
Sudah seminggu bian pulang. Jingga sedang menunggu bian datang ke kafenya. Kafe cukup ramai hari ini, mungkin karena akhir pekan. Jingga duduk disalah satu kursi disana, melihat kearah pantai, sesekali ia memperhatikan kearah pengunjung, apakah dilayani dengan baik oleh karyawannya, atau tidak.
"Siapa pemilik kafe ini?" tanya seorang pria kepada salah seorang karyawan disana.
"Mbak jingga mas" sahutnya sambil menunjukkan dimana jingga duduk.
Pria yang memakai pakaian santai, dan kacamata hitam itu berjalan kearah jingga. Ia berdiri sejenak dibelakang jingga sebelum menyapanya.
"Jingga..." panggil lembut seseorang dibaliknya, yang langsung memeluk jingga dari belakang.
"Hai... " jawab jingga sambil berdiri memeluk kembali pria tersebut.
"Maaf... "
Sebuah kata sederhana yang dilontarkan oleh bian mengangetkannya.
"Yaa... " jawabnya singkat.
"Maaf mas, apa mas udah order?" tanya jingga tiba-tiba yang berdiri berhadapan.
"Jingga... "gumam pria tersebut sambil melepaskan kacamata hitamnya.
Jingga terkejut, tak percaya. Ia mundur selangkah memegang lengan bian sebagai topang untuknya tetap dapat berdiri.
Bian memegang tangan jingga, membantunya tetap berdiri. Pria yang saat ini berada dihadapan mereka, memperlihatkan wajah tak sukanya pada bian yang menyentuh jingga.
"Tak ada yang boleh menyentuhnya!" teriaknya tiba-tiba sambil melepaskan tangan bian yang menyentuh jingga.
Jingga terkejut bukan main. Ia masih dengan wajah tak percayanya.
"Ka...mu... " kata jingga terbata-bata sambil menunjuk fajar.
"Hei! kamu ini siapa?" tanya bian kesal dengan sikap fajar.
"Sayang, kamu kenal dia?" tanya bian lembut.
__ADS_1
"Yaa jelaslah dia kenal aku. Aku ini tunangannya. kamu yang siapa?" balas fajar menyolot.
"A...paa" kali ini bianlah yang tak percaya. Ia melihat jingga, yang berdiri membatu seperti tak sadarkan diri. Kemudian, kembali melihat ke arah fajar, yang balas melihatnya dengan menantang.
"Jingga... aku gak tahu ini sebenarnya apa. Tolong jelasin ke aku. yang dia bilang barusan gak bener kan?" tanya bian meminta penjelasan jingga.
"A... ku... gak... tahu... " jawabnya terbata-bata, dengan masih menatap fajar lekat.
"Senja... " panggilan yang sudah lama tak ia dengar, kini terdengar kembali. yaa itu memang suara fajar yang memanggil jingga. Yaa suara yang selama ini jingga rindukan.
"Ohh tuhan. Aku tak percaya ini" kata jingga.
"Dia siapa jingga?" tanya bian tak sabar.
"Kamu, pergi dulu... kalo semuanya udah clear aku bakal hubungi kamu" jawab jingga. Jingga tak ingin bian mencampurinya. Ini adalah tentang dia dan fajar saja.
"Ok. Baik" Sahut bian. Lalu ia berlalu pergi meinggalkan mereka berdua disana.
Orang-orang yang melihat mereka, kini kembali sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
"Penipu!" kata jingga lantang dengan wajah berkaca-kaca.
Jingga pergi ketepi pantai, berjalan disana menyusuri pantai diikuti oleh fajar.
***
"*Bun, aku mohon jangan kasi tau jingga tentang keadaan aku gini" pinta fajar pada bundanya.
"Tapi nak, jingga itu tunanganmu" kata bunda.
"Gak bun. bunda harus janji gak kasi tau dia"
"Jika itu permintaanmu" kata bunda mengabulkan.
Seminggu setelah kecelakaan saat itu, fajar yang dirawat dirumah sakit dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Jingga tak percaya, hingga ia ingin melihatnya sendiri. Tapi keluarga fajar tak mengizinkannya.
__ADS_1
Jingga putus asa, ia mengurung dirinya dirumah sepanjang hari selama beberapa waktu. Sedangkan disisi lain, fajar masih dirawat di rumah sakit dan dinyatakan mengalami kelumpuhan pada kakinya, sehingga membutuhkan waktu untuk pulih.
"Bun, aku akan ke singapura besok untuk pengobatan" kata fajar tiba-tiba.
"Apa bunda perlu ikut nak?" tanya bundanya.
"Tentu saja, bunda adalah ibuku. Bunda harus menemani aku disana sampai sembuh yaa" pintanya.
"Baiklah" kata bundanya sambil tersenyum.
"Kemarin aku liat jingga keluar dari rumah sakit ini, dia sama anak kecil dan... " katanya menggantung ucapannya.
"dan...?" tanya bundanya.
"seorang pria. Tampak seperti sebuah keluarga yang bahagia" kata fajar melanjutkan.
"Bunda... aku masih sayang banget sama jingga. Dia belum menikah dengan sesiapa kan?" tanya fajar lirih.
Bundanya tak tahan melihat putranya dengan wajah tampak sedih.
"Jingga sudah mengembalikan cincin pertunanganan kalian" beritahu bunda.
"Apa?" sahut fajar terkejut.
"Iya. dia kembalikan. Tapi, bukan berarti dia sudah menikah" kata bunda.
"Hm begitu"
Mereka diam sejenak, fajar tampak berfikir sesekali ia melihat bundanya.
"Aku akan bisa jalan lagi. Dan mengambil kembali jingga" tekadnya.
"Baiklah. Semangat untuk sembuh nak"
setelah perbincangan mereka, dua hari kemudian fajar dan bundanya meninggalkan rumah sakit dan mengurus beberapa keperluan untuk pengobatan di singapura.
__ADS_1
Setelah lima bulan berada disana, ia kembali ke indonesia seorang diri. Sedangkan bundanya kembali minggu depan dengan dijemput oleh sepupunya indah.
Holla guys! Tolong kasi ❤ nya yang banyak-banyak hehe 💃💃💃