Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 15 Gagal Naik Kelas (2)


__ADS_3

Setelah tinggal kelas dikelas tiga, setahun kemudian Joko berhasil mencapai kelas 4. Yha sedikit membuat Kakek luluh padanya, apalagi dengan nilai Joko yang sangat bagus sehingga dia mendapatkan ranking 1 dikelas. Namun, Joko merasa dirinya tidak terlalu suka belajar materi sekolah. Saat UAS Gasal yang kedua dikelas 3, dia harus les privat dan benar-benar menyita waktunya untuk belajar mendhalang. Joko sangat kesal waktu itu, tapi ya mau bagaimana lagi, kalo ngga gitu ya bisa-bisa diusir dari rumah lah.


Sakit tak berdarah cuy!!!! Teriak Joko dalam hati.


Om dan Bulik selalu ada untuk mendukung Joko. Kurang perhatian gimana lagi sih Om sama Bulik ke Joko, udah dimanja, mau apa-apa dituruti, diberi fasilitas diremajanya nanti, dikasi les privat, didukung dengan sangat oleh mereka pula. Apapun keinginan dan keputusan Joko selalu dituruti dan selalu dihormati. Joko nggak pernah kekurangan kasih sayang dari Om dan Bulik, tapi hal tersebut tidak menjadikan Joko anak yang manja, meski terkadang bisa dimanfaatkan.


Kelas empat adalah kelas yang sangat menentukan masa depan seseorang, menurut author. Karena kelas empat itu masa transisi dari masa anak-anak menginjak masa remaja. Kebanyakan dari kita pasti sudah berumur 9 atau 10 tahunan di kelas empat SD, maka dari itu author menyebutnya masa transisi yang sangat menentukan kehidupan dimasa depan. Kalau di kelas 4 sudah "neko-neko" ya masa depannya bisa dibayangkan sendiri kan? Begitu juga sebaliknya.


*******


"Joko!! Sarapannya udah siap. Ayo Nak makan dulu." panggil Bulik, tapi tidak ada sahutan dari Joko.


"Joko mana Bun??" tanya Om yang baru saja keluar dari kamarnya berpakaian rapi.


"Masih dikamar kayake, nggak tau juga lagi ngapain." jawab Bulik.


"Tak cek e dulu." ucap Om tanpa basa-basi dan segera bangkit menuju kamar anak lelakinya itu.


'tok, tok, tok' Om mengetuk pintu kamar Joko dan memanggil Joko beberapa kali, tapi benar-benar tiada sahutan dari dalam. Akhirnya Om membuka pintu itu dan mendapatkan Joko yang masih tertidur.


"Duh, udah jam 6 belum bangun. Habis ngapain sih?" ucap Om monolog dan segera mencium kening Joko kemudian kembali berkata dengan lembut, "Anak Om, bangun dong, udah jam 6 ni lho. Nggak takut telat?? Sayang, bangun!!"


Joko menggeliat dan perlahan membuka matanya, "Joko masih ngantuk Om!!"


"Heh, udah jam 6 lho, kamu nanti telat."


Joko terkejut dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia melihat jam beker di kamarnya, benar saja waktu sudah menunjukkan pukul 05:59. "Duh Gusti, kok alarmnya nggak bunyi ya.. Aaaa Bulik, air angetnya udah disiapin kan??" teriak Joko panik.

__ADS_1


"Yha belum ta, tak kirain kamu udah mandi!!" teriak Bulik dari luar.


"Dah, mandi pake air dingin aja, udah jam 6 juga." perintah Om yang segera dilaksanakan oleh Joko.


Mandi bebek ya mandi bebek lah. Pikir Joko.


Sepuluh menit kemudian dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian.


"Lah kenapa seragam batiknya nggak ada?? Bulik seragam Joko hari ini di mana??" teriak Joko lagi.


Bulik pun masuk ke kamar Joko dan berkata, "Ya kan biasanya di lemari kan, kalo di lemari nggak ada ya Bulik nggak tau."


Joko semakin panik dia benar-benar kalang kabut sekarang. Joko mencoba untuk mengingat dimana dia meletakkan seragamnya seminggu lalu sambil terus mencari dimana seragam itu.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu, nih Mas seragamnya." ucap Bulik pada Joko.


"Belum dicuci mosok??"


"Lah iya" ucap Joko sambil menepuk jidatnya. "Joko baru inget, kan seminggu lalu Bulik di luar kota, aku lupa nggak nyuci, hehe. Maaf Bulik." tambahnya.


"Hmm yaudah, kamu dihukum ya. Hari ini kamu pake seragam itu ke sekolah, ga pake parfum dan nanti pas pulang sekolah langsung dicuci !!" perintah Bulik.


Joko hanya pasrah dengan mengganggukkan kepalanya lesu. Setelah mengenakan seragamnya, Joko segera berangkat karena tidak memungkinkan untuk sarapan. Hari ini adalah UAS Gasal di hari ketiga dengan jadwal Bahasa Jawa dan IPS. Joko sudah belajar dengan baik kemarin, ia berharap agar ujiannya lancar tanpa halangan suatu apapun, Aamiin.


Saat kertas soal di bagikan, Joko langsung membaca soalnya mencoba untuk mempelajari dan mengingat jawaban.


"Wah ini sih materi yang dipelajari kemarin. Ternyata bener kata Mbak Wangi, joss lah." ucap Joko sambil memuji guru les privatnya.

__ADS_1


Waktu yang digunakan untuk mengerjakan 35 soal adalah 90 menit, tapi Joko sudah selesai dengan waktu 35 menit saja. Setelah itu ia memutuskan untuk memikirkan beberapa lakon yang akan ia pentaskan minggu depan. Ia menggambil satu kertas yang ada di saku seragamnya dan melanjutkan tulisan tentang alur ceritanya. Temannya yang ada dibangku sampingnya mengira kalau Joko sedang mencontek jawaban dan melaporkan hal tersebut pada guru pengawas. Joko terkejut bukan main dan dia dibawa secara paksa ke kantor guru. Di kantor itu, beberapa guru mengintrogasi Joko.


"Kamu nyontek ya??" tanya seorang pak guru yang badannya tinggi.


"Mboten Pak saestu, kertas niki isine namung hafalan lakon kangge pentas minggu ngajeng." (Tidak Pak beneran, kertas ini tuh isinya cuma hafalan lakon untuk pentas minggu depan) bela Joko.


"Alah, nggak perlu drama seperti itu!! Nggak mungkin anak kecil kayak kamu bisa ndhalang. Buktikan kalau memang bisa!!" bantahnya.


"Kula mboten mbeta wayang Pak, menawi kula mbeta nggih kula sampun mayang." (Saya nggak bawa wayangnya Pak, kalau saya bawa ya sudah saya lakukan) jawab Joko.


"Hahaha anak kecil kok ngelantur, sok pake basa jawa ben apa??" (sok pakai bahasa jawa biar apa??) bantahnya lagi.


"Bapak kula nate ngendika menawi tiyang Jawi punika ampun ngantos ilang Jawane. Pramila para kawula mudha kedah dipunkulintenaken ngginakaken basa Jawi." (Bapak saya pernah bilang kalau orang Jawa itu tidak boleh hilang Jawanya. Maka dari itu para generasi muda harus dibiasakan untuk menggunakan bahasa Jawa) jawab Joko dengan sopan.


"Pak Tomy sudah, lebih baik kita lihat dulu saja apa isi kertasnya itu." kata pak guru yang lain.


Joko segera menyerahkan kertasnya, para guru itu membaca dengan seksama isi kertas itu dan terkejut.


"Joko, kamu tahu kan hari ini pelajaran Bahasa Jawa yang isinya materi pewayangan dan tembang?? Kertas ini berisi semua itu dan benar-benar membuat kertas ini seperti kertas contekan, maaf Joko kami harus mengambil tindakan." ucap Pak Pram.


"Pak Kepala Sekolah benar Joko, kamu sudah terbukti mencontek dan ada konsekuensi besar dari tindakanmu ini, maafkan bapak karena semuanya sudah ada buktinya." ucap pak guru yang baik.


"Joko, ini surat dari sekolah untuk orang tuamu." ucap Pak Pram.


Joko menerimanya dengan berat hati. Ia tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian lagi dan mau tidak mau ia harus pulang.


Ketika di jalan dia memberanikan diri untuk membuka surat itu dan ternyata Joko dinyatakan tidak naik kelas karena ketahuan mencontek. Sungguh hari yang sangat buruk, pake seragam yang ngga dicuci seminggu masih ditambah lagi dengan difitnah dan harus nggak naik kelas karena alasan konyol.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2