Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 2 Pertama Kali Mengenalnya


__ADS_3

Suatu malam saat bulan purnama dan bintang-bintang menghiasi langit malam, aku tak sengaja melihat sebuah panggung yang megah di lapangan dekat kantor kecamatan. Diatasnya ada banyak alat musik, juga ada layar besar yang dihiasi banyak benda dalam berbagai ukuran.


Panggungnya besar sekali yha.. Eh tapi yang dipasang di layar itu apa?? Kok bentuknya seperti manusia tapi juga aneh seperti alien. gumamku terheran-heran.


Kala itu ada sebuah pesta rakyat yang diadakan oleh pemerintah kecamatan untuk menyambut hari kemerdekaan negara. Aku tidak tahu panggung apa itu dan apa yang akan dipentaskan diatasnya. Aku mencoba menerka tapi tidak ketemu, aku juga bertanya pada Paman dan Bibi dan mereka juga tidak tahu. Barulah saat pembawa acara mengumumkan bahwa pentasnya akan segera dimulai, aku baru tahu bahwa itu adalah panggung untuk pentas wayang kulit. Aku sangat antusias menonton, meski tidak paham bahasanya. Aku hanya ikut tertawa ketika semua orang tertawa, aku sama sekali tidak paham apa yang dikatakan oleh wayang-wayang itu, bahkan aku tidak tahu apa itu wayang. Maklum saja saat itu aku masih berumur 5 tahun jadi masih polos, imut-imut, dan masih belum mengerti apapun. Ada seorang anak yang lebih tua dariku juga melihat pentas itu, tapi dia seolah sangat mengerti tentang wayang, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas, apa kamu suka sama wayang?" tanyaku padanya.


"Hallo adik kecil, iya Mas suka sama wayang, apa kamu juga suka?? Eh kamu sendirian saja di sini??" rentengan pertanyaan itu sangat membuatku bingung.

__ADS_1


"Aku baru sekali ini liat wayang dan aku kesini sama Om dan Bulik ku." (Bulik-Jw adalah sebutan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu.) jawabku setelah mencerna pertanyaan kakak itu.


"Ohh, kamu pasti nggak ngerti bahasanya yha?? Dan pasti kamu juga nggak paham mereka sedang ngapain??" tanyanya sambil sedikit tersenyum.


Aku hanya menganggukan kepala dan dia langsung menceritakan semua tentang pentas di malam itu, dia hafal betul setiap tokoh dan alurnya.


"Jadi hari ini tuh pentas wayang kulit dengan judul Parikesit Jumeneng Nata. Parikesit itu anaknya Raden Abhimanyu dengan Dewi Uttari. Nah Raden Abhimanyu sendiri adalah putra dari Raden Permadi atau Raden Arjuna ya Raden Janaka dengan salah satu istrinya yaitu Dewi Wara Sembadra. Kamu tahu nggak kalau Raden Arjuna itu punya banyak istri?? Eh kamu masih kecil ogh yaa.." jelas Kakak itu.


"Apa itu dhalang?" tanyaku polos.

__ADS_1


"Dhalang adalah orang yang memainkan wayang dan mengisi suara setiap tokoh wayang." jawab kakak itu.


"Hah?? Berarti wayang itu bisa gerak dan bisa bicara karena dhalang??" tanyaku heran dan belum mengerti siapa dan apa itu dhalang.


"Iya dik." jawabnya singkat.


Wow! Berarti dhalang itu seperti Tuhan yha.. Kan dia bisa buat benda yang nggak bisa gerak jadi bergerak dan benda yang nggak bisa bicara jadi bicara. gumamku polos karena kagum dengan dhalang.


Tak terasa 6 jam telah berlalu, pentas sudah selesai dan malam sudah berganti pagi. Aku tidak merasa ngantuk, tapi setelahnya aku pasti tidur sampai tengah hari. Sejak saat itulah aku sangat tertarik dengan dunia pewayangan dan kagum pada sesuatu bernama dhalang. Kemudian muncullah keinginan untuk menjadi seorang dhalang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2