Seni Yang Sempurna

Seni Yang Sempurna
Episode 17 Malam Pengetahuan


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, tapi Kakek masih saja kesal. Entah karena ulah seorang anak bernama Galih yang sangat menjengkelkan atau kecerobohan Joko yang membawa teks lakonnya.


"Aah!! Kepalaku pusing sekali memikirkan kejadian itu. Kenapa juga sih, Joko bawa teks itu?? Kalo nggak kan nggak gini jadinya." gerutu Kakek di ruang kerjanya di kantor.


"Tunggu.. Bukan hanya karena teksnya, tapi juga keinginan Joko untuk belajar wayang. Kenapa dia harus jadi dhalang sih?? Kerjaan kan banyak. Sama-sama yang bidang seni, dia bisa belajar fotografi, belajar tentang lukisan, atau jadi musisi, itu lebih baik untuk masa depan dia. Kerjaan kok jadi dhalang, nggak ada mutunya. Apa sih enaknya jadi dhalang, lha wong nggak penting juga." cerewetnya lagi.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka. Pelakunya tak mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Tuan Abirawa sedang kesal dan sekarang tambah kesal karena ada seorang pria seumurannya, yang sedang menghisap rokok klobot dengan asap mengepul, masuk tanpa permisi.


"Abi, apa kabarmu temanku?? Sudah lama sekali tak bertemu denganmu." ucap pria itu sambil menghembuskan asap yang sangat tebal dari rokoknya.


Kakek hanya terdiam dan menatap jengkel pria tua itu.


"Kau mau??" tawar pria tua itu sambil menyodorkan sebungkus rokok klobot komplit dengan koreknya.


Sudah lama ya aku nggak ngrokok, yha nyoba lagi nggakpapa lah, mumpung gratis juga. Batin Kakek.


Ia mengambil satu batang rokok itu dan menghidupkannya. Kemudian menikmati setiap hisapan, hal itu cukup menenangkan pikirannya.


Pria tua tadi tersenyum melihat temannya yang sedang menikmati oleh-oleh yang ia bawakan.


Suasana di ruangan itu menjadi hening. Hanya terdengar detak jam dinding dan suara samar keributan karyawan kantor yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Ruangan itu sudah penuh dengan asap rokok, tapi dua orang teman yang sudah lama tak berjumpa itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa kau datang kemari?? Darimana kau tahu kalau ini kantorku??" tanya Kakek memecah heningnya suasana.


"Aku hanya merindukanmu. Sudah lama kita nggak rokokan bareng gini kan?? Aku yha kangen saat-saat kita latihan dulu. Lagipula kau sendiri yang memberikan alamat kantor ini padaku." jawab pria tua itu. "Apa kamu nggak kangen saat-saat latihan di Pura Mangkunegaran?? Dan kenapa kamu tidak memanggilku dengan namaku, Abi??" tanya pria tua itu.


"Aku sudah mengubur kenangan itu Wir, kalo kamu mengungkit lagi hal itu, lebih baik kamu pergi!!" jawab Kakek tak acuh.


"Ternyata kau masih menyimpan kenangan kelam itu yha?? Abi.. Abi.. Kenangan itu nggak akan membuatmu mati, nggak ada salahnya kamu mengingatnya sebentar. Jangan mengingat hal yang buruk, tapi ingatlah hal-hal indah yang pernah kita lalui." jelas pria tua itu panjang lebar.


"Yha, njenengan leres mas. Kenangan itu nggak semuanya jelek." (njenengan leres mas : kamu benar mas) jawab Kakek sembari tersenyum.


"Hahaha, kowe isih kelingan pas Mbah Cakrik nesu-nesu merga awakmu nugelne wilahan?? 'Gondo!! Kancamu iki kandanana, wilahan saron sing ditugelne kuwi khi larang.' Terus kowe nangis. Iya ta?? Huahaha."


Kakek mulai mengingat masalalunya saat latihan di Pura Mangkunegaran. Ia tersenyum geli mengingat peristiwa dimana ia mematahkan bilahan (nada) saron perunggu yang cukup mahal.

__ADS_1


Percakapan mereka berlanjut dan jadi sangat seru. Tawa mereka memenuhi ruang kerja, bahkan terdengar sampai keluar dan mengejutkan beberapa karyawan.


"Tuan besar sedang tertawa dengan siapa??" tanya seorang karyawati pada temannya


"Tak tahu.." jawab temannya


"Ku lihat tadi ada seorang pria seumurannya masuk ke ruangannya tanpa permisi, mungkin dia temannya.." kata karyawan lain yang nimbrung


"Ah lebih baik kita kerja, daripada dimarahin bos." saran temannya yang lain.


***


Hari sudah sore, percakapan antara dua sahabat yang sudah lama tak berjumpa itu telah berakhir dan kini Kakek sudah di rumah. Hatinya masih sangat senang, sampe nggak sadar kalo sedang suluk abur-aburan Gathotkaca. Suara Kakek yang sangat menggelegar terdengar sampai ke ruang belakang.


Joko yang lagi asik nonton tv kaget. Gimana nggak kaget lha ada seseorang yang suluk abur-aburan, favoritnya, ditambah lagiitu adalah suara Kakek.


"Itu suara Kakek?? Demi apa?? Seriusan??" ucap Joko keheranan dan langsung mengintip ke ruang utama.


Benar saja di ruang utama Kakek sedang asyik suluk sambil memainkan wayang Gathotkaca. Joko benar-benar tak percaya, Kakek sedang memainkan wayang dan suluk?? Momen yang sangat langka. Tapi dengan tidak sengaja, Joko menyenggol gebyog dengan sangat keras dan membuat kebisingan. Kakek langsung berhenti suluk dan menghampiri Joko yang kesakitan karena siku kanannya menyenggol gebyog kayu jati.


Joko hanya menganga dan meringis kesakitan karena sikunya memang seperti sedang patah sekarang. Kakek sangat khawatir dan memutuskan untuk menelpon sahabatnya, Ki Gondo Pawiro, untuk segera ke rumahnya kemudian Kakek membawa Joko ke kamarnya. Tak lama Mbah Gondo, begitu sebutannya, datang dan langsung mengobati siku Joko.


"Hmm, kok bisa sampe nyenggol gebyog ta Le, padahal kan gebyognya diem aja." ucap Mbah Gondo sambil memijat lengan kanan Joko.


"Wau, Kakung suluk Mbah. Kula kaget terus mboten sengaja nyikut gebyog." (Tadi, Kakek suluk Mbah. Saya kaget trus nggak sengaja nyenggol gebyog) jawab Joko sambil meringis karena menahan sakit.


"Oalah.. Haha, kaget banget ya??" tanya Mbah Gondo lagi.


Joko hanya mengangguk dan Kakek tersenyum.


"Joko, sebenernya Kakek ini dulunya juga dhalang." ucap Kakek.


Joko terbelalak seolah tak percaya.


"Iya.. Gimana yha ceritanya.." Kakek kebingungan sekarang.

__ADS_1


"Wayang itu belahan jiwa Kakekmu. Dari seumur kamu Kakekmu itu sudah pentas kemana-mana, persis sepertimu. Dia itu bahkan senior dari gurumu, Ki Manteb. Kakekmu, aku dan Ki Manteb, kami satu squad dulu, tapi sejak kejadian itu sudah nggak lagi." jelas Mbah Gondo.


"Kejadian apa Mbah??" tanya Joko keheranan.


"Biar Kakungmu yang bercerita." jawab Mbah Gondo.


Kakek menghela napas dan berkata, "Dulu saat mengikuti pelatihan di Pura Mangkunegaran, Kakek punya seorang rival. Dia tampaknya juga membenci Kakek, sangat membenciku. Yha Kakek dulu tuh murid kesayangan dan murid yang pinter lah." jelas Kakek.


"Pinter pake banget. Suluk, cekelan, sabetan, hafalan, nggak ada yang bisa nandingin." timbrung Mbah Gondo.


"Wow, seirus?? Eh serius??" tanya Joko terheran-heran.


"Yha gitu deh.. Terus di akhir tahun pasti ada semacam ujian akhir semester, nah di semester-semester sebelumnya Kakek pasti jadi juara kelas gitu istilahnya. Lalu di ujian akhir semester kelima kalo ndak salah, Kakek tuh disantet." jelas Kakek lagi.


Joko sangat terkejut dan menjadi lebih penasaran.


"Disantet, bentuknya guna-guna. Yha diguna-guna lah, kalo suluk itu suaranya tiba-tiba mblero, padahal kalo nyanyi gitu pas-pas aja nadanya. Sama-sama kinanthinya, kalo dijadiin suluk pasti mblero, tapi kalo ditembangne biasa yha biasa aja. Kakekmu itu aneh banget kok emang." tambah Mbah Gondo.


"Sebelum kejadian aneh itu, Kakek main ke rumahnya si dia, rivalnya kakek itu. Disana minum kopi item, rasanya pahit banget kata Mbah Gondo, tapi kalo kopi Kakek biasa aja gitu rasanya. Sampe-sampe Mbah Gondo nyobain kopiku dan rasanya juga pahit.. Tapi kalo aku yang minum, manis, enak lah pokoke." jelas Kakek


"Selain suluk yang mblero, Kakekmu ini juga jadi ngantukan dan kurang konsentrasi. Wis pokoke dadi bedo lah dan alhasil jadi sorotan negatif banyak orang. Ada yang menduga bahwa sebelumnya Kakekmu pakek ilmu kandel dan sebagainya, padahal baru itu Kakekmu kenal ilmu-ilmu kaya gitu. Kakekmu ini ahli agama Le, dia belajar wayang untuk syiar juga." tambah Mbah Gondo


"Seiring berjalannya waktu, kondisi kakek semakin buruk. Tenggorokan jadi sakit, suara parau, badan sering lemes, sakit-sakitan. Itu berlangsung selama sepuluh tahunan, jadi dari umur 20 tahun sampe 30 tahun. Sampe kakek punya anak 2, almarhum ayahmu dan bulikmu, belum sembuh, malah semakin parah. Kakek sampe lumpuh total, nggak bisa kemana-mana, nggak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa tiduran. Berbulan-bulan.." jelas Kakek.


"Kakekmu nadar, kalo dia bisa sembuh, maka dia nggak akan ndhalang lagi, selamanya.. Bahkan anak cucunya pun nggak akan ada yang boleh jadi dhalang. Lha ndilalah dukun suruhan rivalnya Kakekmu itu dibunuh orang yang punya dendam lama, kemudian rivalnya Kakekmu juga mati diterkam harimau di hutan dan sampai sekarang jasadnya nggak ditemukan. Mulai dari hari kematian mereka Kakekmu berangsur membaik dan berhasil sembuh, maka sesuai janjinya, Kakekmu nggak akan ndhalang lagi dan seluruh keturunannya tidak boleh ada yang jadi dhalang." tutup Mbah Gondo.


"Tapi kenapa saya masih diperbolehkan menjadi dhalang?? Bukankah saya juga keturunan Kakek??" tanya Joko.


"Joko cucu kakek, darah daging kakek, dan keturunan kakek. Sebelumnya kakek sudah melarang Joko agar tidak jadi dhalang dan benar saja, masalah demi masalah bermunculan kan?? Tapi karena Ki Gondo Pawiro, sahabat kakek tercintaah, hehe. Kakek sadar kalau kamu penerus cita-cita kakek yang sempat putus, jadi kakek harap kamu tetap mau jadi dhalang, meneruskan kiprah kakek. Kakek juga minta maaf karena selalu kasar sama kamu, Joko. Maafin kakek yha.." ucap Kakek.


Joko terharu mendengar perkataan Kakeknya, tanpa pikir panjang, Joko langsung memeluk Kakeknya dan menangis sendu. Mbah Gondo hanya tersenyum dan bangga pada sahabatnya.


Akhirnya, setelah sekian lama luka itu berhasil kau sembuhkan. Seharusnya kau belajar Abi, jangan menganggap masalalu yang kelam sebagai ingatan yang buruk, tapi anggaplah itu sebagai kesalahan yang tidak akan pernah kau ulangi lagi. Luka yang dalam memang sangat menyakitkan dan butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, tapi jika kau hanya membiarkannya luka itu tak akan pernah sembuh. Rawatlah dengan baik, akui saja kalau itu memang sakit, lalu obati, ceritakan keluh kesahmu pada orang yang kau percaya, maka perlahan luka itu akan berangsur sembuh. Batin Mbah Gondo.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2