
Hari ini adalah hari yang kunanti - nanti. Dimana waliku akan mengambilkan raportku. Kali ini yang mengambilkan raport adalah Kakek.
Hatiku berkata, Tumben Kakek mau mengambilkan raport ku,padahal kan dia nggak suka denganku.
Di hari itu, sebelum masuk ruang kelasku Kakek tersenyum padaku. Hatiku pun bahagia melihatnya seperti itu, setelah kesekian lama senyum itu telah sirna. Setengah jam aku menunggu di luar kelas bersama teman - temanku. Karena namaku Janaka Catur Haryanto aku berada di nomor urut 17.
'Grek.'
Begitulah suara pintu kelasku, setelah dibuka Kakek. Suara itu lumayan kencang sehingga semua temanku melongo melihat kearahnya.
Akupun melihatnya dan tersenyum padanya. Namun, Kakek justru menyatukan alisnya yang tebal itu serta menyorotkan matanya dengan tajam padaku. Ditambah dengan wajahnya yang memerah seakan menanggung malu yang amat besar.
Hatiku pun bertanya dengan konyolnya, Apa Kakek kesurupan ya?
Namun belum selesai hatiku bertanya kakek sudah menggelandang tanganku dan menyeret ku mengajak pulang.
__ADS_1
"Ada apa Kek? Apakah Kakek akan menunjukan hadiah untukku? Apakah Kakek marah padaku?" Pertanyaan yang ku lontarkan itu tidak digubris kakek, malah tanganku digenggam semakin kuat. Akupun merasa sangat kesakitan bukan feeling good.
Tiba dirumah akupun langsung ditampar kakek dan membuang raport ke wajahku dengan kerasnya. Seraya berkata dengan lantangnya, "Apa - apaan ini. Apa yang selama ini kau pelajari. Main wayang? Makan? Tidur? Ngegame? Kamu sudah mempermalukan aku. Mulai sekarang kamu bukan cucuku lagi."
Mendengar perkataan Kakek, Joko menangis dan menuju kamarnya. Dia menceritakan semuanya difoto ayah dan ibunya. Dia bercerita bahwa tidak ada waktu untuk belajar materi, Joko hanya bisa belajar wayang. Karena dia sudah merasa falling in love dengan wayang dan dia meyakini kalau ini sudah takdir dari Rob-nya.
**
Siang telah berganti sore, langit menyemburatkan warna jingga. Ya, itu momen yang tepat untuk seseorang menikmati kehangatan dan keindahan yang tampak. Tetapi tidak dengan Kakek, ia sangat malu dicampur dengan marah akan hasil raport Joko tadi pagi. Hal ini belum diketahui siapa2 terkecuali Kakek. Karena Om dan Bulik menghadiri seminar di luar kota untuk sehari ini. Sedangkan bapaknya manggung di luar kota juga. Mereka semua belum sempat menanyakan bagaimana hasil raport Joko.
Sore itu tampaknya sangat lama bagi Joko.Ia ingin bermain dengan teman - temannya. Tapi malas kalau melihat wajah Kakek yang semrawut itu karena kalau bermain pasti harus keluarkan? Dan itu juga harus melewati ruang utama yang berarti ada mahluk semrawut tinggal. Itulah batin Joko.
Bukan hanya itu alasan Joko tak mau keluar. Ia juga sudah muak dan telinganya gatal mendapatkan ocehan dari kakek saat memarahi Joko.
ISTIGHFAR BARENG YUUK ◞‸◟
__ADS_1
"Mas Dalang Joko sik bagus dewe, ora usah nangis mending YouTubean wae, mirsani Bapak mayang lan mas Thatit ngendang. Paketan Bulik kan isih okeh." (Mas Dalang Joko yang paling ganteng, tidak usah menangis sebaiknya YouTube an aja,melihat Bapak memainkan wayang dan mas Thatit mengendang. Paketan Bulik kan masih banyak) Begitulah celetuk Joko kepada dirinya sendiri, sembari jari mungilnya memainkan smartphone yang akan memencet aplikasi YouTube. Sebenarnya smartphone itu milik Bulik yang sengaja ditinggalkan. Agar Joko tidak kesepian di rumah dengan ayahnya.
#####
O iya, mas Thatit itu adalah cucu dari Ki Manteb Sudarsono. Dia ganteng berperawakan kurus dengan warna kulitnya cukup cerah. Ia mahir dengan menabuh gendang sehingga dialah yang sekarang trending, setelah penabuh gendang Alm. Lord Didi, Dory Harsa.
#####
Setelah Adzan Maghrib Joko belum selesai YouTubean. Kakek yang awalnya mengintip di balik gebyok, akhirnya menuju ruang belakang dengan langkah hati - hati. Sampai di ruang belakang kakek mengajak pita suara nya untuk menyindir Joko, agar segera salat Maghrib.
"Aduh enak ya kalau punya cucu seperti imam, udah anaknya ganteng, pinter, sopan, gak mau absen ke masjid, adem rasanya, itulah cucu Kakek seharusnya. Eh kok takdir malah membiarkan Kakek yang bermartabat ini, dikasih cucu yang gaada akhlak, pinter juga nggak, ganteng juga nggak, HP nan terus nganti lali wayah ya Tuhan..." Sindir Kakek.
(HP nan terus nganti lali wayah ya Tuhan\= mainan HP mulu hingga lupa waktu, ya,,,, Tuhan)
"Ya Tuhan, seandainya aku juga emaknya Malin Kundang akan ku ubah cucuku itu menjadi batu agar tahu rasa dia." Sindir Kakek lagi.
__ADS_1
Sindiran kali ini membuat Joko yang polos itu takut, seakan-akan akan diubah kakek menjadi batu. Ia pun langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu langsung menunaikan shalat Maghrib seraya berdoa agar kakek tidak mengutuknya menjadi batu. Doa Joko itupun didengar telinga kakek. Kakek yang mendengarkannya tertawa dalam hati dan hal ini mengurangi amarah Kakek.
Bersambung