
Flashback Pengumuman Juara FLS2N
"Selamat untuk nomor undi 12 sebagai juara satu." suara juri FLS2N Seni Tari.
Sontak Bu Endang, Laras dkk. menjerit bangga. Semua penari tim Jayanegara spontan berpelukan tapi hanya Laras dan Joko yang berpelukan berdua, sedangkan 3 penari lainnya berpelukan menjadi satu dengan Bu Endang, Mas iyon, Mas iyan dan Pak Imam, termasuk Nasya.
Joko dan Laras menangis haru didalam pelukannya yang berarti perjuangannya selama satu bulan penuh tidak sia-sia. Pada saat momen itu, Nasya yang semula senang menjadi jengkel melihat Laras dan Joko berpelukan. Sementara Bu Endang dan 2 penari lainnya senang melihatnya.
"Huaa, jadi pengen saya, Bu." rengek Jagat pada Bu Endang.
"Yee, udah dong pelukannya, bukan mukhrim lho nak." nasihat Bu Endang.
Reflek Joko dan Laras melepas pelukannya dan auto nyengir di depan Bu Endang, dkk.
"Sorry mah, Laras nggak sengaja, hehe✌️." ujar Laras.
"Hmm, mentang-mentang Laras sekarang suka Joko, mamah ni nggak di peluk." pinta Bu Endang dengan merentangkan kedua tangannya berharap dipeluk Laras.
Laras langsung gercep memeluk Bu Endang dan dalam pelukannya Laras mengatakan, "Maaf mah Laras udah nggak sayang lagi sama mamah."
Semua yang menyaksikan hal tersebut membulatkan matanya dengan sempurna,disisi lain Bu Endang sudah mengeluarkan air matanya.
Dengan jeda sebentar Laras melanjutkan perkataannya tadi, "Sayang Laras yang dulu ke Mamah udah berubah jadi rasa saayaaaang yang lebih besar dan abadi mah."
Mendengarkan itu Bu Endang tambah menangis dan berkata, "Mamah juga sayang banget kok sama Laras."
Para penari lainnya merasa senang melihat momen anak dan ibu berpelukan dan saling mununjukkan rasa cintanya. Namun, disisi lain hati Nasya tambah jengkel seolah-olah hatinya berkata, Harusnya yang diposisi Laras sekarang itu Nasya. Tuhan nggak adil, kenapa hanya Laras dan Laras saja yang mendapatkan kebahagiaan,kenapa dirinya tidak? Awas aja Lo, Ras, tunggu pembalasan gue.
"Udah deh Bu, sesi berpelukannya. Ni perut Jagat bunyi lho, nggak kasian apa?" pinta Joko kepada Bu Endang.
"Bentar ya Nak, nunggu info selanjutnya. Dan kalian kan harus ambil pialanya, nanti kalau udah selesai dan diijinkan pulang nanti Bu Endang traktir makan sepuasmu deh." jelas Bu Endang.
"Alah, santai aja Mah, toh Jagat nggak makan satu jam nggak bakal mati kok, don't worry Mah." terang Laras seketika dapat sambutan tawa dari teman-teman dan Bu Endang.
"Kalau becanda itu mbokya difilter dulu tho Ras." nasihat Jagat pada Laras dengan muka yang dibuat merasa tersakiti (kek orang alay2 gitu)
"Idih muka Lo, kek pantat bayi tau nggak." ledek Joko pada Jagat.
"Denger tu Gat, muka lho JELEK jadi jangan ditambah jelek." ledek Nasya pula dengan penuh penekanan.
"Udah-udah, jangan ledekin Jagat gitu, kasian dia itu JOMBLO nggak ada yang bela." ujar Bu Endang yang disambut tawa Laras dkk.
"Perhatian untuk teman-teman yang meraih juara 1, 2, dan 3 dipersilahkan maju untuk menerima trophy dan hadiah dari kami." ucap MC.
__ADS_1
Tim Jayanagara pun segera berbondong-bondong maju dan berbaris rapi, diikuti oleh tim juara lainnya. Penyerahan trophy dan hadiah itu dilakukan oleh ketiga dewan juri, diakhiri dengan foto bersama.
Kebanggan tersendiri untuk diriku. Sekali lomba langsung juara 1. Ayah, Ibu, dan Laras.. Terima kasih telah membuatku melangkah sampai sejauh ini. Batin Joko bersyukur.
"Okey khusus untuk ketiga juara nanti, diwajibkan mewakilkan dua penari dari kelompoknya untuk pentas di Hari Jadi Karanganyar untuk informasi lebih lanjut akan saya sampaikan pada penanggung jawab kalian masing-masing."
"Ok, jadi gini ya Nak, Bu Endang tunjuk aja, bagaimana kalau yang mewakili kelompok kita Laras dan Joko aja?" tanya Bu Endang kepada penari lainnya.
"I agree with you Bu" ujar dua penari lainnya (Jagat & Risa) secara bersamaan.
"Ok, kalau begitu udah deal ya Joko dan Laras yang maju mewakili kelompok kita, kalau begitu apakah Joko dan Laras merasa keberatan? Pasti nggak kan Joko?" keputusan Bu Endang yang kemudian disetujui oleh keduanya.
Nasya, manusia yang tadi Bu Endang sempat lalaikan untuk mengutarakan pendapatnya (setuju atau tidak jika Laras dan Joko yang mewakili kelompoknya).
Dalam hati Nasya, berkata, Joko, Laras, Joko, Laras. Kapan sih aku diizinkan bahagia. Jelas cantikan aku lho padahal daripada Laras. Bagusnya Laras itu pa to, apa dia kesayangannya Bu Endang jadi apapun lombanya dan acara apapun yang diajukan Laras terus. Hih, sebel-sebel pen gue Jambak ya Laras itu, trs gw cakar tu mukanya.
Kalimat itu membuat Nasya berimajinasi bagaimana keadaan Laras apabila hal itu terjadi dan reaksinya membuat Nasya senyum-senyum sendiri persis orang gila.
''Astaghfirullah, ada orang gila gess!'' heboh Jagat ketika melihat Nasya tersenyum sendiri sehingga membuat Nasya tersadar dari imajinasinya.
''Wo lha **em kowe yhaa, gelud kuyy. Sembarangan aja ngatain gue gila. Cantiknya bak putri lawu gini dikatain gila, gendeng Lo." ujar Nasya percaya diri.
"Nyadar mbak, Lo daripada ibu yang sudah beranak 3 masih cantikan beliau." celah Jagat.
"Ya udah pasti mamahnya Laras, Bu Endang lah, siapa lagi??" jelas Jagat pada Nasya.
"Lha kalau kecantikan Bu Endang sih, udah pasti ngalahin anak muda jaman sekarang, itu-tu liat aja outfitnya, fashionable banget kan, pengin gue, huaaa.." terang Nasya pada Jagat.
"Eh, eh, nggak baik ngomongin orang yang ada di depan kalian, daripada banyak omong ayo kita langsung makan di RC aja!" perintah Bu Endang kepada Laras dkk.
"Skuy!! Berangkat!!" ujar mereka berlima.
Flashback off
*(Hari Pentas, malam hari di alkra.
Joko dan Laras sudah siap dengan kostum yang mereka kenakan, make-upnya juga sudah oke.
Ratusan penonton yg sudah siap menyaksikan penampilan mereka berdua, baik pejabat maupun rakyatnya.
Beberapa menit kemudian acara dibuka dan rangkaian pertunjukan dimulai dengan menampilkan pasangan penari yang anggun, siapa lagi kalau bukan Joko dan Laras. Musik pun mulai terdengar saat itu juga Joko dan Laras memulai memainkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang didengarnya. Mereka kelihatan sangat meresapi musik dan pergerakan tubuhnya sehingga sangat elok penampilan keduanya malam itu.
Selesai pentas mereka dihadiahi tepuk tangan yang riuh dari ratusan penonton. Pak Bupati yang begitu terpesona, langsung memanggil mereka ke tempat tamu kehormatan.
__ADS_1
"Namanya siapa??" tanya Pak Wabub.
"Saya Janaka Catur Haryanto, biasa di panggil Joko." jawab Joko.
"Kalau saya, Larasati Pambayun Ing Putri. Panggilannya Laras." jawab Laras
"Sekarang smp kelas berapa?" tanya Pak Bupati.
"Kalo saya masih kelas 7, walaupun seharusnya kelas 9." jawab Joko cepat.
"Saya kelas 8 Pak." susul Laras.
"Ooo yayaya. Niki penari kakung, kok luwes e ngedap-edapi. Maem mu apa sih??" tanya Pak Bupati pada Joko
"Nggih maem nasi, Pak." jawab Joko sambil bingung.
"Belajarnya itu dari kapan??"
"Dari dua bulan yang lalu Pak." terang Joko.
"Dua bulan bisa seluwes ini??" tanya Pak Wabub keheranan.
"Maklum, anak punya darah seni itu sekali latihan jadi. Pada dasarnya udah tercetak kok, jadi yha tinggal finishing aja. Eh kalo ndak salah, Joko ini putra emas Ki Manteb nggih??"
"Leres Pak." jawab Joko
"Lha kalo sampeyan Mbak, putrane sinten?" (anaknya siapa?)
"Yoganipun Pak Imam, Jungke." jawab Laras. (yoganipun\=anaknya)
"Pak Imam? Yang guru di SMP 2 Karanganyar itu?"
"Bukan Pak, yang guru SMP 1 Ngargoyoso. Ibuk saya Bu Endang Setyananingrum." jawab Laras.
"Oalah, putrane mbak Endang Setyananingrum ta ini, sip sip. Melanjutkan kiprah ibumu yha, nduk. Sukses selalu untuk kalian berdua." ucap Pak Bupati.
Setelah itu Joko dan Laras diberi amplop yang lumayan tebel lah, dan mereka pamit ke belakang. Sebelum ganti baju mereka sempat berfoto dan diunggah di IGnya Joko,selang 15 menit udah dibanjiri ratusan komentar dan 625 like.Maklum karena Joko sudah tenar, hehe.
Bersambung
Gimana?? Tambah seru?? Apa malah kurang seru??
Yang penting jangan lupa like^^
__ADS_1