Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Pemaksaan


__ADS_3

Beberapa orang berbadan besar sedang berjaga-jaga disebuah rumah kecil didekat hutan. Tampak sepi, dari jendela tak terlihat rumah-rumah lainnya.


"Apa yang mereka inginkan sebenarnya?" kata jingga mencari celah untuk keluar dari sana. Tetapi, ia tak menemukan celah apapun. Ia terperangkap disana, berharapa papanya dan fajar dapat segera menemukannya.


"Ya tuhan... tolong aku" katanya duduk disudut ruang memeluk kakinya, ketakutan.


Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dengan cara membanting pintu tersebut, dan berhasil membuat jingga terkejut ketakutan. Ternyata salah satu penjaga yang yang ada diluar.


"Hai cantikk... " Katanya mendekat, dan membuat jingga berteriak minta tolong.


"Tak perlu takut..." lanjutnya lagi mencoba menyentuh kepala jingga.


"Tolonggg... ja.. jangan... sentuh... " katanya terbata ketakutan masih dengan memeluk dirinya.


"Jangan sentuhhhh!!!" teriak jingga yang tak dihiraukan oleh pria berbadan besar itu. Jingga menyentuh sesuatu yang ada dilantai didekatnya, sebuah batu.


"Jangan mendekat!!!" teriak jingga lagi dengan melayangkan batu yang ia genggam dalam genggamannya ke kepala pria berbadan besar itu.


Bhukkk... bunyi hantaman mengenai kepala pria tersebut.


"Aaa... sialan" kicaunya menyentuh kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.


Jingga semakin takut, ia sudah salah dengan memukul pria tersebut. Tampaknya, tidak, pria tersebut sangat marah terlihat dari wajahnya yang menggeram dan bola matanya melototi jingga layaknya ingin membunuh jingga saat itu juga.


"Aaa... " teriak pria berbadan besar itu sambil melayangkan tamparannya, namun terhenti.


"Cukup!" kata sebuah suara pria yang ada dibalik tubuh pria besar itu.


"Aku tak ingin dia terluka sedikitpun" lanjut pria yang ada dibelakang.


Pria berbadan besar, berbalik meninggalkan jingga yang masih menutup mata ketakutan disudut ruang.

__ADS_1


"Boss... " panggil pria berbadan besar itu.


"Keluar!" perintah pria tadi yang dipanggil bos. Lalu bos mereka mendekat kearah jingga, mengelus rambut jingga yang lembut, membuat jingga semakin takut. Tapi jingga mencoba membuka matanya ingin melihat sosok yang menyekapnya.


"Bi... bian... " panggilnya terbata. Bian hanya tersenyum menanggapi panggilan jingga.


"Kamu dalang semua ini?" tanya jingga tak percaya.


"See... " katanya angkuh.


"Aku menyesal mengenalmu. Cihh" kata jingga meludahi wajah bian yang memang tepat berada sejengkal dengan wajahnya.


Bian berdiri mengelap wajahnya dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari sakunya. Menatap jingga dengan tajam.


"Kamu hanya perlu menandatangani surat ini. Maka kamu bebas" ujar bian melempar sebuah map yang ia letakkan diatas sebuah kursi didekatnya.


" Aku gak akan tanda tangan apapun. Papa sama fajar pasti bakal tau aku dimana"


"And, are you sure mereka gak akan tahu hah?"


"Tanda tangan saja surat-surat itu" perintah bian tanpa mengubris perkataan jingga.


"Never!" balas jingga menantang.


"Jingga. Jujur, aku gak bisa nyakitin kamu. dan aku gak akan pernah bisa" ujar bian lemah.


"Aku tak berdaya jingga. Ini semua demi kebaikan kamu. Kalo kamu gak tanda tangan, ini gak akan pernah berakhir. Aku ingin kamu hidup bahagia dengan pilihanya" oceh bian menatap pilu jingga.


"Kamu gak perlu kasihani aku"


"Jingga, sekali lagi. Tanda tangan cepat!" perintah bian berteriak namun jingga masih tak mengubrisnya.

__ADS_1


Bhukk... bhuk... suara perkelahian dibalik pintu terdengar nyaring, dan membuat perhatian bian terkecoh. Jingga mengambil kesempatan itu dengan mendorong bian sekuat tenaga, hingga terduduk dilantai. Jingga yang bebas dari tali ikatan apapun, mencoba membuka pintu, namun tak berhasil. Pintu itu terkunci dari luar.


Bian bangun, menarik jingga duduk dikursi lalu merantainya disana. Meskipun jingga melawan meronta-ronta sekuat tenaga, ia takkan pernah bisa mengalahkan tenaga seorang lelaki yang lebih kuat darinya.


"Berhenti!" teriak seseorang yang berhasil masuk dengan mendobrak pintu.


"Angkat tangan" kata seorang pria menyodorkan pistolnya tepat dibelakang kepala bian. Bian langsung mengangkat tangannya, meletakkannya diatas kepala, sedikit demi sedikit ia berbalik.


"Fajar.... "teriak jingga memanggil fajar yang mengarahkan sebuah pistol kearah bian dari arah yang lain.


"Apa kabar putriku?" tanya herman yang sudah siap menekan pelatuk pistolnya dikepala bian.


"Besi kecil yang ada didalam sini dapat menebus kepalamu. Kamu mencoba bermain-main denganku. Kamu tahu siapa aku?" tanya herman dengan menekan ujung pistol ke kepala bian.


"Tangkap saja aku, tapi lepaskan papa" katanya menyerah.


"Kau menginginkan putriku?" tanya herman, dengan memberi kode ke fajar untuk melepaskan jingga.


Fajar melepaskan rantai yang meliliti tangan jingga. Anak buah herman yang lainnya sudah membekuk anak buah bian. Hanya saja, herman tak menemukan johan disana.


"Aku tak menginginkannya lagi" jawab bian melirik pergerakan fajar yang masih melepaskan jingga.


"Tidak perlu menjelaskannya disini. Kantor polisi sudah menunggumu" kata herman, memberi kode ke salah satu anak buahnya untuk memborgol dirinya.


Bian bukan tidak tahu apapun mengenai herman, papa jingga. Hanya saja, ia dan papanya meremahkan herman. Selain memiliki bisnis batu bara, herman juga punya akses dalam keamanan negara.


Fajar memeluk jingga. Jingga tampak trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ia memeluk fajar dengan erat. Herman mengelus wajah putrinya dengan tatapannya yang sendu.


Mereka membawa jingga keluar dari tempat itu. Fajar mengantar jingga pulang, sedangkan herman membawa bian ke kantor polisi. Ia sudah lebih dulu menghubungi salah satu temannya yang berposisi tinggi untuk menyambut kedatangan bian.


Holla guys! ❤ Dan like nya jangan lupa. eits! Jangan lupa share juga yaa 💃💃💃🤭

__ADS_1


Terima Kasih ❤


__ADS_2