Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 25 Ultah Laras (misi 1 Finish)


__ADS_3

Empat hari berlalu, Joko masih aja seneng. Tapi sayang, cuma waktu itu dia ketemu Laras, habis itu udah nggak. Dicariin di kelas ngga ada, ditungguin di gerbang juga ngga ada, di ruang latihan pun ngga ada. Joko jadi sedih, tapi nggak juga sih. Lha wong udah kenal, udah punya nomer WhatsAppnya juga.


Tapi gak berani chat.. Mau tapi malu, kalo ngga ya kangen.. Bingung lah hambaa. Gerutu Joko dalam hati.


Setiap kali di kelas, Joko pasti senyum-senyum nggak jelas, yha pastinya nghayal tentang si Laras. Sampe-sampe jadi kek supporter sepak bola, semangat 45 teruss.


Si Aldi ya auto ling lung lah.


Nih anak sengkleh pa yaa?? Senyum-senyum sendiri, kadang jadi sedih sendiri, aneh banget deh perasaan. Pikir Aldi.


Hingga pada suatu hari, Laras lagi sibuk nyariin Joko nih.


"Put, tak ajak nyari seseorang yuk ke kelas belakang." ajak Laras pada Puput, teman sebangkunya.


"Nyari siapa sih?? Nggak biasanya ke kelas 7." jawab Puput.


"Ah udahlah ayok!" ucap Laras sambil narik paksa si Puput.


Ditengah jalan, mereka kepapasan Aldi.


"Kebetulan banget Al, tau nggak Joko dimana??" tanya Laras.


"Dia lagi di depan keknya, gue ditinggalin tadi. Katanya sih mau ke mushola." jawab Aldi.


"Oo, makasih ya."


"Eh bentar, tumben nyari Joko?? Ada apa??" tanya Aldi curiga.


"Mau ngasih ini. Oh iya ini buat Lo juga yha, jangan lupa dateng." ucap Laras sambil menyodorkan kartu undangan pesta ulang tahun dan pergi bersama Puput.


"Gue di undang jugak?? Hehe, pas banget nih gue bisa deket sama si Puput, wkwk."


***


"Ras, kenapa sih si Aldi harus di undang juga?? Kan Kamu tahu dia lagi nyoba deketin aku." ucap Puput pada Laras.


"Ya bagus dong, kalian bisa deket di pesta ini nanti." jawab Laras.


"Nggak gitu, masalahnya akunya yang gak mau, kan Aldi suka bolos, masa iya pacaran ama anak berandalan." sanggah Puput.

__ADS_1


"Aldi suka bolos?? Nggak mungkin deh, dia kan temen deketnya Joko. Lha wong Joko aja anak baik-baik lho." jawab Laras.


"Kok jadi bawa-bawa Joko, suka yha sama Joko??" tanya Puput.


"Emmm, emang sih dia adek kelas yang udah nabrak dan numpahin minuman aku. Tapi dia mau minta maaf dan nolongin aku lho, masa iya aku melupakan kebaikannya begitu sajaa. Yha ndak etis!" jawab Laras panjang lebar.


"Halah. Eh btw yakin mau ngundang Joko??"


"Ngopo sih emange?? Gak boleh??"


Tak lama Joko pun lewat didepan mereka.


"Ya tanya aja aku tu. Eh itu orangnya, samperin sono." ucap Puput.


"Joko!!" panggil Laras dan tergesa-gesa mendekati Joko.


"Iya?? Kenapa kok sampe lari-lari gitu?? Kangen yha??" tanya Joko menggoda.


"Paan sih. Aku tuh mau ngasih ini." ucap Laras sambil menyodorkan kartu undangan.


"Dateng ya, ku tunggu. Byee, aku mau keliling lagi." tambah Laras sambil meninggalkan Joko.


Hiyeeesss!!! Btw dresscode nya apa ya?? Tanya Joko dalam hati. Kemudian ia membaca kartu undangan tersebut.


"Dik Laras, tungguin mas Joko yhaa!!" ucapnya sambil berlari menuju kelas. Padahal disana banyak orang berlalu-lalang.


"Sengkleh tenan Joko khi." (gila beneran si Joko) ucap Leo sambil geleng-geleng kepala, melihat tingkah temannya itu.


*(time travel keesokan harinya


"Haloo dedek Aldi!! Sudah siapkah anda??" tanya Joko pada Aldi lewat telepon.


"Yoi dong bro!! Hari ini harus tampil maksimal ye nggak??" balas Aldi.


"Haha, yaoi! Aku udah mau berangkat nih, cepetan siap-siap." ucap Joko sambil masuk mobil.


"Yoi, gue tutup telponnya, ti-ati ye!" jawab Aldi.


"Hoo!!" sambil mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


"Aseek, waktunya berangkat. Let's go!! Bismillah." ucap Joko sambil memacu mobilnya.


Perjalanan yang cukup singkat, karena rumah Laras tidak terlalu jauh dari Karangpandan. Sesampainya di rumah Laras, Joko keluar dari mobil dengan penuh gaya, merapikan jas dan berjalan masuk.


"Ce elah, mobil baru lagi nih??" sambut Aldi yang menghampirinya.


"Mobilnya Om Adam, kita lagi tukeran aja wkwk." jawab Joko.


"Jasnya baru, sepatunya baru. Widih, beneran style sultan!" tambah Leo.


"Jiah, yha nggak lah. Skuy ah masuk!" ajak Joko.


"Iye-iye yang udah nggak sabar pengen liat sang calon pacar." goda Leo.


Joko cuma mlengos dan langsung masuk.


#####


Fyi, Leo adalah teman sebangku, senasip dan sepenanggungan dengan Joko. Iya, dia pernah tinggal kelas juga, tapi pas SMP. Jadi sebenernya Leo satu angkatan sama Aldi, eh malah jadi adik kelasnya Aldi sekarang.


#####


Sudah waktunya potong kue, tapi Laras belum juga menampakkan diri.


"Lele, Laras mana ya?? Kok nggak terlihat sama sekali??" tanya Joko pada Leo.


"Huum, dari tadi nggak nampak batang hidungnya." jawab Leo.


"Lagi dandan paling. Udahlah tungguin aja, sabar bro." saran Aldi.


Dan setelah itu Laras tampak keluar dari kamarnya. Seketika itu juga, semua orang yang ada disana menatap Laras. Termasuk Joko yang sama sekali tak berkedip.


"Bidadari surga!" ucap Leo.


"Malaikat dari langit ini sih. Cantiknya Masyaallah!" puji Aldi.


"Wanodya yu kang sulistyeng warni, kadya hapsari. Sapa sing nora kepranan, yen nyawang esemmu kang ngrerujit nala. Aduh biyung, sumengka rasaku kepengin enggal nyaketi sliramu. Sun puji dadya garwa sisihanku." sebuah puisi indah yang terlontar begitu saja dari mulut Joko.


Semua yang ada disana tak mengerti apa yang diucapkan Joko, tapi Laras paham maksudnya.

__ADS_1


Kalimatmu yang terakhir itu, kok sajake tulus banget sih. Ah entahlah, ga peduli juga. Pikir Laras.


Bersambung


__ADS_2