Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Kamu Lagi


__ADS_3

"Apakah kamu akan tetap disini?" sebuah suara yang mulai tak asing terdengar.


"Tidak... " Jawab jingga singkat.


"Lalu, ingin sampai kapan disini?" Tanya bian lagi.


"Aku ingin menunggu disini" katanya datar.


"Siapa?" tanya bian penasaran.


"Hei kamu!" bentak jingga. "Kamu sebenarnya ngapain sih disini?" tanya jingga dengan kesal, sambil berdiri dan berbalik untuk melihat pria tersebut.


"Dia berubah sangat drastis, tadi kalem, sekarang garang" batin bian dengan wajah tak kalah terkejutnya ia.


"Ahh maaf, saya diminta ibu untuk menjemput kamu lagi" jawabnya dengan senyum lebarnya yang memperlihatkan lesung di pipinya.


"Siapa yang nyuruh kamu senyum-senyum?"


"Ahh maaf"


Jingga mendengus kesal, lalu mengambil sepatu yang ada diatas pasir, ia berjalan ke tepi pantai berdiri sejenak disana, memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpanya sore itu.


Dari tempat yang sama, bian memperhatikan jingga yang sedang menikmati hembusan angin di tepi pantai.


"Ia gadis seperti apa sebenarnya?" tanyanya ke dirinya sendiri, masih dengan memperhatikan gadis tersebut.


Jingga berbalik melangkahkan kaki menuju ke tempat semula, sesampainya dihadapan bian ia berhenti, tersenyum kearah bian dengan senyum yang sangat indah.

__ADS_1


"Ternyata kamu sangat mungil" kata bian dengan terus tersenyum.


"Hei kamu!" teriak jingga.


"Kenapa kamu terus-terusan berteriak seperti itu sih?" tanya bian dengan nada kesal.


"Apa ada yang salah dengan cara ku meneriakimu tuan? balas jingga tak kalah kesalnya.


"Kamu ini..." kata bian mendecih dengan wajah kesalnya.


"Kamu sudah berapa lama jemput aku kesini?" tanya jingga dengan suara yang pelan.


"Sudah seminggu..." Jawab bian acuh.


"Hm... " hanya dehemannya yang terdengar, beberapa menit kemudian, jingga melangkahkan kakinya menuju dimana mobil diparkirkan oleh bian.


***


Hanya suara mesin mobil yang terdengar, dua manusia yang ada disana saling tidak mengeluarkan suara.


Bian tetap fokus menyetir, sedangkan jingga hanya mematung melihat ke arah jalan.


"hm.. "


"Kenapa? ada yang ingin kamu tanyakan?" Tebak jingga.


"Bolehkan saya bertanya?" izin bian terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hei kamu!" teriak jingga.


"Kenapa selalu teriakin aku gitu sih?" kata bian kesal yang terkejut dengan teriakan jingga, namun tetap fokus menyetir.


"Kamu kenapa sih? kadang sopan kadang biasa aja" balas jingga sambil mengalihkan perhatiannya ke arah bian.


"Hah? maksud kamu?"


"Iya kadang kamu nyebut diri kamu sendiri 'aku' 'saya' "jelas jingga.


"Ohh itu... " kata bian mangut-mangut.


"Bicaralah santai ketika hanya berdua denganku, berbeda jika didepan ibuku, kamu harus menghormatiku" kata jingga, seperti sebuah permintaan kecil.


"Baiklah" kata bian dengan menyembunyikan senyumannya.


Suasana kembali sunyi, jingga kembali menatap jalanan yang mereka lewati, sedangkan bian harus tetap fokus menyetir.


Perjalanan tidak terlalu banyak memakan waktu, karena memang jarak pantai memang tidak terlalu jauh dari rumah yang jingga tempati.


Setelah mobil berhenti didepan sebuah pintu besar yang memiliki ukiran, jingga turun dari mobil menuju pintu tersebut dan membukanya.


"Apakah sudah menjadi kebiasanmu berada disana sendirian?" sebuah suara wanita paruh baya menghentikan langkahnya.


Jingga hanya menatap seketika wanita yang sedang duduk diruang tengah, lalu ia melanjutkan langkahnya masuk ke kamarnya melepaskan sepatu disembarang tempat dan mengunci pintu.


"Argghhhhh... " teriak jingga frustasi.

__ADS_1


"Kenapa semua ini terjadi tuhan?" gumam jingga. Lalu ia merebahkan dirinya diatas tempat tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu, ia memejamkan matanya tertidur menyelam ke alam mimpi.


__ADS_2