Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Kenangan


__ADS_3

"*Ini adalah tempat favoritku... "


"Gak hanya tempat favorit kamu sayang, aku juga... "


"Yaudah, setiap pulang ke indonesia kita kesini selalu yah... "


"Ihh kamu manja banget yah... "


"Iyadong... aku mau disayang kamu selamanya" kata jingga sambil memeluk lengan seorang pria*.


*Jingga terlihat sangat bahagia bersama pria tersebut, ia takkan pernah melepaskan genggamannya.


Tok... tok...


suara ketukan terdengar begitu nyata...


tapi jingga mencari-cari suara tersebut, ia tak menemukannya, bahkan tak ada sebuah pintu pun yang dapat diketuk. Saat ini jingga berada di pantai bersama seorang pria, hanya ada ia dan dirinya*.


"*Jingga... " Sebuah suara yang tak asing memanggil dirinya, tak salah lagi itu suara ibunya.


"Tapi, mengapa mama ada disini?" pikirnya*.


"*Pergilah... ibumu memanggilmu" kata pria tersebut.


"Aku tak ingin pergi, aku ingin selalu bersamamu" pinta jingga.


"Tidak, ibumu memanggilmu. Pergilah"


"Tapi... "

__ADS_1


"Pergilah jingga. Aku selalu menyayangimu" ucap pria tersebut sambil mengecup kening jingga.


Tak lama kemudian, pria tersebut melepaskan pelukan tangan jingga di lengannya. Ia pergi meninggalkan jingga seorang diri, sampai jingga tak melihat sosok pria tersebut lagi dihadapannya*.


"Jingga... " Suara panggilan yang terdengar nyaring berulang kali terdengar.


Jingga bangun, mengusap matanya lalu melihat sekeliling. "Aku dikamar" gumamnya.


"Terasa nyata, meskipun hanya sebuah mimpi" Gumamnya sambil tersebut kecut, menahan genangan air mata yang berteriak ingin segera di keluar.


"Jingga... Bangun... " Suara yang diiringi ketukan dipintu tak henti-hentinya terdengar.


Jingga bangkit untuk membuka pintu, setelah ia membukanya, disana berdiri ibunya dengan wajah, kesal mungkin.


***


"Ayolah ma... Jingga lagi gak pengin kesana" Kata jingga memohon.


Mereka sekarang sedang duduk di ruang santai, ibunya sedang asik mengonta-ganti siaran televisi sedangkan jingga berwajah masam, sedang merajuk tak ingin memenuhi permintaan ibunya.


"Besok kamu harus mulai bekerja dikantor mama" perintah ibunya.


"Sesuatu yang dipaksakan gak akan pernah baik" Katanya.


"Mama gak maksa" balas ibunya dengan wajah seolah semua yang ia perintahkan tidak benar.


"Ahahaa Come on ma... aku tahu mama banget deh. Sekarang mama bilang gak maksa, tapi akhirnya jingga harus nurutin kan"


"Ahh udahlah ma. Jingga mau pergi dulu" kata jingga pamit, yang membuat ibunya melongo tak percaya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, mama belum selesai" kata ibunya untuk menghentikan jingga pergi, namun jingga tak mengubrisnya.


Jingga keluar berdiri didepan pintu, mencari seseorang yang bisa mengantarkannya.


"Kamu cari aku?" tanya bian yang tiba-tiba muncul entah darimana.


"ehh buset dah... " katanya was-was sambil menjaga jarak. " Kamu... ?" tanya jingga terkejut.


"Iyaa saya Fredik Fabian Landu. Kamu boleh panggil saya bian manis" katanya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.


"A.. paa...?" kata jingga terbata-bata.


"Aku bian" ulangnya lagi,kali ini tanpa embel-embel seperti sebelumnya.


"Ya... kamu ngapain disini?" tanya jingga tak percaya.


"Lahh, aku kerja disini" katanya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Bisa gak, gausah senyum hah!" kata jingga sedikit membentak.


"Kenapa sih kok aku senyum. Ada aja yang salah" gumamnya.


"Ngomong apa kamu?" tanya jingga.


"Bukan apa-apa. Jingga mau saya antar kemana?" tanyanya kembali sopan.


"Kamu supir disini?" tanya jingga tak percaya.


Bian mengangguk sebagai jawabannya, dengan tetap memperlihatkan senyumnya dan lesung pipinya. Membuat jingga harus berpaling tak ingin melihat senyum itu.

__ADS_1


"Baiklah. Antarkan aku. Nanti aku kasi tau kemana" kata jingga langsung berjalan menuju mobil yang sudah dibersihkan hingga terlihat mengkilap.


__ADS_2