Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 10 Latihan Keras


__ADS_3

Ki Manteb, Ki Bayu Aji dan Pakde Mul sangat sedih mendengar cerita itu, sedangkan Joko baru mengerti mengapa ia menjadi yatim piatu, itu karena dirinya. Joko mengingat perkataan Kakek padanya beberapa hari yang lalu ketika ia ingin dipangku oleh Kakek, 'jangan dekat-dekat denganku, kamu telah mengotori nama Haryanto dan kamu tak pantas jika harus duduk di pangkuanku.' tak terasa air mata juga menetes di pipinya.


"Mas Adam dan Mbak Asih, panjenengan berdua janganlah sedih. Ini semua memang kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, biarlah itu berjalan semestinya dan sesuai kodrat, tak perlu menyesal karena yang dulu itu sudah berlalu." hibur Ki Bayu Aji.


"Nak Adam, saya sudah melihat pertanda itu lima tahun lalu. Saya mendapatkan firasat bahwa akan ada seorang anak yang lahir di gerhana bulan, dia adalah pangejawantahing jawata (reinkarnasi dewa) yang dibuang ke dunia ini karena menanggung dosa yang berat, sehingga lahir menjadi anak sukerta (terkutuk). Dia akan mencari pencerahan dan penebusan dosa di dunia dengan cara mengabdikan diri pada masyarakat sebagai penghibur masyarakat di bumi. Ternyata anak itu adalah Joko. Saya sangat senang dan bangga apabila bisa menjadi lantaran (jalan) terwujudnya cita-cita Joko untuk mengabdi pada masyarakat. " ucap Ki Manteb memecah heningnya suasana.


"Nak Joko bisa saja mencukur rambutnya, tapi harus dilakukan beberapa lelaku sebelumnya. Dia harus puasa ngebleng dua hari dua malam, setelah itu mandi dengan bunga tujuh rupa dan air dari tujuh sumber yang berbeda." tambah Ki Manteb.

__ADS_1


Ucapan Ki Manteb membuat khawatir Om dan Bulik. Bagaimana tidak toh Joko masih belum cukup umur untuk melakukan lelaku seperti itu, tapi tiada cara lain jika Joko ingin cukur rambut tanpa harus mendapat sial.


Percakapan itu berlangsung cukup lama dan akhirnya Ki Manteb Soedarsono dengan senang hati akan mengajarkan Joko tentang dunia pedhalangan dan pewayangan. Joko begitu senang dan bertanya kapan dia bisa mulai berlatih. Ki Manteb bilang minggu depan dan Joko setuju. Semua kepentingan telah selesai, Om, Bulik dan Joko, serta Ki Bayu Aji dan Pakde Mul bergegas pamit.


**


Ayah.. Ibu.. Joko akan meraih impian Joko, kalau nanti Joko berhasil jadi dhalang, Joko akan memberi hadiah pada Om dan Bulik karena merekalah yang selalu mendukung Joko. Gumam Joko.

__ADS_1


Saking senangnya berlatih Joko hanya fokus di wayang saja. Dia tidak memikirkan kewajiban bahwa dia masih belajar di bangku sekolah dasar. Setiap hari setelah sepulang sekolah Joko ganti baju, makan, dan tidur. Padahal Joko kalau tidur selama tiga jam, sedangkan dia pulang sekolah jam satu. Sehingga waktu siangnya hampir habis untuk tidur. Kalau malam Joko berlatih wayang hingga jam 10an. Padahal sih Ki Manteb menyarankan kalau latihan wayang dari setelah ba'da magrib sampai jam setengah delapan. Karena Joko falling in love dengan wayang jadi sering lupa waktu kalau pacaran dengan wayang. Sehingga waktu untuk belajar dan menyelesaikan tugas dari Guru tidak ada. Makanya Joko selalu dihukum oleh Bu guru di sekolah, wali Joko juga pernah dipanggil ke sekolah, yaitu Kakek. Itulah mengapa kakek semakin jijik dan hampir benci dengan Joko. Tidak heran juga kalau sepulang sekolah Joko sangat capek. Coba bayangkan, kalau di sekolah itu Joko yang masih duduk di kelas satu dihukum untuk menyapu ruangan kelas dari kelas satu sampai enam.


Ki Manteb tidak tau kalau Joko bersikap seperti itu, Beliau hanya tau kalau ilmu sabetan (gerakan memainkan wayang) Joko mulai berkembang.


Satu bulan berlalu dan Joko sudah hafal semua jenis sabetan, tapi kebiasaan buruknya masih aja sama. Kemudian Joko mendapatkan materi baru yaitu hafalan lakon (cerita wayang), Ki Manteb membiarkan Joko memilih sendiri lakon mana yang ingin dia hafalkan. Joko memilih lakon Babat Alas Wanamarta yang menceritakan tentang sebuah hutan bernama Wanamarta di kerajaan Astina yang nantinya akan diberikan kepada Pandawa. Sebenarnya ini rencana licik Patih Sengkuni dan Duryudana karena hutan itu terkenal sebagai istana Jin dan sangat angker, berharap agar Pandawa mati di hutan itu karena diserang oleh makhluk halus dan hilang karena dimakan oleh lelembut itu. Pandawa yang polos tidak tau apa-apa dan mereka langsung saja menerima hutan Wanamarta sebagai tanah kekuasaan mereka. Sesampainya di tepi hutan Bima mulai membabi buta, ia menumbangkan pohon-pohon di hutan itu, disusul saudara-saudaranya, ternyata yang punya marah. Penguasa hutan Wanamarta, para lelembut (makhluk halus), marah karena ulah Bima yang telah merusak tempat tinggal mereka. Terjadilah pertempuran sengit antara Pandawa (Puntadêwa, Bratasêna, Pêrmadi, Pintèn, dan Tangsèn) dengan Lima Jin bernama Jin Yudistira, Jin Dandunwêcana, Jin Arjuna, Jin Nakula, dan Jin Sadéwa yang menguasai hutan itu. Kelima Jin itu masuk pada jiwa Pandawa dan mereka meminta agar nama-nama mereka dipakai oleh Pandawa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2