
Paman itu memberiku secarik kertas yang bertuliskan sebuah nama, alamat, dan nomor telepon sebelum pergi meninggalkan rumah.
"Kalau kamu bener-bener pengin jadi dhalang, kamu datang saja ke alamat itu." pesan Paman itu sebelum pergi.
"Iya Pakde, makasih yha wayangnya." jawab Bulik
Joko berfikir dan terus saja berfikir, menurut Bulik keputusan menjadi dhalang adalah keputusan yang sangat penting dan menentukan masa depan anaknya itu, walaupun yang dipikirkan Joko sekarang hanyalah kebingungan untuk belajar mendhalang atau tidak.
Joko kecil bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang harus dia lakukan. Pikirannya seolah melayang entah kemana. Setiap hari dia hanya termenung dan melamun. Joko kecil yang biasanya aktif dan cerewet kini dia hanya diam dan duduk memainkan wayangnya. Bulik yang melihat Joko berbeda dari biasanya merasa bingung, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Joko. Mengapa Joko sampai segitunya memikirkan apa dia harus jadi seorang dhalang, padahal dia tinggal bilang mau atau tidak mau, tapi kenapa sampai seperti ini. Sifatnya berubah 180°, Joko kecil yang dulu selalu banyak omong sekarang diam seribu bahasa secara tiba-tiba, dulu dia anak yang bandel tapi sekarang menjadi anak yang penurut dan tidak pernah membantah perintah, Joko kecil yang selalu banyak bertanya kini hanya diam dan jarang sekali bertanya.
**
__ADS_1
Hari demi hari berlalu dan Joko masih saja termenung, Bulik yang semakin tidak tahan pada perubahan sifat Joko yang mendadak seperti itu, memutuskan untuk bertanya padanya.
"Sayang, kamu mikirin apa sih?? Anak kesayangan Bulik kenapa??" tanya Bulik.
"Ndakpapa kok Bulik, Joko cuma lagi mainan wayang." jawab Joko singkat.
"Joko, Bulik tahu kamu masih bingung kan dengan pertanyaan pakde yang dulu datang ke rumah?? Bulik tahu kamu bingung mau jadi dhalang apa tidak. Kalau kamu bener-bener mau jadi dhalang, Bulik akan selalu mendukung kamu dan mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Kamu sudah Bulik anggap sebagai anak Bulik sendiri, jadi apapun yang kamu mau Bulik akan turuti semampu Bulik."
"Bulik yang akan bujuk Kakek biar kamu diizinkan buat belajar jadi dhalang dan Bulik juga yang akan nganterin kamu pergi ke alamat yang pakde berikan padamu dua minggu lalu."
"Beneran Bulik?? Makasih banyak Bulik, aku sayang Bulik." ucap Joko girang dan langsung memeluk Buliknya.
__ADS_1
"Sama-sama sayang, Bulik juga sayaaaang sama Joko." ucap Bulik.
Ucapan Bulik tadi seperti obor penerang yang memperjelas jalan pikiran Joko. Jalan yang sempat gelap gulita kini kembali menjadi terang dan pikiran yang kehilangan arah kembali menemukan jalannya sekarang. Semangat Joko kembali membara, impiannya sudah didepan mata dan tekadnya membulat.
Aku ingin menjadi dhalang dan aku harus bisa menjadi dhalang yang benar-benar pandai memainkan wayang juga terkenal di seluruh negeri kemudian menjadi cucu kebanggaan Kakek. impiannya dalam hati.
Joko kecil masih tetap pendiam tapi wajahnya penuh dengan kebahagiaan bukan lagi kebingungan.
"Ayah.. Ibu.. Tolong dukung aku dan aku berjanji pada kalian bahwa aku akan menjadi dhalang terbaik di negeri ini dan aku akan menjadi yang terbaik dimata Kakek, aku akan menjadi yang sempurna diantara semua saudaraku. Ayah.. Ibu.. Aku sayang kalian. Aku juga kangen, Aku pengen ketemu kalian." kata Joko sambil memandangi foto ayah dan ibunya.
Bersambung
__ADS_1