Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang
Rasa Penasaran


__ADS_3

Suara ketukan pintu mengejutkan jingga, ia bangun untuk membuka pintu melihat sosok yang berani membangunkannya.


"Mbak jingga, ayo sarapan mbak ibu udah nunggu di meja makan"


"Emang sekarang jam berapa bik?" tanya jingga dengan kepala disenderkannya di pintu.


"Sudah jam 7 lewat 5 mbak. Mbak lebih baik mandi secepat kilat mbak" kata bik inah dengan cemas.


"Kenapa bik? takut yah ibu marahin bik inah gegara aku?" tanya jingga dengan berdiri tengak seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Bukan gitu lo mbak. Mbak jingga jangan salah paham. Pokoknya cepat yaa mbak" kata bik inah memperingatkannya sekali lagi.


Bik inah pergi meninggalkan jingga yang masih berdiri di pintu kamarnya. Ia masih memikirkan resiko yang akan ia terima apabila ia telat mengikuti sarapan pagi bersama.


Setelah berfikir beberapa saat, ia kembali masuk ke kamarnya mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Ah aku lupa bilang bik inah, untuk bersihin kamarku" gumamnya pada dirinya sendiri.


Setelah menghabiskan hampir satu jam di dalam kamar, ia keluar menuju meja makan. Ia sudah melihat ibunya duduk dengan sebuah majalah ditangannya, namun wajah ibunya terlihat sangat kesal.


"Udah bangun? kirain gak akan bangun lagi" kata ibunya mengejek masih dengan membolak balik halaman majalah.


"Jingga memang harus bangun ma, biar kuat menghadapi kenyataan" kata jingga mantap, sambil mengambil piring untuk mengisi nasi goreng yang sudah dibuat oleh bik inah.


Ibunya hanya diam saja, tak menanggapi ucapan jingga. Ia hanya memperhatikan jingga makan dengan lahap dari sudut matanya, sambil berpura pura masih membaca majalah.


"Mama tau ini semua berat untuk jingga" kata ibunya sambil meletakkan majalah yang sedari tadi ia baca diatas meja.

__ADS_1


"Hm.. " Jingga mendehem sebagai sebuah tanggapan untuk ucapan ibunya.


"Jingga sayang... " panggil ibunya lembut, dengan menatap sendu putrinya itu.


"Mah, makan dong. Bik inah udah masak loh, mama kok liatin aja sih" kata jingga mengalihkan pembicaraan.


"Jingga sayangku, mama minta maaf yah. Jingga maafin mama gak?" pinta ibunya.


"Ma..." jingga mengantung ucapannya.


"Gak ada yang harus dimaafkan, gak ada yang salah. Semua ini sudah takdir tuhan" lanjut jingga menjelaskan.


"Gak, mama salah sayang. Selama ini mama salah, mama gak punya waktu untuk putri mama sendiri. untuk itu mama minta maaf" mohon ibunya lagi, sambil mengenggam tangan putrinya.


"Ma, udahlah gak usah dibahas!" Kata jingga dengan lantang sambil berdiri dari duduknya.


"Tunggu! Mama gak pernah ajarin jingga untuk bicara seperti ini!" balas ibunya dengan suara yang tak kalah lantangnya.


"Kamu tahu kesalahan kamu hah? Bangun suka-suka kamu, pulang suka-suka kamu. Sekarang duduk kembali dan habiskan sarapan kamu!" lanjut ibunya dengan tegas.


Jingga tak menghiraukan peringatan ibunya, ia tetap melangkahkan kakinnya kembali masuk ke kamarnya.


***


Disisi lain, bik inah sedang mengintip dari dapur.


"Ya ampun mbak jingga. Semoga hari ini mood ibu gak buruk" gumam bik inah.

__ADS_1


"Bik, bik inah barusan bilang apa?" tanya bian yang muncul dari belakang.


"Ehh kamu, ngangetin bibik aja" kata bik inah dengan terkejut sambil memukul kecil bian.


"Bik inah bilang apa barusan? trus lagi ngeliatin apaan" tanya bian semakin penasaran.


"Bukan apa-apa" kata bik inah tak ingin memberi tahu, lalu bik inah bergegas melanjutkan mengerjakan pekerjaan yang tertunda.


"Bik aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya bian minta izin, takut-takut ia salah bicara.


"Mau tanya apa, kalo bibik bisa jawab yaa bibik jawab. Kalo gak, gak yaa" katanya.


"Itu yang namanya Jingga, putri ibu yang punya ini rumah?"


"Iya... "


"Trus kenapa baru keliatan bik?"


"Dia baru selesai belajar. Dulu dia di kuala lumpur, baru beberapa bulan aja balik kesini, itupun permintaan ibunya. Kamu dengar yaa, kamu itu gak selevel dengan mbak jingga, jangan coba-coba deketin mbak jingga yaa" Jelas bik inah memperingatkan bian.


"Lah, aku kan gak bilang gitu. Dan... " kata bian menggantung ucapannya.


"Dan apa...?" tanya bik inah.


"Gak ada bik hehe... " jawab bian dengan cengengesannya.


"Aku gak level sama dia? Dia kali gak level sama aku" batin bian sambil berlalu meninggalkan dapur.

__ADS_1


Jingga mengurung dirinya kembali di dalam kamar. Sedangkan ibunya mencoba menahan amarah agar putrinya tak pergi lagi dari sisinya.


__ADS_2