
Joko pulang dengan lesu, tak ada semangat sama sekali, hatinya hancur, otaknya tak mampu untuk membayangkan bagaimana marahnya Kakek nanti. Yang dipikirkan oleh Joko hanyalah nasibnya esok hari, apa dia masih bisa tinggal di rumahnya ini atau tidak.
Sesampainya di depan rumah, Joko tidak langsung ke ruang belakang, tapi menuju ke kamar Kakek di ruang utama. Dengan berat hati, Joko meletakkan amplop berisikan surat dari sekolahnya di meja kerja Kakek, ia berharap agar Kakek mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu sebelum menjatuhkan hukuman padanya. Setelah itu ia pergi ke ruang belakang dan segera melakukan hukuman dari Bulik tadi. Kesedihan dan kesedihan, hanya ada kesedihan di hati Joko sekarang. Bahkan ketika Joko mencoba bermain wayang, kesedihan itu tak bisa hilang.
Joko memutuskan untuk tidur, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Ia memejamkan mata sembari memeluk foto kedua orang tuanya.
Ayah, Ibu.. Joko nggak salah kan?? Joko kan cuma mau ngisi waktu luang aja daripada ngalamun. Kan Joko udah selesai ngerjain soal-soalnya, masa iya Joko nyontek pas udah jawab semua soal. Ayah, Ibuk.. Joko kangen.. Ucap Joko dalam hati.
Sore telah tiba, tapi Joko belum juga bangun. Bulik sudah pulang dari kantor, tapi ia tak menemukan dimana putranya berada.
Joko kemana ya?? Harusnya dia udah pulang dari tadi kan?? Tanya Bulik dalam hati.
"Sayang, kamu dimana?? Bulik bawa serabi kesukaan kamu nih." panggil Bulik, berharap agar Joko segera datang padanya, tapi hasilnya nihil.
Bulik mulai bertanya-tanya dimana Joko sekarang.
"Kalau Joko main dengan teman-temannya harusnya juga udah pulang sekarang, tapi kok nggak ada tanda-tanda keberadaannya ya??" tanya Bulik pada dirinya sendiri.
Tak lama adzan magrib berkumandang. Hal itu menjadi alarm tersendiri untuk Joko, sekarang ia memutuskan keluar kamar untuk mengambil wudhu dan bersiap untuk sholat. Hari ini ia melewatkan empat sholat sekaligus, mungkin hal itu yang menyebabkan dirinya tidak mendapatkan keberuntungan hari ini.
Saat keluar kamar, Bulik melihatnya dan bertanya, "Sayang, kamu mau serabi??"
__ADS_1
Tapi Joko hanya diam saja, seolah tak menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh Buliknya. Setelah selesai wudhu pun Joko kembali ke kamarnya tanpa sepatah kata, yang membuat Bulik benar-benar kebingungan sekarang.
Saat Bulik ingin menyusulnya, pintu kamar sudah terlanjur dikunci oleh Joko dari dalam.
"Eh, nggak biasanya kamar pake dikunci segala. Nih anak kenapa sih??"
Kini perasaan tidak tenang benar-benar menghampiri Bulik. Tiba-tiba Kakek dan Om masuk ke ruang belakang dengan wajah sedih. Bulik semakin bingung dan bertanya, "Mas ada apa?? Kok kayake sedih gitu??"
Om Adam hanya menghela napas, sedangkan Kakek angkat bicara, "Joko dinyatakan tidak naik kelas dengan alasan menyontek. Aku ingin sekali memarahinya, tapi untungnya Adam menjelaskan bahwa hal itu adalah kesalahpahaman yang merugikan Joko. Adam mengetahuinya dari wali kelas Joko yang sebenarnya teman seangkatan Adam. Aku ingin tahu dimana dia sekarang." dengan nada datar.
Bulik terkejut, sekarang ia tahu mengapa putranya sangat sedih. Bulik menjawab, "Joko ada di kamarnya, tapi pintunya dikunci dari dalam Yah. Mungkin dia sangat sedih dan ingin menyendiri sekarang."
Tanpa basa-basi Kakek langsung menuju kamar Joko dan mengetuk pintu. "Joko, ini Kakekmu. Keluarlah, aku akan mencarikan jalan keluar bagimu. Tak perlu sedih seperti itu. Keluarlah sekarang, aku janji nggak akan marahin kamu." ucap Kakek.
Ayah memeluk Joko?? Keajaiban apa ini Tuhan?? Batin Bulik
Kenapa aku ingin menangis, ketika melihat ayah memeluk Joko?? Air mata senang kah ini?? Batin Om.
Kakek pun melepaskan pelukannya dan berkata, "Joko anak yang baik dan kuat, kamu nggak pantes buat dapetin ini semua. Kakek janji sama kamu, Kakek akan buat orang yang sudah fitnah kamu minta maaf padamu dan Kakek janji, bakal menghargai dan mendukung semua keputusan serta impianmu. Besok kita pergi ke sekolah, Kakek akan bicara dengan kepala sekolahmu, wali kelasmu dan wali murid dari siswa yang berani memfitnahmu. Cucu dari Abirawa Haryanto tidak boleh direndahkan seperti ini."
"Kakek..." tanpa meneruskan ucapannya, Joko segera memeluk kakeknya itu dengan rasa haru. Om dan Bulik seperti sedang melihat drama sekarang, tapi ini nyata, ini bukan settingan belaka.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Kakek benar-benar membawa Joko dan Bulik pergi ke sekolah dengan tujuan ingin menyenangkan hati cucunya. Tak ada yang tahu bahwa Tuan Besar Abirawa Haryanto adalah seorang yang sangat menyayangi keluarganya, ia juga tidak suka jika ada yang memfitnah anggota keluarganya secara sembarangan.
Cukup diriku saja yang pernah mengalami hal seperti ini, jangan sampai anak cucuku juga merasakan pedihnya dihina. Batin Kakek saat berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Di ruang kepala sekolah, sudah ada siswa beserta wali muridnya, dia yang sudah memfitnah Joko. Kemudian sudah ada kepala sekolah dan wali kelas empat.
Dengan perasaan yang dipenuhi amarah Kakek melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus, "Saudara ini namanya siapa?? Anda orang tua dari anak ini kan?? Siapa nama anak ini?? Dan seharusnya Anda sudah tahu siapa yang sedang berbicara dengan Anda sekarang kan??"
Dengan gugup, pria paruh baya itu menjawab, "Saya Andri, Pak. Ini anak ketiga saya, namanya Galih. Panjenengan adalah Tuan Besar Abirawa Haryanto, pemilik bisnis rumah makan dan kebun jambu terbesar se-Kabupaten."
"Syukurlah jika Anda tahu siapa saya. Saya tidak ingin basa-basi sekarang. Kalau Anda tidak ingin terjebak dalam masalah yang lebih rumit, lebih baik Anda menyuruh anakmu itu untuk meminta maaf pada cucu kesayangananku!!" jawab Kakek tegas.
Pria itu segera menyuruh putranya meminta maaf pada Joko, tapi tampaknya anak itu terlalu keras kepala dan malah berkata, "Heh Mbah Tuwek!! Kowe kui nduwe kuoso opo kok ngakon-ngakon aku lan Bapakku?? Aku ra wedi karo kowe, nek wani mbi aku rene maju. Ayo dirampungke nganggo coro lanang." (Hei Kakek Tua!! Punya kuasa apa kamu kok berani nyuruh-nyuruh aku dan bapakku?? Aku nggak takut sama kamu, kalo berani sini maju. Ayo diselesaikan dengan cara lelaki)
Kakek benar-benar terpancing emosinya seksrang. Kemudian membentak anak itu.
"Bocah ra nduwe tata krama!! Kon wani nantang aku?? Wong tuamu kuwi ngajari apa jane?? Sajake wong tuamu kui mantan gali, mula anake ya tiru bapakne!! Ora perlu kokean omong, yen ra gelem njaluk ngapura ya wis, ning ana akibate. Pak kepala sekolah, sakniki njenengan ngertos sinten ingkang pantes dipundalaken saking sekolah. " (bocah nggak punya tata krama!! Kamu berani nantang aku?? Orang tuamu itu ngajari apa sih?? Kayake orang tuamu mantan preman, jadi anaknya ya seperti bapaknya!! Dah, nggak perlu banyak omong, kalo nggak mau minta maaf ya udah, tapi ada konsekuensinya. Pak kepala sekolah, sekarang Anda sudah tahu siapa yang pantas untuk dikeluarkan dari sekolah)
Nyali anak itu seketika menciut saat mendengar kata 'dikeluarkan'. Kepala sekolahnya tampak menandatangani sebuah surat dan langsung memberikannya pada ayahnya. Galih ikut membaca surat itu dan dia terkejut karena dia benar-benar dikeluarkan dari sekolah. Dia langsung bersujud di hadapan Tuan Abirawa dan meminta maaf sambil menangis hebat, tapi terlambat. Tuan Besar itu sudah muak dengan sikap kurang ajarnya dan memutuskan untuk pulang meninggalkan anak yang tidak tahu sopan santun itu.
__ADS_1
Bersambung