
Hari Sabtu Kliwon malam Minggu Legi tanggal 29 Juli 2017 adalah hari dimana Joko pentas di Rumah Dinas Bupati Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Hanya pakeliran padhat kurang lebih 1 jam 30 menit, tapi Joko sudah puas akan hal itu. Matanya masih berbinar terang seolah tak ada rasa kantuk sedikit pun, padahal jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Tak berapa lama Adzan Subuh berkumandang pertanda waktu shalat telah tiba. Rombongan karawitan segera menuju masjid dan melakukan shalat subuh berjamaah dengan penduduk setempat. Shalat pun selesai, Joko menengadahkan dua telapak tangannya, kemudian mengangkatnya didepan dada, memejamkan mata dan memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya yang telah tiada.
**
Suara riuh tepuk tangan penonton saat tokoh wayang Bima di serahkan pada Ki Dhalang, membuat Sang Dhalang sedikit gugup, mengapa tidak?? Saat itu adalah hari bersejarah baginya karena lakon yang Dhalang itu bawakan adalah lakon favoritnya yang baru saja di pelajari sepekan lalu. 'Dewa Ruci' adalah lakon yang sangat mengena di hati Joko, baru pertama kali ia membawakannya, dan lakon itu bukan lakon sederhana baginya. Lakon Dewa Ruci menceritakan tentang Sang Bima yang bertekad untuk mempelajari ilmu sejati yaitu ilmu agar hidup berguna di dunia dan setelahnya menyatu pada Sang Illahi. Perjuangan mendapat ilmu itu sangatlah berat, Bima harus mendaki Gunung Endrakila, yang terkenal angker, untuk mencari 'susuhing angin' (sarang angin). Di sana Bima dihadang oleh 2 raksasa kembar dan terjadi pertempuran sengit, tapi Bima berhasil mengalahkan mereka. Kemudian masuk ke Samudera Minangkalbu, yang sangat dalam dan berbahaya, untuk mencari 'Tirta Perwitasari'. Di dalam samudera pun Bima tenggelam dan terombang-ambing oleh besarnya ombak, saat itu datanglah Naga Nemburnawa yang mencoba untuk membunuh Bima, tetapi justru Sang Naga lah yang mati karena dirobek mulutnya oleh Bima yang sedang setengah sadar saat itu. Barulah Bima bertemu dengan Dewa Ruci, yang berperawakan kecil dan mirip dengan Bima, yang bersedia menjabarkan ilmu sejati itu. Setelah mendapatkan ilmu sejati Bima pun pulang dengan selamat. Lakon itu menempati tempat tersendiri di hati Joko, bukan hanya ceritanya yang menakjubkan, tetapi nilai-nilai yang terkandung pun sangat luhur yang menjadikan Joko jatuh hati pada lakon ini.
Malam itu pejabat tinggi Kabupaten Ngawi beserta jajarannya hadir, menonton pentas Joko, putra emas Ki Manteb Soedarsono dari Solo. Saat akan memanggung tiba-tiba Joko memikirkan gadis cantik yang menari kemarin dengan tariannya yang luwes. Dia merasa seakan-akan gadis tersebut tersenyum kepadanya, reflek Joko pun tersenyum membalas. Bertepatan dengan itu Bapak memanggil, tapi tidak digubris Joko. Melihat Joko seperti orang gila Ki Manteb sontak beristighfar dengan keras, sehingga Joko pun gelagapan dan langsung mengedarkan pandangannya ke Ki Manteb.
"Ada apa to, Pak??" tanya Joko.
"Ada apa ada apa, itu lho acaranya mau mulai. Rausah mikir cah wedok sik Le, fokus leh mu mayang wae (Tidak usah mikir cewek dulu, fokus ke ndalang mu aja). Nanti habis sepulang dari sini, kamu langsung tembak dia biar nggak kaya orang gila teruss." ucap Bapak, sontak membuat Joko merasa teripu malu.
Ia bergegas naik panggung dan mulai memamerkan kelihaiannya. Sabetan Joko sangatlah menakjubkan, untuk anak seusianya, Joko memang sangat lihai memainkan wayang dan gaya bicara tokoh pun fasih dilakukannya. Joko selalu meresapi setiap watak tokoh dan mempelajari dengan saksama gaya bicara mereka, juga kebiasaan-kebiasaan mereka. Joko belajar dengan cepat dan mendalam apalagi tentang suluk, setiap nada dia perhatikan dan memastikan agar tiada yang salah nada apalagi kalau sampai Fals. Latihannya begitu keras, tapi santai dan serius. Ketika sedang belajar pedhalangan, perhatiannya sangat baik, tak sepatah kata pun yang terlewat dan tak satu gerakan pun dilupakan oleh Joko, maka tak heran Joko bisa sehebat itu di usia yang masih sangat muda dan faktor bakat juga menjadi penentu kehebatannya itu.
__ADS_1
Ketika adegan Bima yang bertemu dengan 2 raksasa, Joko salah tancap. Yha bisa dibilang wayang si raksasanya kejeron leh nancepne (terlalu dalam menancapnya) alhasil dengan susah payah Joko mencabutnya, tapi tidak berhasil. Ketika itu juga, Joko merasa dirinya telah berganti profesi dari dalang menjadi pelawak dalam empat menitan. Biasanya seorang dalang ketika mengganti tokoh wayang dalam keadaan duduk bersila tidak terlalu banyak memakan waktu (ya paling sekitar 10 detik). Namun, nasib Joko yang tidak baik, dia memakan waktu tiga menit dalam mencabut wayang yang akan dimainkan dalam kondisi duduk bersila, sontak hal itu membuat penonton tertawa. Joko pun tidak kehilangan akal, maka dari itu otak Joko auto nyala lampunya slur. Joko pun langsung mencabut wayangnya dalam keadaan berdiri, sialnya juga dalam keadaan berdiri Joko menghabiskan waktu 1 menit. Sontak audien tambah riuh menertawakan dirinya. Joko yang geram langsung mengeluarkan tenaga ekstranya ya kira-kira 2 kali lebih kuat dari semula, alhasil wayang pun dapat dicabut dengan badannya agak terjungkal kebelakang. Tawa riuh penonton semakin terdengar, tapi Joko tak merasa malu. Ia berpikir kalau para audien akan tambah senang dengan pentasnya malam ini.
Pentas sudah selesai dan tepuk tangan gemuruh menyambut dirinya ketika turun dari panggung membuat Joko tersenyum lebar. Di tepi panggung banyak orang mengajaknya berfoto dan berbondong-bondong minta bersalaman dengan Joko.
"Mas Joko, panjenengan luar biasa!!"
"Mas Joko hebat sanget nggih!!"
"Mas pentas njenengan menakjubkan!!"
Teriakan-teriakan itu memenuhi halaman rumah dinas dan hanya untuk mendekati para pejabat yang telah menunggunya di depan panggung saja memerlukan waktu 15 menit lamanya karena kerumunan masa yang sulit ditembus. Setelah terbebas dari para fans, Joko bertemu dengan para pejabat. Ada Kepala DPRD Ngawi, Kapolres Ngawi, Dandim Ngawi, serta pastinya Bupati dan Wakil Bupati Ngawi sebagai tuan rumah. Mereka kagum pada Joko, beberapa diantaranya juga menawarkan pentas di acara masing-masing untuk Joko, dan memberi sangu sebagai tanda terima kasih untuk hiburan yang Joko berikan dan kehebatannya malam itu.
"Nak Joko, Indonesia bangga punya generasi muda hebat seperti Kamu. Masih muda, tapi mau melestarikan kesenian tradisional berupa wayang. Kamu benar-benar luar biasa!!" ucap Bupati Ngawi.
__ADS_1
"Ah, biasa saja. Ini hanya hoby saya yang saya tekuni." terang Joko merendah.
"Nak Joko, beberapa bulan lagi kan ulang tahun polri, kamu pentas di kantor polres ya?? Mau to??" pinta sang Kepala Polisi Reskrim Kabupaten Ngawi.
"Ah, dengan senang hati." jawab Joko mantap
"Bagus, kalau begitu saya mau Kamu membawakan lakon Bima Maneges ya. Nah kamu pilih mana, pentas bersama bapakmu, Ki Manteb Soedarsono, atau dengan Ki Bayu Aji??" tanya Kepala Polres lagi.
"Terserah Panjenengan kemawon, saya ngikut." jawab Joko singkat
"Kalau dilihat dari sabetannya yang hebat dan lincah, kayaknya di jodohkan dengan Mas Bayu ya cocok." ucap Pak Dandim.
Yang lainya pun setuju dengan usul Pak Dandim, Joko juga setuju dan Pak Kapolres memberikan dp untuk pentas Joko itu. Joko sangat senang dan sangat bersyukur pada Allah atas karunia-Nya hari itu. Ucapan terima kasih tak lupa ia sampaikan pada Pak Kapolres dan Joko pun memohon diri untuk kembali ke panggung karena sekarang giliran Bapaknya yang pentas. Joko bergabung dengan para niyaga dan dia menabuh saron 1, sebenarnya dia ditawari untuk menabuh kendang oleh Mas Thathit, tapi Joko merasa bahwa dia belum cukup mampu untuk bermain kendang mengiringi Bapaknya.
__ADS_1
Saat itu Joko bergumam. Alangkah indahnya hari ini, pentasku lancar dan semua orang menyukainya bahkan sudah ada tawaran untuk manggung lagi di kantor polres beberapa bulan lagi, Alhamdulillah.. Ayah, Ibuk, dan kamu Gadis Penari misterius.. Terima kasih.
Bersambung