang bukan siapa-siapanya gue malah nyinyir yang nggak-nggak." sarkas Laras.


"Katanya gak boleh emosian? Lha sekarang kok marah-marah sih? Cantiknya ilang lho." bujuk Joko manis pada Laras.


Nasya auto emosi, tapi untungnya Bu Endang segera memberi wejangan.


"Udah! Udah! Joko, Laras, Nasya, kalian satu tim lho. Nggak boleh berantem, nggak boleh julid, harus jiwa corsa dan kompak. Kalo ada masalah pribadi jangan dibawa ke tim, diselesaikan secara pribadi dan dibicarakan baik-baik. Udah gede, nggak usah bawa-bawa orang tua, kalo punya masalah." nasehat Bu Endang.


Perkataan itu seolah menusuk hati Laras, yha ia sudah remaja sekarang, seharusnya ia mampu berpikir lebih dewasa, dan tidak mementingkan egoisme. Namun, beda dengan Nasya, dirinya merasa disalahkan dan dipojokkan. Lalu munculah sebuah kalimat di batinnya.


Paan sih, gue tuh nggak salah, kenapa gue yang dimarahin. Gerutu Nasya.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like^^


__ADS_2