Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Kesepakatan


__ADS_3

"Ma, hari ini aku bakal meeting dengan pemilik bangunan itu" kata jingga.


"Jam berapa?" tanya ibunya.


"Sekitar jam sebelasan bun" sahut jingga, sambil memberikan piring untuk sultan yang ikut sarapan bersama.


"Kamu pergi sama bian gak?" tanya ibunya lagi.


"Aku sendiri aja deh ma. Bian mau cari tahu tentang sultan"


"Ohya ma" sergah jinggah.


"Iyaa, kenapa?"


"Mama tahu bian itu dokter, kenapa mam biarin dia disini sebagai supir?"


"Itu permintaan dia" kata ibunya menjeda "Dan permintaan mama juga" sambungnya.


"Kamu udah dengar semua dari bian kan?" tanya ibunya.


"Sudah ma" kata jingga. "Semua itu mama lakuin untuk aku" sambungnya.


"Thanks ma" kata jingga tersenyum kearah ibunya.


"Mama cuman takut kamu gabut, gara-gara kehilangan fajar kamu lupa diri. Makanya mama minta bian untuk jaga kamu" jelas ibunya.


"Padahal mama gak usah gitu juga gak apa apa" kata jingga.


"Mama hanya takut sayang" kata ibunya dengan wajah sendu.


"Thanks ma" kata jingga lagi.


"Sultan, makan yang banyak yaa!"seru ibunya.


Sultan, anak yang mereka tabrak dengan tidak sengaja hari itu tinggal bersama mereka untuk saat ini, sampai bian menemukan keluarga anak tersebut.

__ADS_1


***


"Maaf mbak menunggu lama" ucap seseorang yang baru datang.


"Tidak apa-apa mbak. silahkan duduk" kata jingga mempersilahkannya duduk.


"Sepertinya kita pernah ketemu yaa?" tanya jingga heran.


"Iyakah mbak?"


"Ahh. Mbak ini yang gak sengaja saya tabrak dirumah sakit kan?" tanya jingga lagi.


"Oh iya iya. ingat saya sekarang!" serunya.


"Ahh. Maaf mbak. Saya sabina" katanya sambil menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.


"Saya Jingga" balas jingga menyambut uluran tangan sabina.


"Sabina apa yaa nama mbak?" tanya jingga penasaran.


"Tjut sabina" katanya sambil tersenyum.


"Maaf mbak" sela sabina.


"Ahh gak kok. Mau pesan dulu?" saran jingga.


"Nanti aja mbak"


Mereka membicarakan pembelian bangunan yang akan dibuat menjadi sebuah kafe oleh jingga. Pelunasan pembelian bangunan tersebut ditunda terlebih dahulu, sampai kakak dari sabina sembuh total. Sebelum itu, jingga boleh langsung merenovasi gedung itu untuk dibuat menjadi sebuah kafe, dengan berbagai perjanjian yang saling menguntungkan.


***


Tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Tak lama kemudian muncullah dia seorang gadis yang sedari tadi ditunggu fajar.

__ADS_1


"Bagaimana keputusannya?" tanya fajar tak sabaran.


"Bina minta dia langsung renovasi kalo mau buka kafe" kata sabina ketika ia sudah duduk dihadapan kakak tirinya, fajar.


"Kamu bisa diandalkan juga" kata fajar memuji.


"hhm" sahut sabina.


"Kakak sendiri? kak indah mana?" tanyanya beruntun.


"Jadi aku keliatan sama siapa disini?" tanya fajar acuh.


"Baiklah"


"Mbak jingga itu beneran bodoh" katanya tiba-tiba, yang dibalas tatapan tajam fajar.


"Jangan beraninya kamu" ancam fajar.


"Yaa dia memang bodoh. Tunangan yang paling dia cintai masih hidup, tapi tertipu oleh keluarga tunangannya sendiri"


"Tjut sabinaaa!" teriak fajar.


"Ohh selo kak" kata sabina menenangkan.


"Bukan hidup namanya kalo gak ada masalah. Ya kan?"


"Dan masalah itu dihadapi" sambung fajar.


"Dan dia sedang bersenang-senang diatas penderitaan kakak" ejeknya.


"Tjut sabina, jaga mulutmu!" teriak fajar masih memperingati.


"Ya yaa baiklah" katanya menyerah. Sabina bangkit dari duduknya menyerahkan beberapa berkas yang disepakati antara dirinya dan jingga kepada fajar, lalu ia pergi.


"Dia bahkan gatau aku masih hidup" kata fajar lirih. menghentikan langkah sabina.

__ADS_1


"Lebih baik dia tahu" sahut sabina singkat. lalu ia menghilang dibalik pintu meninggalkan fajar sendirian duduk diatas kursi roda dengan masih merenung.


"Tunggu aku sembuh jingga" gumamnya pada dirinya sendiri.


__ADS_2